MIN MIN 2 Kulon Progo Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kulon Progo Admin

Kurikulum 2026/2027

Intrakurikuler

INTRAKURIKULER

Model Pembelajaran Intrakurikuler

Kegiatan intrakurikuler berisi pembelajaran yang muatan mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (mulok).

Kegiatan pembelajaran intrakurikuler untuk setiap mata pelajaran dirancang agar anak dapat mencapai kemampuan yang tertuang di dalam Capaian Pembelajaran (CP). Berdasarkan KMA Nomor 1503 Tahun 2025 tentang implemantasikan Kurikulum pada Madrasah. Dengan tuntutan kompetensi abad-21. Kegiatan pembelajaran intrakurikuler dan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan sebagai satu kesatuan, bahkan memungkinkan diselenggarakan lintas mata pelajaran.

Kegiatan intrakurikuler yang dilaksanakan MIN 2 Kulon Progo meliputi mata pelajaran :

Al-Qur’ah Hadits

Akidah Akhlak

Sejarah Kebuayaan Islam

Fiqih

Bahasa Arab

Pendidikan Pancasila

Bahasa Indonesia

Matematika

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan

Seni dan budaya (Seni Rupa)

Bahasa Inggris

Muatan lokal (Bahasa Jawa)

Sistem Pembagian Waktu Intrakurikuler

Pengorganisasian pembelajarn intrakurikuler di MIN 2 Kulon Progo menngunakan sistem reguler. Pola pembelajaran rutin, artinya pelaksanaan pembelajatran terjadi setiap minggu. Alokasi waktu menyesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia per tahun merujuk pada struktur kurikulum.

Pengorganisasian Pembelajaran Intrakurikuler

Intrakurikuler adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang ditempuh Murid. Adapun mata pelajaran yang diselenggarakan oleh di MIN 2 Kulon Progo adalah Pendidikan Agama (Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih), Bahasa Arab, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), Mapel Pilihan (Seni Budaya dan Prakarya), Bahasa Inggris, Mapel Pilihan (Seni Budaya dan Prakarya) serta Mata Pelajaran muatan lokal (Bahasa Jawa)

Muatan lokal merupakan bahan kajian pada madrasah yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksud untuk membentuk pemahaman Murid terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya. Strategi pelaksanaan pembelajaran Bahasa Jawa sesuai dengan Peraturan Gubernur D.I.Yogyakarta Nomor 64 Tahun 2013 yaitu 2 jam pelajaran per minggu dengan berbasis pada budaya, tata nilai, dan kearifan lokal yang berkembang di lingkungan masyarakat untuk menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pembelajaran Bahasa Jawa di ajarkan dengan memperhatikan aspek pragmatik, atraktif, rekreatif, dan komunikatif. Pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan supaya Murid memiliki kemampuan dan ketrampilan berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut dengan baik dan benar, secara lisan maupun tulisan serta menumbuhkembangkan apresiasi terhadap hasil karya sastra dan Budaya Jawa.

Pembelajaran di MIN 2 Kulon Progo menekankan pada pembelajaran berbasis literasi dengan mengangkat nilai luhur budaya lokal dan mengacu pada tema-tema yang sudah ditentukan dalam capaian pembrelajaran. Dalam pembelajaran berbasis literasi ini Murid diharapkan mampu untuk mengkreasikan ide/gagasan unbtuk memperoleh sebuah karya dalam bentuk tulisan. Pada akhirnya karya ini akan didokumentasikan dalam berbagai bentuk contohnya buku, artikel, atau publikasi digital.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran berbasis literasi ini tetap harus mengimplementasikan model dan sintaks pembelajaran yang sudah ada di antaranya Problem Based Learning, Project Based Learning, Discovery Learning, Inquiry Based Learning, dan model pembelajaran lain yang relevan.

Struktur Kurikulum Madrasah

Struktur kurikulum madrasah disesuaikan dengan kelas. Alokasi waktu setiap kelas berbeda setiap minggunya. Adapun dasar untuk menetapkan struktur kurikulum di MIN 2 Kulon Progo merujuk pada Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1503 Tahun 2025 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Raudhtul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan. Adapun pengorganisasian pembelajaran di MIN 2 Kulon Progo dijelaskan sebagai berikut.

Pengorganisasian Pembelajaran untuk Fase A (Kelas I)

Penerapan masing-masing mata pelajaran dalam pembelajaran menggunakan sistem reguler.

Semua mata pelajaran pada fase A diintegrasikan dengan Delapan Profil Lulusan dan Panca Cinta Madrasah.

Penerapan Projek Kokurikuler .

Total alokasi waktu satu minggu yaitu 36 jam pelajaran.

Tabel 1. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas I (Asumsi 1 Tahun=36 minggu dan 1 JP=35 menit)

Mata PelajaranAlokasi Intrakurikuler Per TahunAlokasi P5RA Per TahunTotal JP Per Tahun
Al-Qur’an Hadis7236108
Akidah Akhlak72-72
Fikih72-72
Bahasa Arab72-72
Pendidikan Pancasila14436180
Bahasa Indonesia25236288
Matematika144-144
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan108-108
Seni dan Budaya*) Seni Musik Seni Rupa Seni Teater Seni tari108-108
Total JP Muatan Pelajaran Wajib1.0441081.152
Muatan Lokal**) Bahasa Jawa Tahfidz72 7272 72
Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal1.1881081.296

Keterangan:

*) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Murid memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari)

**) Paling sedikit 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun dan paling banyak 216 (dua ratus enam belas) sebagai mata pelajaran pilihan.

Pengorganisasian Pembelajaran untuk Fase A (Kelas II)

Penerapan masing-masing mata pelajaran dalam pembelajaran menggunakan sistem reguler.

Semua mata pelajaran pada fase A diintegrasikan dengan projek penguatan Profil Lulusan dan Panca Cinta Madarasah.

Penerapan Projek Kokurikuler

Total alokasi waktu satu minggu yaitu 38 jam pelajaran.

Tabel 1. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas II (Asumsi 1 Tahun=36 minggu dan 1 JP=35 menit)

Mata PelajaranAlokasi Intrakurikuler Per TahunAlokasi P5RA Per TahunTotal JP Per Tahun
Al-Qur’an Hadis7236108
Akidah Akhlak72-72
Fikih72-72
Bahasa Arab72-72
Pendidikan Pancasila14436180
Bahasa Indonesia25236288
Matematika144-144
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan108-108
Seni dan Budaya*) Seni Musik Seni Rupa Seni Teater Seni tari108-108
Total JP Muatan Pelajaran Wajib1.1161081.224
Muatan Lokal**)
Bahasa Jawa7272
Tahfidz7272
Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal1.2601081.368

Keterangan:

*) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Murid memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari)

**) Paling sedikit 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun dan paling banyak 216 (dua ratus enam belas) sebagai mata pelajaran pilihan.

Pengorganisasian Pembelajaran untuk Fase B (Kelas III dan IV) dan Fase C (Kelas V)

Penerapan masing-masing mata pelajaran dalam pembelajaran menggunakan sistem reguler.

Semua mata pelajaran pada fase B (Kelas III – IV) dan fase C (Kelas V) diintegrasikan dengan penguatan Profil Lulusan dan Panca Cinta Madrasah.

Penerapan Projek Kokurikuler.

Total alokasi waktu satu minggu yaitu 45 JP.

Tabel 1. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III - IV (Asumsi 1 Tahun=36 minggu dan 1 JP=35 menit)

Mata PelajaranAlokasi Intrakurikuler Per TahunAlokasi Kokurikuler Per tahunTotal JP Per Tahun
Al-Qur’an Hadis72-72
Akidah Akhlak72-72
Fikih7236108
Sejarah Kebudayaan Islam72-72
Bahasa Arab72-72
Pendidikan Pancasila144-144
Bahasa Indonesia21636252
Matematika180-180
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial18036216
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan108-108
Seni dan Budaya*) Seni Musik Seni Rupa Seni Teater Seni tari108-108
Bahasa Inggris72-72
Total JP Muatan Pelajaran Wajib1.3681081.476
Muatan Lokal**)
Bahasa Jawa72-72
Tahfidz72-72
Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal1.5121081.620

Tabel 1. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas IV

(Asumsi 1 Tahun=36 minggu dan 1 JP=35 menit)

Mata PelajaranAlokasi Intrakurikuler Per TahunAlokasi Kokurikuler Per tahunTotal JP Per Tahun
Al-Qur’an Hadis72-72
Akidah Akhlak72-72
Fikih7236108
Sejarah Kebudayaan Islam72-72
Bahasa Arab72-72
Pendidikan Pancasila144-144
Bahasa Indonesia21636252
Matematika180-180
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial18036216
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan108-108
Seni dan Budaya*) Seni Musik Seni Rupa Seni Teater Seni tari108-108
Bahasa Inggris72-72
Koding72-72
Total JP Muatan Pelajaran Wajib1.4401081.548
Muatan Lokal**)
Bahasa Jawa72-72
Tahfidz72-72
Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal1.5841081.692

Keterangan:

*) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Murid memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari)

**) Paling sedikit 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun dan paling banyak 216 (dua ratus enam belas) sebagai mata pelajaran pilihan.

Pengorganisasian Pembelajaran untuk Fase C (Kelas VI)

Penerapan masing-masing mata pelajaran dalam pembelajaran menggunakan sistem reguler.

Semua mata pelajaran pada fase B (Kelas III – IV) dan fase C (Kelas V) diintegrasikan dengan . dengan penguatan Profil Lulusan dan Panca Cinta Madrasah

Penerapan Projek Kokurikuler.

Total alokasi waktu satu minggu yaitu 47 JP.

Tabel 1. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas VI (Asumsi 1 Tahun=32 minggu dan 1 JP=35 menit)

Mata PelajaranAlokasi Intrakurikuler Per TahunAlokasi Kokurikuler Per TahunTotal JP Per Tahun
Al-Qur’an Hadis64-64
Akidah Akhlak6436100
Fikih64-64
Sejarah Kebudayaan Islam64-64
Bahasa Arab64-64
Pendidikan Pancasila128-128
Bahasa Indonesia19232224
Matematika160-160
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial160-160
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan9632128
Seni dan Budaya*) Seni Musik Seni Rupa Seni Teater Seni tari96-96
Bahasa Inggris64-64
Koding64-64
Total JP Muatan Pelajaran Wajib1.216961.312
Muatan Lokal**)
Bahasa Jawa64-
Tahfidz64-
Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal1.344961.440

Keterangan:

*) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Murid memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari)

**) Paling sedikit 64 (enam puluh empat) JP per tahun dan paling banyak 192 (seratus enam belas) sebagai mata pelajaran pilihan.

KOKURIKULER

Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter. Kompetensi yang dimaksud adalah delapan dimensi profil lulusan, yaitu: 1) keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; 2) kewargaan; 3) penalaran kritis; 4) kreativitas; 5) kolaborasi; 6) kemandirian; 7) kesehatan; dan 8) komunikasi. Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter.

Dalam kegiatan kokurikuler juga ditanamkan karakter Panca Cinta Madrasah yang meliputi : 1) Cinta kepada Tuhan (Allah SWT) dan Rasul-Nya, 2) Cinta kepada ilmu, 3) Cinta kepada diri dan sesama, 4) cinta kepada lingkungan, 5) cinta kepada bangsa dan negeri (Tanah Air)

Kegiatan kokurikuler dilaksanakan secara terencana, terstruktur dengan tujuan utama membentuk Profil Lulusan yang komprehensif, mengembangkan kom petensi esensial, serta memfasilitasi minat dan bakat murid melalui pembelajaran serta memfasilitasi minat dan bakat murid melalui pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui kokurikuler, murid akan memperoleh pengalaman belajar untuk memahami, mengaplikasikan. Kegiatan kokurikuler diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama yang dapat dipilih dan dikembangkan oleh satuan pendidikan sesuai dengan karakteristik murid dan konteks satuan pendidikan. Ketiga bentuk utama kokurikuler adalah:

Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu

Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin merupakan kegiatan kokurikuler yang mengintegrasikan dua atau lebih mata pelajaran/muatan pembelajaran dalam satu tema yang relevan dengan kehidupan nyata murid.

Tujuannya adalah membantu murid melihat keterkaitan antarilmu sebagai upaya mengembangkan delapan dimensi profil lulusan serta memperdalam pemahaman melalui pengalaman kontekstual.

Tema yang akan digunakan dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dengan didasarkan pada hasil analisis potensi dan kebutuhan satuan pendidikan serta dimensi profil lulusan yang perlu ditingkatkan.

Kegiatan Kokurikuler melalui Gerakan 7KAIH

Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) berbasis kebiasaan dan pembelajaran mendalam yang mengedepankan pembelajaran penuh kesadaran (meaningful learning), bermakna (mindful learning), dan menyenangkan (joyful learning). Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi: 1) Bangun pagi; 2) Beribadah; 3) Berolahraga; 4) Makan sehat dan bergizi; 5) Gemar belajar; 6) Bermasyarakat, dan 7) Tidur Cepat. Sebagai kegiatan kokurikuler, G7KAIH bukan sekedar ajakan moral atau slogan harian, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang perlu dirancang melalui identifikasi kebutuhan, tujuan yang jelas, langkah pelaksanaan yang sistematis, pendampingan, dan asesmen untuk merefleksikan perubahan kebiasaan dan sikap murid.Implementasi 7KAIH dapat dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas yang menggembirakan, seperti jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, turun ke lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat atau tokoh agama, riset, hingga aksi kolaboratif antar kelas atau tingkat.

Kegiatan Kokurikuler melalui cara lainnya

Bentuk kegiatan kokurikuler dalam kategori cara lainnya berupa kegiatan kokurikuler ciri khas satuan pendidikan berbasis konteks lokal dan kegiatankegiatan berbasis nilai-nilai satuan pendidikan, dan kegiatan satu disiplin ilmu yang dalam aktivitasnya terjadi kolaborasi beragam keilmuan dan keahlian.

Dalam hal ini, satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan bentuk kegiatan kokurikuler lain yang sesuai dengan nilai-nilai satuan pendidikan, potensi satuan pendidikan, kebutuhan murid, dan konteks lokal, sepanjang kegiatan tersebut memenuhi kriteria kokurikuler.

Bentuk kegiatan kokurikuler “cara lainnya” ini mengakui bahwa setiap satuan pendidikan memiliki identitas, konteks, dan kekuatan unik yang patut diangkat dan menjadi sumber belajar.

Asesmen dalam kegiatan kokurikuler:

Asesmen formatif dilakukan selama proses kegiatan berlangsung. Tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik yang bersifat membangun, membantu murid merefleksikan pembelajarannya, dan memberikan informasi bagi guru untuk menyesuaikan strategi pembelajaran.

Contoh bentuk asesmen formatif diantaranya jurnal refleksi harian murid, observasi keterlibatan murid, tanya-jawab terbuka, umpan balik teman sebaya, penilaian diri, dan bentuk lainnya,

Asesmen sumatif dilakukan pada akhir kegiatan kokurikuler untuk melihat sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai. Asesmen ini mencakup hasil akhir yang dihasilkan murid, baik berupa karya, aksi, maupun presentasi. Contoh bentuk asesmen sumatif dengan teknik penilaian kinerja berupa poster kampanye yang dibuat murid dalam proyek kolaboratif, presentasi akhir proyek kokurikuler, laporan pengamatan atau refleksi tertulis, produk berbasis kebudayaan lokal (dalam bentuk karya seni, video, atau pertunjukan), lembar penilaian kebiasaan (dalam G7KAIH) berdasarkan catatan harian, dan bentuk penilaian lainnya. Asesmen kokurikuler mengacu pada alur perkembangan Delapan Dimensi Profil Lulusan.

ESKTRAKURIKULER

Kegiatan kurikuler ini yang dilakukan di luar jam belajar di bawah bimbingan dan pengawasan madrasah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama dan kemandirian Murid secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Kegiatan ekstrakurikuler di MIN 2 Kulon Progo dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:

Ekstrakurikuler wajib:

Ekstrakurikuler yang sifatnya wajib meliputi Pramuka dan Tahfidz.

Kepramukaan, bertujuan untuk melatih murid agar terampil dan mandiri, menanamkan sikap peduli terhadap orang lain, melatih agar mampu bekerja sama dengan orang lain, menanamkan sikap disiplin, menumbuhkan rasa percaya diri.

Tahfidz AlQur’an Juz 30 : menumbuhkan rasa cinta pada alqur’an, berahklaqul karimah, bisa menghafal alqur,an dengan tajwid yang benar, diharapkan setelah lulus dari MIN 2 Kulon Progo hafal Juz 30.

Ekstrakurikuler pilihan

Ekstrakurikuler yang dipilih oleh anak maupun atas arahan guru adalah: Qiro’ah Drumband, Karawitan, Kempo, Batik, UKS, Hadroh, dan olimpiade

Drumband : bertujuan mengembangkan dan megekspresikan diri murid dalam memainkan alat musik, memelihara dan meningkatkan pengetahuan seni musik melalui kegiatan yang dilaksanakan, menempung dan mewadahi murid yang berbakat dalam seni musik.

Qiro’ah/TPA (Seni Baca Al Qur’an), bertujuan untuk menumbuhkan apresiasi (penghargaan) murid terhadap seni budaya Islami, memupuk bakat dan minat murid di bidang seni baca Al Qur’an, menumbuhkan rasa percaya diri. Ruang lingkupnya adalah keterampilan seni membaca Al Qur’an.

Karawitan ; bertujuan agar murid memiliki ketrampilan karawitan, melatih kerjasama tim, serta memiliki kedisiplinan tinggi.

Kempo : pelajaran ini bertujuan untuk membangun pendidikan karakter bushido / kesetiaan kepada Murid yaitu :

Kenshi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Cinta tanah air

Berani membela kebenaran dan keadilan

Sehat jasmani dan rohani

Mampu menguasai diri

Bela diri

Batik; pelajaran ini bertujuan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kerajinan tradisional khas Indonesia, menumbuhkan kratifitas, serta menggali potensi yang ada pada diri murid.

Olimpiade; pelajaran ini memiliki tujuan menumbuhkan pengetahuan dan ketrampilan murid dalam menghadapi soal-soal yang berkaitan dengan olimpiade baik Matematika maupun Ilmu Pengetahuan alam, sehingga murid mampu bersaing dengan murid sekolah lain ketika ikut lomba.

Usaha Kesehatan Sekolah merupakan pembekalan pada Murid untuk upaya kesehatan pribadi dan orang lain serta peduli kesehatan lingkungan

Hadroh bertujuan meningkatkan dan menggali kreatifitas dan potensi seni murid

Jadwal Ekstrakurikuler Wajib

NoKegiatanSasaran/KelasHariWaktu
1Pramuka
Model BlokI-VISenin , selasa Rabu (3 hari pertama Masuk Sekolah) atau hari yang lain di awal tahun pelajaran18 Jam pelajaran
Model AktualisasiI-VIJumat120 Menit
Model regulerPeminat / kelas III - VSenin120 menit

Model Blok

Sistem Model Blok dilaksanakan dengan cara

Diikuti oleh seluruh murid.

Dilaksanakan pada setiap awal tahun pelajaran.

Untuk SD/MI dilaksanakan selama 18 Jam.

Penanggung jawab kegiatan adalah Kepala Sekolah selaku Ketua Mabigus.

Pembina kegiatan adalah Guru Kelas/Guru Mata pelajaran selaku Pembina Pramuka dan/atau Pembina Pramuka serta dapat dibantu oleh Pembantu Pembina (Instruktur Muda/Instruktur Pramuka)

Model Aktualisasi

Sistem Model Aktualisasi dilaksanakan dengan cara

Diikuti oleh seluruh murid.

Dilaksanakan setiap satu minggu satu kali.

Setiap satu kali kegiatan dilaksanakan selama 120 menit

Model Reguler.

Diikuti oleh murid yang berminat mengikuti kegiatan Gerakan Pramuka di dalam Gugus Depan.

Pelaksanaan kegiatan diatur oleh masing-masing Gugus Depan

Tabel 12

Jadwal Ekstrakurikuler Pilihan

NoKegiatanSasaran/KelasHariWaktu
1PramukaIV-VISenin14.00-15.30
2TPA / TahfidzI-VIKamis, JumatSesudah KBM
3BatikIII-VRabu14.00-15.30
4KempoIII-VISabtu08.00-10.00
5HadrohIV-VISabtu08.00-10.00
6OlimpiadeIII-VIRabu14.00-15.30
7Qiro’ahIV-VKamis14.00-15.30
8Tahfidz/PembiasaanI-VISetiap hariSebelum KBM
9KerawitanIII-VSelasa14.00-15.30
10Seni TariI – IISelasa, Rabu13.00-14.00
11DrumbandIII – VIJumat14.00 – 16.00

KEGIATAN PEMBIASAAN

Kegiatan pembiasaan ditumbuhkan melalui kegiatan rutin, spontan, dan keteladanan yang baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sedangkan pembiasaan melalui kegiatan terprogram dilaksanakan secara bertahap disesuaikan dengan kalender pendidikan, semua guru berpartisipasi aktif dalam membentuk watak, kepribadian dan kebiasaan positif. Peran guru dan tenaga kependidikan dalam hal ini memberikan bimbingan dan keteladanan, arah pengembangan kebiasaan Murid dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus mengkoordinir penilaian prilaku mereka melalui pengamatan guru-guru terkait.

Kegiatan pembiasaan dilaksanakan secara rutin, baik harian, mingguan, bulanan dan tahunan, dan tehnik pelaksanaannya ada yang terstruktur dan tidak terstruktur atau spontan berupa direct dan indirect learning, yang bertujuan melatih dan membimbing Murid bersikap dan berperilaku dengan menananmkan nilai-nilai karakter baik sehingga menjadi habituasi yang terinternalisasi dalam hati dan jiwa Murid.

Berikut adalah Aktualiasasi kegiatan pembiasaan yang dibudayakan di MIN 2 Kulon Progo di antaranya seperti yang tercantum dalam tabel:

Kegiatan Pembiasaan di MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 20226/2027

Kegiatan HarianKegiatan MingguanKegiatan Tahunan
Penyambutan murid Doa sebelum dan sesudah belajar 5S Sholat Dhuhur secara berjamaah Lisa ( lihat sampah ambil)Upacara Bendera Doa sehari-hari Tartil Al-Qur’an Infaq Shodaqoh Senam bersama Jubes ( Jum’at Bersih )Harlah MIN 2 Kp Hari Santri PHBI Hari olahraga Hari Kemri

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Pembiasaan di MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027

HariUraian Kegiatan Pembiasaan HarianPenanggung Jawab
SeninNasionalis Murid melaksanakan upacara rutin, menyanyikan lagu-lagu nasional, berlatih berbaris, bersalaman dengan guru. Tujuan: untuk menanamkan jiwa nasionalisme, ketertiban, dan menumbuhkan sikap hormat terhadap guruYuli Supriyanto, S.Psi
SelasaLiterasi Murid secara mandiri membaca buku di dalam kelas selama 10 menit. Tidak hanya membaca buku, tetapi Murid juga mampu menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri dan makna yang terkandung dalam isi buku yang telah dibaca.Fitri Asmawati, M.Pd
RabuLiterasi Alqur’an Murid secara mandiri Tadarus Alqur’an selama 10 Menit, Dan bertujuan membiasakan untuk tadarus Alqur’anUmi Khoirul Bariyyah, S.Pd.I
KamisSholat Dhuha Murid melaksanakan kegiatan rutin sholat Dhuha bersama dan menghafalkan doa sehari-hari dan di akhiri dengan bersalaman dengan guru untuk menumbuhkan jiwa menghargai dan kasih sayang.Saswita, S.Pd.I
Jum’atJum’at Bersih (jubes) Membiasakan hidup bersih dan cinta Lingkungan Jum’at Pertama Senam bersama Gosok gigi bersama Jum’at Kedua Senam Bersama Kerja bakti Kebun Madrasah Kerja bakti Kelas masing- masing Jum’at Ketiga Senam bersama Cek kuku dan rambut murid Jum’at Ke empat Senam bersama Kerja bakti lingkungan Madrasah Jum’at Infak Murid melaksanakan Infak secara mandiri Menanamkan Nilai kepedualian sosialWali Kelas 1-6

PROGRAM KHUSUS

Program Adiwiyata

Program adiwiyata dan sekolah sehat di MIN 2 Kulon Progo dilakukan melalui 4 bidang dalam tim lingkungan, yaitu:

Bidang Kebijakan

Membentuk Tim Adiwiyata.

Menentukan kebijakan penentuan hari bersih lingkungan dan PSN yaitu program “Jum’at Sehat”.

Melakukan pengecekan kesehatan secara berkala (screening kesehatan).

Membuat Kebun Madrasah ( Tanaman obat keluarga dan sayuran)

Melakukan monitoring secara berkala makanan yang dijual di kantin.

Bidang Kurikulum

Mengintegrasikan perilaku ramah lingkungan hidup ke dalam P5RA terutaman dalam penyusunan modul.

Mengintegrasikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam mata pelajaran tertentu.’

Bidang Partisipasi

Melakukan kampanye dan gerakan cinta lingkungan hidup melalui program: karnaval, bersih lingkungan, penanaman pohon, dan gerakan pilah pilih sampah.

Mengajak masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan Jumat bersih.

MoU dengan DLH, puskesmas, bank sampah, dan pihak-pihak lain.

Melakukan kegiatan kreasi sampah (ekonomi kreatif), memilah sampah (bank sampah), dan mengelola sampah (kompos).

Bidang Sarana dan Prasarana

Sarana pilah sampah

Sarana Green House dan tanaman bibit dan inventarisasi pohon .

Slogan hemat air dan hemat listrik.

Mengelola makanan dan kantin sehat.

Penghematan penggunaan ATK(untuk mengurangi sampah kertas). Adapun perilaku ramah lingkungan hidup terintegrasi di MIN 2 Kulon

Progo diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai sebagai berikut:

Peduli lingkungan

Memiliki fokus perhatian terhadap suatu tempat suatu makhluk hidup itu tumbuh yang meliputi unsur-unsur penting seperti tanah, air, dan udara, yang memiliki arti penting dalam kehidupan setiap makhluk hidup, manusia berada dan memengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya, yang mencakup lingkungan hidup alami, lingkungan hidup binaan atau buatan dan lingkungan hidup budaya atau sosial. Permasalahan lingkungan madrasah khususnya yang meliputi masalah sampah, air, tanaman, kantin, parkir dan energi; serta permasalahan lingkungan di lingkup masyarakat yang lebih luas.

Sadar Lingkungan

Memiliki pengertian yang mendalam yang terwujud dalam pemikiran, sikap, dan tingkah laku yang mendukung pengembangan lingkungan dengan titik berat pada permasalahan lingkungan madrasah khususnya yang meliputi masalah sampah, air, tanaman, kantin, parkir dan energi; serta permasalahan lingkungan di lingkup masyarakat yang lebih luas.

Cinta Lingkungan

Mencintai bumi sebagai tempat tinggalnya, dengan menjaga sumberdaya alam dan kelestariannya dengan titik berat pada permasalahan lingkungan madrasah khususnya yang meliputi masalah sampah, air, tanaman, kantin, parkir dan energi; serta permasalahan lingkungan di lingkup masyarakat yang lebih luas.

Program Perilaku Ramah Lingkungan Hidup (PLH) di MIN 2 Kulon Progo antara lain diselenggarakan melalui kegiatan-kegiatan dan strategi, adalah sebagai berikut:

Penegakan Tata Tertib Madrasah melalui bimbingan gaya hidup green and clean, setiap guru dan pegawai mempunyai kewajiban memberi contoh, mengarahkan dan menegur murid untuk membuang sampah pada tempatnya, pemberlakuan sanksi (seperti membersihkan lingkungan madrasah) bagi warga madrasah yang tidak tertib menempatkan sampah pada tempatnya, sosialisasi penegakan disiplin, dan perilaku green and clean.

Pemeliharaan Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan Madrasah, melalui kegiatan: optimalisasi piket kelas, petugas piket kelas selain menjaga kebersihan kelas juga merawat tanaman yang ada di depan dan sekitar lingkungan kelasnya.

Penghijauan lingkungan madrasah melalui wakaf tanaman bagi madrasah, gerakan pemeliharaan taman kelas dan sekitarnya serta pengelolaan green house untuk kepentingan proses PBM.

Pengelolaan sampah madrasah dengan kegiatanpemilahan sampah di kelas, melalui program zero waste, penimbangan sampah reuse, operasionalisasi Bank Sampah, pelatihan pembuatan hasta karya dari sampah reuse, pameran hasil karya dan pembuatan galeri daur ulang sampah, meminimalkan penggunaan plastik atau barang yang tidak bisa didaur ulang (reduce), misalnya dengan membawa tempat makanan dan minuman sendiri.

Integrasi indikator-indikator PRLH dalam semua mata pelajaran.

Lomba kebersihan kelas dan lingkungannya yang dilaksanakan secara berkala.

Program Olah Raga

Ekstrakurikuler Bulu Tangkis Tujuan:

Mengembangkan minat dan bakat murid dalam cabang olahraga bulu tangkis

Melatih keterampilan dasar seperti servis, smash, footwork, dan ketahanan fisik

Meningkatkan sportivitas, konsentrasi, dan kerja sama

Pelaksanaan:

Dilaksanakan setiap hari Rabu pukul 14.00–15.30 WIB

Peserta dari kelas 3 hingga 6 yang berminat dan lolos seleksi awal

Dibimbing oleh guru olahraga dan pelatih dari luar Madrasah (bila memungkinkan)

Disiapkan untuk mengikuti turnamen tingkat kecamatan/kabupaten

Ekstrakurikuler Tenis Meja Tujuan:

Melatih konsentrasi, kecepatan reaksi, dan koordinasi mata–tangan murid

Menumbuhkan semangat berkompetisi dan pengendalian emosi dalam permainan

Mewadahi murid yang memiliki minat di olahraga dalam ruang (indoor)

Pelaksanaan:

Dilaksanakan setiap hari Kamis pukul 14.00–15.30 WIB

Bertempat di aula sekolah dengan peralatan tenis meja milik madrasah

Peserta dari kelas 3 ke atas, dibagi menjadi kelompok dasar dan lanjutan

Diadakan kompetisi internal tiap semester sebagai ajang evaluasi dan motivasi

INTEGRASI KURIKULUM

Program Tahfidz

Berdasarkan Surat Edaran Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY Nomor: Kw.12.12/PP.00.11/1371.1/2015 tentang Kebijakan Pendidikan Madrasah pada poin 8. Bahwa semua Madrasah wajib menyelenggarakan program tahfiz. MIN 2 Kulon Progo menyelenggarakan program tahfidz dimasukkan pada muatan lokal sebagai mata pelajaran intrakurikuler.

Tujuan

Tujuan penyelenggaraan program tahfidz adalah:

Menghasilkan murid berkarakter penghafal Al-Qur’an dan menguasai ilmu pengetahuan.

Memfasilitasi murid dalam belajar ilmu pengetahuan bersinergi dengan kegiatan menghafal Al-Qur’an.

Membekali murid bidang akademik dan tahfidz Al-Qur’an sebagai modal untuk melanjutkan di pendidikan jenjang selanjutnya, pondok pesantren maupun terjun di masyarakat.

Program

Program Persiapan

Persiapan kegiatan tahfiz harus melalui tahapan tartil dan tahsin AlQuran.

Tes penjajagan baca Al-Qur’an dilaksanakan pada awal masuk/Matsama .

Murid yang tidak lolos Tartil dan Tahsin diwajibkan mengikuti bimbingan yang dikolaborasikan dengan pembelajaran Al-Qur’an Hadis.

Selama proses penyelesain program Tartil Tahsin, murid mendapatkan pendampingan khusus dari Guru yang ditunjuk.

Kompetensi tartil dan tahsin menjadi syarat kenaikan kelas.

Program Tahfidz Reguler

Dilaksanakan di semua kelas, sesuai jadwal dari kurikulum, masing-masing kelas 2 JP tiap pekan.

Pengampu tahfidz reguler adalah Guru PAI atau guru yang ditunjuk sesuai SK Pembagian Tugas Guru.

Target: mengacu pada Buku Modul Pembelajaran Tahfiz yang diterbitkan oleh Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta

Target Kelas

Pada akhir fase A Murid mampu membaca dan menghafalkan Al-Qur’an Surat an-nas, al-falaq, al-ikhlas, al-lahab, an-nashr, al-kafirun, al-kautsar, al- ma’un, al-qura’isy, al-fil, al-humazah, al-‘ashr, at-takasur, al-qari’ah, al- ‘adiyat, az-zalzalah, al-bayyinah, al-qadr, al-‘alaq, at-tin, al-insyiroh, adh- dhuha.

Pada akhir fase B Murid mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an Surat Asy Syam, Al Balad, Al Fajr, Al Gasyiyah, Al A’la, At-Thariq, Al Buruj, dan Al Insyiqoq.

Pada akhir fase C Murid mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an Surat Al Muthofifin, Al Infithor, Attakwir, ‘Abasa, Annazi’at, Annaba’

Program Tahfidz Unggulan

Murid yang memiliki hafalan Juz 30

Murid Yang hafal surat Arahman, Al Waqiah

Program Tasmi’ Al-Qur’an

Tasmi’ Al-Qur’an diikuti oleh murid yang memiliki hafalan minimal 30 juz

Tasmi’ Hafalan Surat Arahman, Al Waqi’ah

Asesmen dan Apresiasi Tahfidz

Asesmen: asesmen formatif dan asesmen sumatif

Apresiasi Tahfidz

Apresiasi tahfidz dilaksanakan setiap tahu bersamaan dengan hari Santri/HAB Kementerian Agama.

Peserta apresiasi Tahfidz minimal memiliki hafalan Juz 30

Ujian tahfidz dilaksanakan dengan melibatkan guru 7 4Tahfidz

Peserta apresiasi tahfidz diberikan sertifikat Tahfdz

Penguatan Moderasi Beragama

Dalam KMA nomer 93 tahun 2022 Kemenag mendorong madrasah untuk melakukan beberapa langkah inovasi dan penguatan murid madrasah pada kontek penguatan moderasi beragama, pendidikan karakter, pendidikan anti korupsi, litersi dan penguatan akhlak murid madrasah

Moderasi agama menjadi salah satu spektrum penting yang ingin diteguhkan pada diri murid madrasah, agar tercipta ouput madrasah yang memiliki sikap dan perilaku toleran, mengakui atas keberadaan pihak lain, perhormatan atas pendapat dan tidak memaksakan kehendak dengan cara kekerasan. Moderasi beragama sebagai output yang sangat dibutuhkan pada era melinial ini yang justru masih banyak muncul faham radikal sebagai golongan yang bertentangan dengan nilai atau ajaran moderasi itu sendiri. Output manusia bertaqwa dan berilmu merupakan agenda penting guna mencapai visi madrasah tahun 2030 sebagai madrasah unggul dan kompetitif

Implementasi nilai moderasi Islam adalah penerapan suatu keyakinan atau perasaan yang meyakini sikap tengah-tengah atau standar dari agama Islam. Adapun penanaman nilai-nilai agama yang harus ditanamkan kepada murid meliputi:

Nilai keimanan,

Nilai ibadah,

Nilai akhlak, ada beberapa dasar dalam pendidikan akhlak yang perlu diterapkan, diantaranya adalah:

Menanamkan kepercayaan pada jiwa anak, yang mencakup percaya pada diri sendiri, percaya pada orang lain terutama dengan pendidikannya, dan percaya bahwa manusia bertanggungjawab atas perbuatan dan perilakunya. Ia juga mempunyai cita-cita dan semangat,

Menanamkan rasa cinta dan kasih terhadap sesama, anggota keluarga, dan orang lain,

Menyadarkan anak bahwa nilai-nilai akhlak muncul dari dalam diri manusia, dan bukan berasal dari peraturan dan undang-undang. Karena akhlak adalah nilai-nilai yang membedakan manusia dari binatang.

Menanamkan perasaan peka pada anak-anak. Caranya adalah membangkitkan perasaan anak terhadap sisi kemanusiaannya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi Murid agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, dan menjadi warga negara yang demokratis. Seiring dengan semakin berkembangnya arus informasi dan globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan, bila tidak diantisipasi dikhawatirkan dapat membawa dampak negatif terhadap tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

Tatanan kehidupan bangsa tersebut, jika tidak dirawat dan dilestarikan dari generasi ke generasi, dapat menimbulkan berbagai keprihatinan terhadap situasi bangsa berupa ancaman disintegrasi, konflik horisontal, pertentangan antarkelompok agama dan suku, penistaan terhadap kelompok masyarakat tertentu, korupsi, aksi terorisme, dan sebagainya. Hal yang perlu diantisipasi juga adalah menjamurnya paham radikalisme atas nama agama yang mengesampingkan nilai kemanusiaan dan sikap merasa benar sendiri sering menjadi salah satu pemicu lahirnya terorisme, bahkan golongan ini sering menggunakan media sosial sebagai alat propaganda dan agitasi yang cenderung destruktif. Menghadapi hal tersebut, komitmen kebangsaan, pemahaman dan penerapan nilai Pancasila dan subtansi Islam rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus menjadi prioritas utama untuk dilestarikan antargenerasi, termasuk lewat dunia pendidikan.

Harapannya akan semakin banyak lahir generasi bangsa yang moderat yang mampu mewujudkan kehidupan berbangsa yang harmonis, menjunjung tinggi toleransi, demokrasi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli sosial, dan keadilan. Menghadapi kondisi demikian maka dibuatlah Perpres Nomor 58 Tahun 2023, dengan pelaksanaanya dijabarkan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 2024. MIN 2 Kulon Progo mendukung kebijakan moderasi beragama melalui kegiatan pembiasaan, intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Kegiatan Intrakurikuler, melalui penyusunan administrasi pembelajaran/modul setiap mata pelajaran PAI yang menerapkan rencana kegiatan pembelajaran berbasis moderasi beragama dan pelaksanaan proses pembelajaran berbasis moderasi beragama pada semua mata pelajaran PAI. Kegiatan Kokurikuler, melalui Proyek P5RA dengan berbagai temanya, seperti Bhineka Tunggal Ika. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler, melalui beberapa kegiatan di bawah ini: Pelaksanaan ekstrakulikuler dengan pembimbing dari luar dan di luar madrasah.

Digitalisasi Madrasah

Pada beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan telah mengalami transformasi besar-besaran yang dipicu oleh kemajuan teknologi digital. Perkembangan ini tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi dan bekerja, tetapi juga membawa dampak signifikan terhadap sistem pendidikan, termasuk di lingkungan madrasah. Digitalisasi madrasah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari jika kita ingin tetap relevan dan kompetitif dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Digitalisasi bukan sekadar tentang penggunaan perangkat teknologi, melainkan sebuah upaya holistik untuk mentransformasi budaya, sistem, dan praktik pendidikan agar lebih adaptif, inklusif, dan berdaya saing.

Madrasah, sebagai lembaga pendidikan yang mengintegrasikan nilainilai keislaman dengan ilmu pengetahuan, memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kompetensi murid. Namun, untuk tetap eksis di tengah arus perubahan yang begitu cepat, madrasah harus mampu mengadopsi dan memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Digitalisasi madrasah bukan hanya tentang mengganti papan tulis dengan proyektor atau buku teks dengan e-book, tetapi lebih dari itu, ia mencakup perubahan paradigma dalam proses pembelajaran, manajemen administrasi, dan pengembangan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan zaman.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi madrasah saat ini adalah kesenjangan digital (digital divide), baik dalam hal infrastruktur maupun sumber daya manusia. Tidak semua madrasah memiliki akses yang memadai terhadap perangkat teknologi dan jaringan internet yang stabil. Di sisi lain, kemampuan guru dan tenaga kependidikan dalam memanfaatkan teknologi juga masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu digitalisasi madrasah harus dilakukan secara bertahap dan terencana, dimulai dari pembangunan infrastruktur dasar, pelatihan guru, hingga pengembangan konten pembelajaran yang interaktif dan menarik. Digitalisasi madrasah juga membawa peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

MIN 2 Kulon Progo, memandang digitalisasi madrasah menjadi sebuah langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mempersiapkan murid menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Dengan memanfaatkan teknologi digital, MIN 2 Kulon Progo dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan menyenangkan. Namun, kesuksesan digitalisasi madrasah tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada komitmen seluruh stakeholder, termasuk guru, murid, orang tua, dan pemerintah, untuk bekerja sama dalam mewujudkan visi tersebut.

Dengan demikian, digitalisasi madrasah bukanlah sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan yang mendesak. Melalui digitalisasi, madrasah dapat menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merangkul kemajuan, sehingga mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.

Latar Belakang

Revolusi Digital

Dunia pendidikan sedang menghadapi era transformasi digital yang menuntut adaptasi cepat terhadap teknologi.

Tantangan Pendidikan

Madrasah perlu meningkatkan kualitas pembelajaran dan manajemen melalui pemanfaatan teknologi digital.

Kebijakan Pemerintah

Berdasarkan Surat Edaran Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Yogyakarta Nomor: 057/Kw.12.2/PP.00/01/2025 point 3 tentang Program Mandatori yang harus dimasukkan dalam dokumen kurikulum, digitalisasi madrasah dimasukkan pada kurikulum (Semua mata Pelajaran berbasis TIK).

Tujuan Digitalisasi Madrasah

Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan media dan platform digital.

Mempermudah akses informasi dan pelayanan bagi seluruh warga madrasah.

Meningkatkan efisiensi manajemen madrasah melalui sistem informasi terintegrasi.

Mempersiapkan murid dengan literasi digital dan keterampilan abad 21.

Komponen Digitalisasi Madrasah

Infrastruktur Digital, meliputi jaringan internet dan perangkat keras (laptop, PC, LCD, speaker, dan lain-lain)

Laboratorium Komputer

Platform Pembelajaran Digital

Platform pembelajaran digital menjadi bagian penting yang mendukung proses pembelajaran yang modern. MIN 2 Kulon Progo memanfaatkan beberapa platform berikut:

Jogja Madrasah Digital (JMD): Sebagai aplikasi utama untuk pembelajaran, penilaian/ujian berbasis komputer (CBT).

Learning Management System (LMS): Seperti Google Classroom atau Zoom, untuk mengelola materi pembelajaran, tugas, dan diskusi online.

Aplikasi Pendukung: Seperti Quizizz, Kahoot, Whatsapp Group dan Telegram Group untuk membuat pembelajaran lebih interaktif dan menarik.

Integrasi TIK pada Semua Mata Pelajaran

Salah satu langkah strategis dalam digitalisasi madrasah adalah mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ke dalam semua mata pelajaran. Hal ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga mempersiapkan murid yang memiliki kemampuan digital yang nantinya mampu bersaing di abad 21.

Optimalisasi Media Sosial

Media sosial menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan visibilitas dan keterlibatan warga madrasah, serta mempromosikan kegiatan dan prestasi MIN 2 Kulon Progo. Berikut adalah langkah-langkah optimalisasi media sosial, antara lain:

YouTube Channel: Menyediakan platform untuk konten video edukatif, dokumentasi kegiatan, dan materi pembelajaran.

Instagram: Membangun branding madrasah dan meningkatkan interaksi dengan murid, orang tua, dan masyarakat.

Facebook: Menyediakan platform untuk berbagi informasi lengkap dan berinteraksi dengan orang tua serta alumni.

TikTok: Menarik minat generasi muda dengan konten kreatif dan edukatif.

Media digital lainnya: Penyebaran informasi melalui media digital lainnya dari pihak luar seperti website kemenag Kulon Progo.

Pendidikan Antikorupsi

Korupsi merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Praktik ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga merusak struktur moral dan sosial masyarakat.Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif, salah satunya melalui pendidikan di madrasah. Pendidikan membangun karakter anti-korupsi di sekolah memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berintegritas, jujur, dan memiliki nilai moral yang tinggi.

Pentingnya Pendidikan Anti-Korupsi

Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga masalah budaya dan moral. Jika ingin memberantasnya, harus dilakukan perubahan yang mendasar dalam pola pikir masyarakat, yang dimulai sejak usia dini. Pendidikan anti-korupsi di madrasah bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan rasa keadilan pada anak-anak. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi individu yang mampu membedakan antara perilaku yang etis dan tidak etis, serta memiliki keberanian untuk menolak dan melawan tindakan korupsi.

Komponen Pendidikan Anti-Korupsi

Pendidikan anti-korupsi di madrasah harus mencakup berbagai aspek, antara lain:

Kurikulum yang Terintegrasi

Nilai-nilai anti-korupsi perlu diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran seperti Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Agama Islam, serta mata pelajaran sosial lainnya. Melalui pendekatan ini, murid diajarkan pentingnya kejujuran, transparansi, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajaran Nilai Melalui Praktik Nyata

Madrasah dapat menerapkan program-program yang mendorong kejujuran, seperti sistem penilaian yang adil dan transparan, serta melibatkan murid dalam pengambilan keputusan terkait kegiatan madrasah. Dengan demikian, murid dapat memahami bagaimana prinsip-prinsip anti-korupsi diterapkan dalam praktik.

Penguatan Karakter melalui Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler, seperti debat, teater, dan klub diskusi, dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan antikorupsi. Murid diajak untuk menganalisis berbagai studi kasus.

Metode Pengajaran Pendidikan Anti-Korupsi

Pendekatan Tematik dan Kontekstual

Guru dapat menggunakan pendekatan tematik dan kontekstual dalam mengajar anti-korupsi, di mana pembelajaran dikaitkan dengan situasi nyata yang sering dihadapi masyarakat. Contohnya, guru dapat mengajukan pertanyaan seperti: “Apa yang akan terjadi jika dana sekolah disalahgunakan oleh pengelola?” Diskusi semacam ini membuat murid berpikir kritis dan menilai pentingnya kejujuran serta tanggung jawab.

Pembelajaran Interaktif

Metode pengajaran interaktif seperti role playing dan simulasi dapat membantu murid memahami dampak korupsi secara lebih mendalam. Misalnya, murid dapat diikutsertakan dalam simulasi pengadilan korupsi kecil, di mana mereka berperan sebagai berbagai pihak yang terlibat, seperti jaksa, terdakwa, dan saksi. Aktivitas ini memungkinkan murid merasakan konsekuensi moral dan hukum dari tindakan korupsi.

Pendidikan Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

Murid dapat diminta untuk membuat proyek yang bertemakan anti-korupsi, seperti kampanye poster, video pendek, atau artikel mengenai pentingnya kejujuran. Proyek ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga memperdalam pemahaman murid tentang nilai-nilai anti-korupsi.

Pendidikan anti-korupsi di madrasah merupakan investasi penting untuk masa depan bangsa. Melalui pendekatan yang terstruktur, melibatkan berbagai metode pengajaran, serta dukungan dari seluruh pihak, pendidikan ini dapat membentuk generasi muda yang memiliki moral dan integritas tinggi. Pendidikan anti-korupsi bukan hanya tentang mencegah tindakan korupsi itu sendiri, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera di masa depan.

Madrasah Ramah Anak

Madrasah Ramah Anak (MRA) adalah satuan pendidikan formal, nonformal dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan (Pedoman Teknis SRA/MRA DP3AP2 DIY). Melalui program MRA diharapkan satuan pendidikan mampu mengembangkan minat, bakat dan kemampuan anak serta mempersiapkan anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan yang toleran, saling menghormati dan bekerja sama untuk kemajuan dan semangat perdamaian.

MRA dikembangkan dengan harapan untuk memenuhi hak dan melindungi sepertiga hidup anak (8 jam per hari) selama mereka berada di satuan pendidikan. SRA adalah perubahan paradigma untuk menjadikan orang dewasa di satuan pendidikan menjadi orang tua atau sahabat Murid dalam keseharian mereka berinteraksi di satuan pendidikan, sehingga komitmen agar satuan pendidikan menjadi MRA adalah komitmen yang sangat penting dalam menyelamatkan hidup anak.

Pemenuhan hak anak untuk pendidikan pada Konvensi Hak Anak (KHA) diatur dalam pasal 28, pasal 29 dan pasal 31. Pasal 28 menekankan bahwa Negara mengakui hak asasi anak atas pendidikan dan untuk mewujudkan hak ini secara bertahap dan berdasarkan kesempatan yang sama, antara lain dengan memberikan kesempatan yang sama untuk semua anak menikmati pendidikan dasar secara gratis serta mendorong kehadiran di satuan pendidikan dalam rangka penurunan angka putus sekolah.

Sebuah sekolah/madrasah dalam menerapkan program MRA harus melaksanakan tahapan-tahapan yang meliputi:

Perencanaan terdiri dari tujuan dan target yang akan dicapai, analisis kebutuhan yang dilakukan dalam mencapai tujuan dan target, rumusan strategi untuk mencapai tujuan dan target, strategi dalam menetapkan indikator keberhasilan, perencanaan monitoring dan evaluasi yang akan dilakukan.

Pengorganisasian terdiri dari pembentukan tim pelaksana SRA, rumusan dan deskripsi tugasnya, susunan kebijakan program dan kegiatannya serta strategi mengalokasikan sumber daya.

Pelaksanaan yang terdiri dari integrasi kebijakan program dan kegiatan yang sudah ada, pelaksanaan sosialisasi dan konsultasi anak untuk memetakan pemenuhan hak dan perlindungan anak serta menyusun rekomendasi dari hasil pemetaan oleh anak, kreativitas guru dalam melaksanakan sekolah ramah anak baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah, serta keterlibatan orang tua/wali murid dalam pelaksanaan sekolah ramah anak.

Evaluasi yang terdiri dari jangka waktu pelaksanaan evalusi, proses atau prosedur dalam melaksanakan evaluasi, strategi dalam mengevaluasi keberhasilan dan pencapaian tujuan serta target sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan, serta cara mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan.

Dalam rangka menciptakan madrasah yang ramah bagi anak, ada 6 komponen yang harus dipenuhi, yaitu:

Kebijakan MRA

Kebijakan Madrasah Ramah Anak merupakan suatu komitmen daerah dan madrasah dalam mewujudkan MRA.

Ditunjukkan dalam bentuk:

Deklarasi

SK Tim MRA

SK Kemenag Kulon Progo, SK Kanwil Kemenag DIY, SK DP3AP2 DIY

Kebijakan madrasah lainnya yang berperspektif anak

Pendidik dan Tenaga Kependidikan terlatih hak anak dan SRA

Minimal ada 2 orang pendidik/tenaga kependidikan yang terlatih KHA dan MRA.

Proses belajar yang ramah anak dan menyenangkan

Menciptakan proses belajar dan mengajar yang menyenangkan.

Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan di antaranya kunjung museum,

outing class, pembelajarn berbasis digital, syiar Ramadhan.

Proses pendisiplinan yang dilakukan tanpa merendahkan martabat anak dan tanpa kekerasan. Jika ada anak yang melanggar tata tertib tidak di hukum namun diberikan pembinaan.

Sarana dan prasarana ramah anak

Memastikan menjaga agar sarana prasarana di sekolah nyaman, aman dan tidak membahayakan anak. Seperti pemasangan rambu-rambu di tempat berbahaya, penumpulan ujung meja, toilet bersih dengan air mengalir, pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik, dan lain-lain.

Partisipasi anak

Anak dilibatkan dalam kegiatan perencanaan program atau tata tertib, pelaksanaan dan evaluasi MRA. Anak dijadikan sebagai pengawal MRA atau peer educator. Hal ini dilakukan agar anak merasa diakui dan dapat berperan aktif dalam mewujudkan Madrasah Ramah Anak.

Partisipasi orang tua, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, stakeholder lainnya.

Melibatkan orang tua, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, stakeholder lainnya dalam mendukung program Madrasah Ramah Anak. Baik berperan memberikan bantuan dalam bentuk sarana maupun kegiatan untuk mewujudkan MRA.

Penerapan Program MRA tidak boleh ada hukuman. Sesuai nama lembaganya hukuman hanya dilakukan di Lembaga Penegak hukum oleh penegak hukum, sedangkan di Satuan Pendidikan disiplin dilakukan melalui proses pembinaan/pendidikan oleh para pendidik. Proses pendisiplinan di Madrasah Ramah anak dilakukan dengan cara terus menerus melatih anak dan menyadarkan anak akan tanggung jawabnya sampai anak mampu mengendalikan dirinya sehingga anak sadar dan tidak perlu dihukum.

Tahapan proses pendisiplinan di MRA, yakni:

Melakukan dialog untuk mencari akar permasalahan.

Jika perlu melibatkan orang tua, maka orang tua dilibatkan dan diajak untuk berdialog mengetahui akar permasalahannya.

Melakukan pembinaan dan proses penyadaran akan tanggung jawab yang dilakukan dengan kesabaran dan jika diperlukan melibatkan jejaring.

Kesepakatan bersama antara anak dan guru atau antara anak, guru dan orang tua dengan memposisikan bahwa guru adalah sahabat anak yang menolongnya

Setelah anak sadar dan meminta maaf, maka jangan ungkit kesalahannya lagi.

Rencana kegiatan MIN 2 Kulon Progo dalam pelaksanaan Madrasah Ramah Anak terlihat dalam tabel berikut.

NoPotensi, Masalah, Kebutuhan, KemampuanRencana Kegiatan yang Dilakukan
1.Banyak pelanggaran disiplinPenyusunan tata tertib berbasis pasrtisipasi murid dengan paradigma disiplin positif
2.Nilai religius menjadi upaya penting bagi tumbung kembang anakGerakan tadarus pagi sebelum memulai pelajaran, pembiasaan sholat Dhuha, pembacaan asmaul husna
3.Pengurangan resiko bencana Penyediaan dan mengadakan pelatihan penggunaan peralatan aman bencana seperti tabung kebakaran  Pemasangan rambu titik kumpul, jalur evakuasi, dll  Pemasangan rambu awas licin, dll  Pemasangan rambu lalu lintas pada rute anak sekolah
4.Lingkungan madrasah yang gersang dan kotor Penyediaan tempat sampah terpilah  Kampanye madrasah bersih dengan mengadakan lomba kebersihan kelas  Gerakan penanaman pohon
5.Minat baca kurang, murid lebih akrab dengan gawaiPenyediaan pojok baca di tempat anak-anak sering berkumpul seperti kantin, mushola, tempat bermain
6.Mendidik anak untuk jujur Ada kantin kejujuran  Ada perpustakaan kejujuran
7.Anak-anak masih jajan di luar madrasah, kurang sehat, dan berakibat tidak tertib masuk kelas Pengelolaan kantin yang sehat  Diadakan sosialisasi pentingnya kantin sehat bagi petugas penjaga kantin
8.Pemborosan air kran dan listrikPenempelan stiker hemat air dan hemat listrik, matikan jika tidak digunakan pada kamar mandi dan beberapa tempat yang ada wastafel atau kran air
9.Ada beberapa murid yang tidak mengikuti ekstrakurikulerPenentuan bersama murid dan orang tua dalam menetapkan jenis ekstrakurikuler kegiatan kreatif dan baik bidang olahraga maupun seni agar sesuai minat, bakat dan kemampuan

Untuk komponen Madrasah Ramah Anak yang ada di MIN 2 Kulon Progo meliputi:

NoKomponen MRAUraian
1.KebijakanSK Tim MRA yang melibatkan orang tua dan murid Tata Tertib terkait MRA Upaya pencegahan dan penanganan semua bentuk kekerasan, deskriminasi terhadap warga madrasah Komitmen menerapkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Adanya SOP tentang pengaduan Pernyataan Bersama secara tertulis tentang MRA dan perlindungan anak
2.Pendidik dan Tenaga KependidikanSosialisasi tentang MRA dan Konvensi Hak Anak bagi PTK Penunjukan Tim MRA dan Konvensi Hak Anak
3.Proses PembelajaranPelaksanaan pembelajaran dengan mengedepankan pelayanan pendidikan yang ramah anak, nyaman, aman, menyenangkan, penuh kasih sayang, dengan pemenuhan disiplin dan tangung jawab. Integrasi kesehatan di madrasah melalui UKS/M dan pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan Pelaksanaan integrasi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sehat dn bersih Pelaksanaan integrase mitigasi bencana melalui penerapan program Satuan pendidikan Aman Bencana (SPAB) dengan memasukkan hal-hal yang relevan pada masing-masing pilar SPAB Pembelajaran, pembiasan dan peneladanan untuk pembentukan perilaku positif
4.Sarana dan Prasarana yang Ramah AnakPeralatan, perlengkapan dan obat-obatan di ruang UKS/M berfungsi dengan baik dan terpantau Madrasah memiliki ruang konseling yang nyaman dan memperhatikan kerahasiaan Madrasah memiliki area/ruang bermain yang ramah anak Ruang perpustakaan/pojok baca harus aman, nyaman, tenang dan memiliki buku/sumber informasi yang sudah memenuhi kaidah layak anak Fasilitas kantin dan makanan yang ada di kantin terpantau dengan baik
5.Partisipasi MuridMurid diberi kesempatan untuk dapat membentuk komunitas sebaya Murid bisa memilih kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat Melibatkan murid dalam menyusun kebijakan dan tata tertib serta memetakan potensi madrasah Melibatkan murid dalam mewujudkan kelas dan lingkungan madrasah yang menyenangkan Mengikutsertakan perwakilan murid sebagai anggota Tim Pelaksana SRA
6.Partisipasi Orang Tua, Komite, MasyarakatOrang tua Terlibat dalam menyusun tata tertib di madrasah dan memetakan potensi madrasah Bersikap proaktif untuk memastikan MRA masuk dalam penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban RKAM Komite: memastikan bahwa madrasah menggunakan internet sehat dan media sosial yang ramah anak Organisasi kemasyarakatan Memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyelenggraaan MRA Memberi akses kepada Murid dan pendidik untuk PKL, outing class, kegiatan seni dan budaya

Program Madrasah Ramah Anak di MIN 2 Kulon Progo, tersaji dalam tabel berikut.

NoProgram MRASasaranTarget
1.TadarusKelas 4,5 dan 6Murid dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar
2.Sholat DhuhaKelas 1-6Bisa dan terbiasa sholat Dhuha
3.Sholat DhuhurKelas 1-6Meningkatkan kesadaran dan kebiasaan untuk tidak meninggalkan sholat 5 waktu
4.Program 5SKelas 1-6Membangun karakter positif
5.Pesantren RamadhanKelas 4-6Meningkatkan spiritualitas murid
6.Jum’at bersih dan sehatKelas 1-6Meningkatkan kesadaran murid tentang kebersihan dan kesehatan

Madrasah dengan Penguatan SPAB

Satuan pendidikan aman bencana adalah satuan pendidikan yang menerapkan standar sarana dan prasarana serta budaya yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungan di sekitarnya dari bahaya bencana.

Pilar Kebijakan dan Perencanaan Sektor Pendidikan

Pilar 1: Fasilitas Sekolah Aman

Fasilitas sekolah aman merupakan fasilitas sekolah dengan gedung, isi dan halaman sekitarnya yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kemudahan termasuk kelayakan bagi anak berkebutuhan khusus, kenyamanan dan keamanan.

Indikator Pilar 1

Lokasi

Tidak berada di puncak bukit yang rawan longsor

Tidak berada di tengah pemukiman yang padat penduduk

Tidak berada di dekat pabrik

Jauh dari pasar

Jauh dari pantai

Jauh dari sungai yang rawan banjir

Sarana Prasarana

Struktur bangunan kuat

Sarana dan prasarana yang tidak membahayakan

Ada fasilitas untuk menyelamatkan diri dan melakukan evakuasi

Dapat diakses oleh orang berkebutuhan khusus

Jika bangunan dikondisikan untuk pengungsian, harus dipastikan kelanjutan KBM bisa tetap berjalan

Ada fasilitas sanitasi yang memadai, toilet laki-laki dan perempuan dipisah, serta dapat diakses orang berkebutuhan khusus

Menjamin bahwa akses anak-anak ke sekolah aman dari risiko fisik (seperti jalur pejalan kaki, jalur penyeberangan jalan dan jalur penyeberangan sungai)

Melakukan pemeliharaan fasilitas sekolah dan menjaga keamanan

Pilar 2: Manajemen Bencana di Madrasah

Manajemen bencana di madrasah merupakan proses pengkajian yang kemudian diikuti oleh perencanaan terhadap perlindungan fisik, perencanaan pengembangan kapasitas dalam melakukan respons/tanggap darurat dan perencanaan berkesinambungan pendidikan

Tujuan

Manajemen bencana di madrasah bertujuan untuk menjaga lingkungan belajar yang aman sertammerencanakan kesinambungan pendidikan, baik di masa tidak ada bencana maupun di saat terjadi bencana

Madrasah merupakan lembaga umum tempat berbagi pengetahuan dan keterampilan. Madarsah diharapkan dapat menjadi panutan dalam pencegahan bencana

Indikator

Ada tim siaga bencana

Ada kajian risiko bencana

Ada SOP/Protap (Prosedur Tetap) Bencana

Ada rencana yang berkesinambungan terkait pendidikan pada situasi darurat

Ada kebijakan, kesepakatan, dan peraturan madrasah yang mendukung upaya pengurangan resiko bencana di madrasah.

Pilar 3: Pendidikan, Pencegahan dan pengurangan Risiko Bencana

Pengertian

Pendidikan, pencegahan dan pengurangan risiko bencana adalah sebuah proses pembelajaran bersama jangka panjang yang bersifat interaktif. Madrasah tetap terpercaya sebagai wahana efektif untuk membangun budaya bangsa termasuk membangun kesiapsiagaan bencana dari usia sekolah.

Tujuan

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk pencegahan dan pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang bertanggung jawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana

Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fisik, serta kerentanan perilaku dan motivasi

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siaga bencana

Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan

Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan karena terjadinya bencana.

Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana

Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana di atas, baik secara individu maupun kolektif

Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana

Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan mendadak

Indikator

Ada pendidikan tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Memberitahukan ke warga sekolah tentang PRB

Ada mading tentang PRB

Tahapan Pelaksanaan Pilar 3

Tahapan PersiapanTahapan Pelaksanaan Pelatihan dan PendidikanTahapan Advokasi
1. Analisis sektor Pendidikan1. Pelatihan guru dan pengembangan staf1. Terintegrasi ke dalam kurikulum
2. Kajian risiko multi ancaman2. Pendidikan bencana2. Pesan kunci berdasarkan konsensus
3. Kajian dan perencanaan berpusat pada Murid3. Ekstrakurikuler dan pendidikan informal berbasis masyarakat

Sepuluh Langkah Mewujudkan Pendidikan Aman Bencana di Madrasah

Persiapan dan konsolidasi dengan pihak madrasah

Lakukan diskusi dengan pihak-pihak terkait untuk menerapkan Program SPAB

Libatkan komite madrasah, Pengawas, Dinas Pendidikan dan Kelurahan/Desa untuk menerapkan Program SPAB

Pengkajian dan Penilaian Mandiri di awal Program

Lakukan pengkajian dan penilaian mandiri menggunakan alat bantu yang ada (daftar cek)

Libatkan pihak-pihak terkait termasuk anak-anak untuk berpartisipasi melakukan pengkajian dan penilaian

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi madrasah dan lingkungannya, apakah sudah memenuhi 3 pilar SPAB

Pelatihan untuk guru, tenaga kependidikan lainnya, serta komite madrasah, Guru, tenaga kependidikan, tim siaga bencana di madrasah mendapatkan pelatihan secara rutin tentang SPAB.

Bagi yang sudah mendapatkan pelatihan, harus menyebarluaskan pengetahuannya kepada guru-guru lain, Murid dan orang tua Murid

Pelatihan untuk Murid

Ajak Murid untuk belajar tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Lakukan latihan secara rutin, bisa dimulai per kelas, kemudian dilakukan secara serentak

Pengkajian risiko bencana bersama termasuk dengan Murid

Melakukan kajian risiko dengan melibatkan Murid

Melihat potensi-potensi bahaya yang bisa terjadi di madrasah

Melihat kapasitas dan kerentanan yang ada di madrasah

Penyusunan Rencana Aksi dan Pembentukan Tim Siaga Bencana Madrasah

Membuat rencana aksi berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang sudah dilakukan

Membentuk tim siaga bencana sekolah yang melibatkan perwakilan dari pendidik, Murid, komite madrasah, dan orang tua Murid

Penyusunan prosedur tetap untuk masa pra, saat dan pascabencana

Membuat prosedur tetap untuk pra, saat dan pascabencana yang disepakati dan melibatkan semua pihak, termasuk desa/kelurahan

Protap yang telah disepakati, disosialisasikan kepada warga madrasah

Melakukan Simulasi Teratur minimal setahun sekali

Rutin melakukan simulasi aman bencana, minimal setahun sekali pada saat MATSAMA

Libatkan semua pihak dalam simulasi: kepala madrasah, Murid, pendidik, pegawai madrasah, pedagang di kantin madrasah, penjaga madrasah, orang tua Murid, masyarakat di sekitar madrasah serta pihak kelurahan/desa.

Melakukan penilaian mandiri dan pengawasan secara rutin

Lakukan penilaian mandiri untuk mengetahui perkembangan kondisi sekolah, apakah potensi bahaya masih tinggi, kapasitas dan kerentanan apa saja yang dimiliki satuan pendidikan?

Melihat hal-hal yang belum terpenuhi untuk mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)

Melakukan Evaluasi Pelaksanaan dan Pemutakhiran Rencana Aksi

Lakukan monitoring dan evaluasi rencana aksi yang sudah dibuat, aktivitas apa saja yang sudah dan belum terlaksana, kekurangan apa yang perlu diperbaiki, serta kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam mewujudkan rencana aksi.

Melihat program SPAB yang sudah berjalan, apakah sudah menurunkan risiko bencana?

Membuat pemutakhiran rencana aksi berdasarkan hasil kajian risiko bencana terakhir

Parameter Kesiapsiagaan di Madrasah

Pengetahuan dan Keterampilan

Kebijakan

Rencana Tanggap Darurat

Mobilitas Sumber Daya

Tim Siaga Bencana Madrasah

Pengertian

Tim siaga bencana madrasah adalah perwakilan warga madrasah yang telah mendapatkan pelatihan terkait pengurangan risiko bencana. Tim ini bertugas menyebarluaskan praktik budaya sadar bencana di madrasah melalui kesiapsiagaan pada sebelum, saat, dan setelah bencana.

Keanggotaan

Kepala Madrasah

Perwakilan guru

Perwakilan pegawai

Perwakilan komite madrasah

Perwakilan orang tua

Perwakilan murid

Tokoh masyarakat di sekitar madrasah

Tugas Tim Siaga Bencana Madrasah

Sebelum Bencana

Mengikuti pelatihan pengurangan risiko bencana

Melakukan kajian risiko bencana, membuat rencana aksi dan prosedur tetap.

Menyebarluaskan pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana

Menyosialisasikan prosedur tetap bencana yang telah disepakati

Saat Bencana

Membunyikan tanda peringatan terjadi bencana atau evakuasi

Mengarahkan teman-teman untuk mengikuti jalur evakuasi ke arah titik kumpul atau ke tempat aman

Membantu teman yang memiliki kebutuhan khusus untuk menyelamatkan diri menuju titik kumpul atau ke tempat yang aman

Menggunakan peralatan kesiapsiagaan bencana untuk mengurangi risiko

Setelah Bencana

Pendataan seluruh warga madrasah yang berada di titik kumpul atau di tempat yang aman

Mengelompokkan teman-teman yang terluka dengan yang tidak terluka

Membantu bapak ibu guru memberikan pertolongan pertama kepada teman-teman yang terluka

Menghubungi pihak-pihak terkait untuk tindakan selanjutnya

Adapun program MIN 2 Kulon Progo sebagai bagian dari SPAB pada tahun ajaran 2026/2027 adalah sebagai berikut.

NoProgramSasaranTarget
1.Pengkajian dan Penilaian MandiriTim SPABMengetahui kondisi madrasah dan lingkungannya apakah sudah memenuhi 3 pilar SPAB
2.Simulasi Kesiapsiagaan BencanaWarga MadrasahRutin melaksanakan simulasi aman bencana minimal setahun sekali
3.Pelatihan tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Penggunaan APARWarga MadrasahWarga madrasah mengetahui tentang penggunaan peralatan kesiapsiagaan bencana untuk mengurangi risiko
4.Pengkajian Risiko BencanaTim SPABMengetahui potensi bahaya yang bisa terjadi di madrasah, melihat kapasitas dan kerentanan yang ada di madrasah
5.Penyusunan Rencana AksiTim SPABMempunyai program rencana aksi yang siap disosialisasikan
6.Menyusun Prosedur Tetap untuk masa pra, saat, dan pasca bencanaTim SPABProsedur tetap telah disepakati dan disosialisasikan kepada warga madrasah
7.Pengawasan dan Penilaian mandiri Program SPABTim SPABMelihat hal-hal yang belum terpenuhi untuk Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)
8.Evaluasi Pelaksanaan dan Pemutakhiran Rencana AksiTim SPABMelihat program SPAB yang sudah berjalan, apakah sudah menurunkan risiko bencana Membuat pemutakhiran rencana aksi berdasarkan hasil kajian risiko bencana terakhir

Gerakan Literasi Madrasah

Program Gerakan Literasi Madrasah (GLM) MIN 2 Kulon Progo,yang merupakan pedoman dalam mengimplementasikan keterbacaan/literasi warga MIN 2 Kulon Progo menuju masyarakat literat sehingga mampu menjadi spirit dan motivasi peningkatan kinerja dan prestasi madrasah. Dalam rangka memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 dalam PP ini sebagai point utama adalah membeiasakan siswa membaca buku non pelajaran 15 menit sebelu palajaran dimulai. GLM merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, Murid, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan untuk meningkatkan budaya membaca. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan visit to library di perpustakaan sesuai jadwal yang telah ditentukan”. Adapun jadwal visit to library tersebut adalah:

Jadwal Literasi MIN 2 Kulon Progo

NoMingguJamKelasKegiatanPenanggung Jawab
1.Minggu ISelasa1 dan 2Membaca dan menggulang ceritaGuru Kelas
2.Minggu 2Rabu3 dan 4Membaca dan meresume bukuGuru Kelas
3.MInggu 3Kamis5Membaca dan meresume bukuGuru Kelas
4.Minggu 4Kamis6Membaca dan meresume bukuGuru Kelas

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca Murid serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan Murid.

Tujuan GLM

Gerakan literasi madrasah mempunyai tujuan sebagai berikut:

Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti Murid melalui pembudayaan ekosistem literasi madrasah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Madrasah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Tujuan Khusus

Menumbuhkembangkan budaya literasi di madrasah.

Menumbuhkembangkan budaya cinta Al-Qur’an.

Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan madrasah agar literat.

Menjadikan madrasah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga madrasah mampu mengelola pengetahuan untuk kemaslahatan.

Menumbukembangkan budi pekerti yang luhur khususnya kejujuran, tanggung jawab dan disiplin melalui perpustakaan kejujuran.

Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Program Pelaksanaan GLM di MIN 2 Kulon Progo

Pelaksanaan gerakan literasi madrasah di MIN 2 Kulon Progo direncanakan dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:

Tahapan Pembiasaan

Kegiatan membaca buku umum non mapel sesuai jadwal.

Secara umum, kegiatan membaca ini memiliki tujuan, antara lain:

meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran;

meningkatkan kemampuan memahami bacaan;

rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik;

menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan.

Mewajibkan murid untuk membaca buku selama lima menit sebelum pembelajaran dimulai.

Mengelola sudut baca.

Sudut baca ini merupakan upaya mendekatkan Murid pada buku. Di MIN 2 Kulon Progo setiap kelas mempunyai pojok literasi. Yang pengelolaanya dilakukan oleh murid di kelas tersebut. Setiap kelas bebas berkreasi membuat pojok literasi.

Guru Kelas memandu Murid untuk membuat sudut baca.

Setiap Murid membawa satu buku non mapel dan Al-Qur’an terjemahan untuk dipajang di pojok literasi kelas, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan literasi.

Membuat mading madrasah.

Membuat sudut baca di titik-titik tertentu.

Workshop Kepenulisan yang dilaksanakan minimal 1 kali dalamsatu tahun. Kegiatan ini sebagai pemantik bagi murid agar dapat menulis dengan baik.

Adanya perpustakaan digital didukung dengan jumlah e-book yang memadai

Pemberian reward (best reader) kepada pengunjung perpustakaan dengan frekuensi yang tertinggi.

Menyediakan ruang baca yang nyaman, bersih dan sejuk serta jaringan internet yang mendukung agar murid dapat mudah memperluas pengetahuan.

Menyediakan tempat khusus di perpustakaan untuk memajang hasil karya murid maupun guru.

Melakukan kerja sama dengan perpustakaan daerah.

Membuat flyer buku baru.

Tahap Pengembangan

Pada prinsipnya, kegiatan literasi pada tahap pengembangan sama dengan kegiatan pada tahap pembiasaan. Yang membedakan adalah bahwa kegiatan membaca diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan. Dalam tahap pengembangan, Murid didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Perlu dipahami bahwa kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan di tahap pembiasaan, kegiatan membaca di tahap pengembangan diperkuat oleh berbagai kegiatan tindak lanjut yang bertujuan untuk:

mengasah kemampuan Murid dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan.

membangun interaksi antarMurid dan antara Murid dengan guru tentang buku yang dibaca.

mengasah kemampuan Murid untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif.

mendorong Murid untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Dalam tahap pengembangan kegiatan yang dilakukan di MIN 2 Kulon Progo adalah:

Pembuatan SK tim literasi yang akan mengembangkan kegiatan literasi di madrasah.

Sosialisasi program literasi MIN 2 Kulon Progo pada acara MATSAMA kepada murid baru di awal tahun ajaran oleh Kepala Perpustakaan.

Membuat jadwal piket literasi dan layanan literasi.

Kegiatan literasi pagi yaitu membaca buku non mapel dan AlQur’an.

Mengelola sudut baca

Memilih/menunjuk Duta Literasi

Tahap Pembelajaran

Kegiatan berliterasi pada tahap pembelajaran bertujuan antara lain:

Mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat;

mengembangkan kemampuan berpikir kritis; dan

mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual, digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran.

Dalam pelaksanaannya kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk mendukung pelaksanaan kurikulum yang mensyaratkan Murid membaca buku nonteks pelajaran. Beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pembelajaran ini, antara lain:

buku yang dibaca berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu.

ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).

Dalam tahap pembelajaran ini berbagai jenis kegiatan dapat dilakukan, antara lain:

Dua puluh menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik.

Kegiatan literasi dalam pembelajaran.

Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua matapelajaran.

Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.

Portofolio murid sesuai mapel.

KALENDER PENDIDIKAN

Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran Murid selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Setiap permulaan tahun pelajaran, tim penyusun program di madrasah menyusun kalender pendidikan untuk mengatur waktu kegiatan pembelajaran, pekan efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Pengaturan waktu belajar di madrasah mengacu kepada Standar isi dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, karakteristik madrasah, kebutuhan perserta didik dan masyarakat, serta ketentuan dari pemerintah daerah.

Beberapa aspek penting yang menjadi pertimbangan dalam menyusun kalender pendidikan, antara lain :

Permulaan Tahun Ajaran

Permulaan pembelajaran di setiap madrasah dimulai pada setiap awal tahun ajaran. Berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis Nomor 4860 Tahun 2026 tentang Pedoman Kalender Pendidikan Madrasah Tahun Pelajaran 2026/2027, bahwa permulaan Tahun Ajaran 2026/2027 jatuh pada hari Senin tanggal 13 Juli 2026. Oleh karena itu, permulaan kegiatan pembelajaran di MIN 2 Kulon Progo ini diawali pada tanggal 13 Juli 2026. Awal masuk tahun ajaran adalah hari pertama masuk untuk mengikuti serangkaian kegiatan madrasah pada permulaan semester ganjil.

Pekan Belajar Efektif

Pekan belajar efektif adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun ajaran. Pekan efektif yang ditetapkan di MIN 2 Kulon Progo pada Tahun Ajaran 2026/2027 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Analisis Minggu Belajar Efektif Tahun Ajaran 2026/2027

SemesterBulanJumlah MingguMinggu EfektifMinggu Tidak Efektif
IJuli 2026532
IAgustus 2026440
ISeptember 2026550
IOktober 2026440
INovember 2026440
IDesember 2026532
JumlahJumlah26233
SemesterBulanJumlah MingguMinggu EfektifMinggu Tidak Efektif
IIJanuari 2027541
IIFebruari 2027440
IIMaret 2027511
IIApril 2027550
IIMei 2027440
IIJuni 2027531
JumlahJumlah26224

Waktu Belajar Efektif dan Tidak Efektif

Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.

Waktu Pembelajaran Tidak Efektif adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal. Waktu tidak efektif meliputi:

Hari efektif tanpa efektifvitas KBM.

Hari di mana ada kegiatan lain yang tidak memungkinkan diadakan KBM di kelas, seperti kegiatan Matsama, kegiatan Agustusan, evaluasi hasil belajar dan pengolahan nilai. Perhitungan waktu pembelajaran efektif di MIN 2 Kulon Progo pada Tahun Ajaran 2026/2027 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

analisis Waktu Pembelajaran Efektif Tahun Ajaran 2026/2027

SemesterBulanMinggu EfektifMinggu Tidak Efektif BelajarMinggu Efektif BelajarKeterangan
IJuli 2026312Mamudu
IAgustus 2026413Keg. Agustus
ISeptember 2026504
IOktober 2026404
INovember 2026404
IDesember 2026532Keg. ASAS dan Olah Nilai
JumlahJumlah2551919 Minggu Efektif Belajar
SemesterBulanMinggu EfektifMinggu Tidak Efektif BelajarMinggu Efektif BelajarKeterangan
IIJanuari 2027514
IIFebruari 2027404
IIMaret 2027502
IIApril 2027505Keg. Ujian
IIMei 2027404Keg. Ujian
IIJuni 2027512Keg. ASAT dan Olah Nilai
JumlahJumlah17 Minggu Efektif Belajar

Hari libur

Hari libur di MIN 2 Kulon Progo ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah Tingkat Kabupaten Bantul, dan/atau yayasan penyelenggara pendidikan. Jenis waktu libur yang dimaksud adalah berbentuk jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional dan hari libur khusus.

Adapun waktu tidak efektif dalam Tahun Ajaran 2026/2027 tersaji dalam tabel berikut.

SemesterTanggalKeterangan
I13 Juli 2026Awal Masuk TA 2026/2027
I13 – 18 Juli 2026Rentang Waktu Pengenalan Lingkungan Madrasah
I17 Agustus 2026Hari Kemerdekaan Indonesia
I25 Agustus 2026Maulid Nabi Muhammad Saw
I23 Nov – 5 Des 2026Rentang Asas Ganjil
I18/19 Desember 2026Penyerahan Laporan Hasil Belajar Semester Ganjil
I25 Desember 2026Hari Raya Natal
I21 Des 2026 – 5 Jan 2026Libur Semester Ganjil
II1 Januari 2026Tahun Baru Masehi
II3 Januari 2026HAB Kemenag RI
II4 Januari 2027Awal Masuk Semester Genap
II…. Januari 2027Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW
II… Februari 2027Tahun Baru Imlek
II… Maret 2027Libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H
II… Maret 2027Hari Raya Nyepi
II… Maret 2027Hari Raya Idul fitri
II… April 2027Wafat Isa Almasih
IIMaret – Mei 2027Rentang Waktu Ujian Madrasah
II24 Mei – 5 Juni 2027Perkitraan Rentang Waktu ASAT
II.. Mei 2027Kenaikan Isa Almasih
II1 Juni 2027Hari Lahir Pancasila
II18 atau 19 Juni 2027Penyerahan Laporan Hasil Belajar Semester Genap
II21 Juni – 30 Juli 2027Libur Akhir Tahun Ajaran

Kalender Pendidikan MIN 2 Kulon Progo

BAB IV PERENCANAAN PEMBELAJARAN

PERENCANAAN PEMBELAJARAN RUANG LINGKUP MADRASAH

Intrakurikuler

Peranan guru dalam implementasi PM adalah sebagai aktivator, pembangun budaya, dan kolaborator. Sebagai aktivator, guru mendorong muriduntuk mengkonstrukur pengetahuan secara aktif dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Sebagai pem- bangun budaya, guru menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid bela- jar, memberikan ruang kepada muriduntuk menciptakan strategi belajarnya sendiri sehingga muridmemiliki kemandirian, percaya diri, dan rasa kebersamaan. Sebagai kolaborator, guru bersikap aktif memberikan respon terhadap setiap proses belajar peserta didik. Selain mempertimbangkan peran guru, dalam merancang pembelajaran, satuan pen- didikan perlu memperhatikan prinsip pembelajaran mendalam (berkesadaran, bermakna dan mengembirakan) dan asesmen.

MIN 2 Kulon Progo merancang merancang rencana pembelajaran untuk kelas I s.d.

VI dengan alur sebagai berikut:

Gambar1. Bagan Alur Perencanaan Pembelajaran

MIN 2 Kulon Progo mengembangkan perencanaan pembelajaran berdasar-kanrefleksi yang telah dilakukan dan pencarian sumber-sumber lain yang diperoleh tanpa mengabaikan prinsip-prinsip penyusunan serta dapat menjadi inspirasi untuk dapat diterapkan pada satuan pendidikan lainnya. Selain itu, MIN 2 Kulon Progo memanfaatkan teknologi di dalam menyusun perencanaan pembelajaran untuk menghasilkan proses pembelajaran yang inovatif. Perencanaan pembelajaran memuat 4 kerangka kerja pembelajaran mendalam yaitu: 8 dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran, pengalaman belajar dan 4 kerangka pembelajaran mendalam. Rangkaian kegiatan perencanaanpembelajaran dilaksanakan melalui workshop pada awal tahun ajaran 2026/2027.

Literasi awal meliputi 6 literasi dasar: literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewarganegaraan terintegrasi pada perencanaan dan pelaksa- naan pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran lingkup satuan pendidikan diawali dengan mencermati dokumen capaian pembelajaran (CP). CP disajikan per fase, yaitu fase A untuk kelas I dan II, fase B untuk kelas III dan IV, dan fase C untukkelas V dan VI. Pendidik dalam fase yang sama berkolaborasi untuk menurunkan capaian pembela-jaran fase ke dalam tujuan-tujuan pembelajaran. Tujuan-tujuan pembelajaran selan-jutnya dipetakan ke tujuan pembelajaran yang akan dicapai per kelas. Rangkaian tujuan-tujuan pembelajaran per kelas tersebut disusun menjadi alur tujuan pembela-jaran (ATP) fase.

Contoh Pemetaan Tujuan Pembelajaran untuk Penyusunan ATP Mata Pelajaran : IPAS

Fase : B

Tujuan Pembelajaran untuk Domain/Elemen Pemahaman IPAS

ElemenCapaian PembelajaranTujuan PembelajaranAlur Tujuan Pembelajaran
Pemahaman IPASMenjelaskan bentuk dan fungsi panca indra; menganalisis siklus hidup makhluk hidup dan upaya pelestariannya; menghasilkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim; menyimpulkan proses perubahan wujud zat dan perubahan bentuk energi; menjelaskan sumber dan bentuk energi, serta proses perubahan bentuk energi dalam kehidupan sehari hari; membedakan jenis gaya dan pengaruhnya terhadap arah,Menjelaskan bentuk dan fungsi pancaindra Menganalisis siklus hidup makhluk hidup dan upaya pelestariannya Menghasilkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim Menyimpulkan proses perubahan wujud zat Menjelaskan sumber dan bentuk energi, serta proses perubahan bentuk energi dalam kehidupan sehari-hari Membedakan jenis gaya dan pengaruhnyaKelas III Menjelaskan bentuk dan fungsi pancaindra Menganalisis siklus hidup makhluk hidup dan upaya pelestariannya Menjelaskan peran, tugas, dan tanggung jawab serta interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan sekolah Menjelaskan sumber dan bentuk energi, serta proses perubahan bentuk energi dalam kehidupan sehari- hari Menganalisis sejarah masyarakat di lingkungan tempat tinggal Kelas IV Menjelaskan nilai mata uang dan fungsinya, serta cara mengelola keuangan secara bijak. Mengenali letak
ElemenCapaian PembelajaranTujuan PembelajaranAlur Tujuan Pembelajaran
gerak, dan bentuk benda; menjelaskan peran, tugas, dan tanggung jawab serta interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan sekolah; mengenali letak kabupaten/ kabupaten dan provinsi tempat tinggalnya dengan menggunakan peta konvensional/ digital; mengklasifikasikan ragam bentang alam dan keterkaitannya dengan profesi masyarakat, ragam budaya serta upaya untuk melestarikannya; menganalisis sejarah masyarakat di lingkungan tempat tinggal; menjelaskan nilai mata uang dan fungsinya, serta cara mengelola keuangan secara bijak.terhadap arah, gerak, dan bentuk benda Menjelaskan peran, tugas, dan tanggung jawab serta interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan sekolah Mengenali letak kabupaten/ kabupaten dan provinsi tempat tinggalnya dengan menggunakan peta konvensional/digital Mengklasifikasikan ragam bentang alam dan keterkaitannya dengan profesi masyarakat, ragam budaya serta upaya untuk melestarikannya Menganalisis sejarah masyarakat di lingkungan tempat tinggal Menjelaskan nilai mata uang dan fungsinya, serta cara mengelola keuangan secara bijak.kabupaten/ kabupaten dan provinsi tempat tinggalnya dengan menggunakan peta konvensional/digital Menyimpulkan proses perubahan wujud zat Membedakan jenis gaya dan pengaruhnya terhadap arah, gerak, dan bentuk benda Mengklasifikasikan ragam bentang alam dan keterkaitannya dengan profesi masyarakat, ragam budaya serta upaya untuk melestarikannya Menghasilkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim

Pembelajaran dilaksanakan berpusat pada peserta didikdengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM). Prinsip Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang berkesadaran, bermakna dan menyenangkan, dengan tahapan kognitif pemahman, penerapan dan refleksi evaluasi, melalui model-model pembelajaran:

Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran menggunakan kemampuan berpikir wmuridsecara individu maupun ke- lompok

serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga ber- makna, relevan, dan kontekstual. Tujuan PBL untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan nyata, pengintegrasian konsep keterampilan berpikir tingkat tinggi, keinginan belajar, mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan.

Project Based Learning (PjBL)

Model pembelajaran berbasis projek merupakan model pembelajaran yangmeli-batkan keaktifan muriddalam memecahkan masalah, dilakukan secara berkelompok maupun mandiri melalui tahapan ilmiah dengan batasanwaktu ter-tentu yang dituangkan dalam sebuah produk untuk selanjutnya dipresentasikan kepada orang lain.

Discovery Learning

Model pembelajaran penemuan adalah memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Penemuan terjadi jika muridterlibat dalam penggunaan proses mental untuk menemukan konsep dan prinsip. Penemuan dilakukan melalui observasi,klasifi- kasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan inferensi.

Inquiry Learning

Inquiry Learning (Pembelajaran Inkuiri) adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar. Dalam pembelajaran ini, murid aktif mencari, menyelidiki, dan menemukan sendiri pengetahuan melalui proses bertanya, mengumpulkan informasi, menganalisis, dan menarik kesimpulan.

Pembelajaran Kolaboratif:

Murid bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas atau proyek. Pembelajaran kolaboratif mendorong murid untuk berbagi ide, belajar dari satu sama lain, dan mengembangkan keterampilan sosial.

Joyful Learning:

Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran

Strategi yang digunakan dalam pembelajaran tatap muka yaitu pembelajaran berbasis aktivitas, studi literatur, dan studi lingkungan.

MIN 2 Kulon Progo memberikan layanan kepada seluruh muridtermasuk

melaksanakan program inklusif. Selain itu, juga memberikan kesem- patan kepada seluruh muridberkebutuhan khusus danpotensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mendapatkan pendidikan bersama dengan muridpada umumnya. Satuan pendidikan bermitra denganprofesional terkait untuk melakukan asesmen terhadap muridsehingga dapat merencanakan pem- belajaran yang tepat sesuai kebutuhan peserta didik. Diharapkan muridberkebutuhan khusus dapat mengembangkan potensi dan kemampuannya secara optimal.

MIN 2 Kulon Progo menyelenggarakan asesmen diagnostik dengan profesional terkait untuk mendiagnosis murid yang terindikasi memiliki kebutuhan khusus. Setelah hasil asesmen diagnostik didapatkan, sekolah mengomunikasikan kepada orang tua yang bersangkutan guna mengambil langkah strategis dalam men-dampingimuridbelajar. Sekolah mengajukan penyediaan guru pembimbing khusus untuk mendampingi muridbelajar di kelas. Hasil asesmen diagnostik digunakan oleh pendidik untuk merencanakan pembelajaran terdiferensiasi (inklusif).

Pendidik juga melakukan penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran bagimuridberkebutuhan khusus. Penyelenggaraan pembelajaran terdiferen-siasi/inklusif dievaluasi setiap semester. Pengaturan penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran bagi murid berkebutuhan khusus sebagai berikut:

Bagi murid terdiagnosa tunagrahita

Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran minimal sebesar 40% dari keseluruhan capaian pembelajaran. Penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran:

PencapaianKriteriaIntervensi
0%-40%Belum mencapai tujuan pembelajaranPerlu perbaikan pembelajaran
>40%Sudah mencapai tujuan pembelajaranMelanjutkan ke tujuan pembelajaran berikutnya

Bagi murid terdiagnosa slow learner

Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran minimal sebesar 50% dari keseluruhan capaian pembelajaran.

Penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran:

PencapaianKriteriaIntervensi
0%-50%Belum mencapai tujuan pembelajaranPerlu perbaikan pembelajaran
>50%Sudah mencapai tujuan pembelajaranMelanjutkan ke tujuan pembelajaran berikutnya

Kokurikuler

MIN 2 Kulon Progo memberikan kesempatan pada murid untuk mengembangkan kegiatan projek sesuai dengan minat dan karakteristik daya dukung lingkungan. Pendidik sebagai fasilitator agar murid dapat mengem- bangkan dimensi Profil lulusan melalui rangkaian proses kegiatan pembelajaran lintas mata Pelajaran berbasis projek, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) dan kegiatan lainnya berupa literasi, Peringatan Hari Besar Nasional. Murid melaksanakan kegiatan kokurikuler sesuai dengan tema-tema yang sudah ditetapkan oleh MIN 2 Kulon Progo sebagai berikut:

Perencanaan Kokurikuler dengan alur sebagai berikut:

Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu

Gambar 3: Alur Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Lintas Disiplin Ilmu

Alur Kokurikuler Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Gambar 4: Tahapan Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Gerakan 7KAIH

Alur Kokurikuler Penguatan Literasi

Gambar 5: Tahapan Pengembangan Penguatan Literasi

Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan

Kenaikan Kelas

Penentuan kenaikan kelas dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian Murid pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain selama 1 (satu) tahun ajaran. Untuk menilai pencapaian hasil belajar Murid sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dapat berdasarkan penilaian sumatif. Penilaian pencapaian hasil belajar Murid untuk kenaikan kelas dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar Murid dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

Mekanisme atau kriteria kenaikan kelas diatur dalam kurikulum merdeka, namun banyak sekolah/madrasah yang diberikan kebebasan dalam menentukannya, namun harus seuai prosedur yang telah ditetapkan. Hal ayng menjadi dasar dalam penentuan kenaikan kelas meliputi:

Laporan kemajuan belajar

Portofolio Murid

Prestasi akademik dan non akademik

Ekstrakurikuler

Penghargaan Murid

Tingkat kehadiran

Selain komponen utama, terdapat syarat administratif dan etis yang juga wajib dipenuhi murid, seperti:

70% mata pelajaran harus mencapai ketuntasan nilai 75.

Mapel Agama dan PPKn tidak boleh tidak tuntas dua semester berturut-turut.

Nilai Kepramukaan minimal “BAIK”.

Tidak alpa lebih dari 11 hari (5% dari hari efektif).

Tidak melanggar tata tertib berat atau ketentuan hukum.

Syarat-syarat ini tertuang dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen PAUD, Dikdasmen 2024 serta Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.

Kelulusan

Untuk menilai pencapaian hasil belajar Murid sebagai dasar kelulusan dapat berdasarkan penilaian sumatif, yang dapat dilakukan dalam bentuk tes tulis, tugas untuk performa, portofolio, atau kombinasi. Penilaian pencapaian hasil belajar Murid untuk kelulusan dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar Murid dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.kriterian ketercapaian tujuan pembelajaran.

Penilaian sumatif yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dilaksanakan pada semester ganjil dan/atau semester genap pada akhir jenjang dengan mempertimbangkan capaian kompetensi lulusan.

Seperti halnya kenaikan kelas, penentuan kelulusan ditentukan oleh satuan pendidikan. Penentuan kelulusan dari satuan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian Murid pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain pada:

kelas V dan kelas VI untuk sekolah dasar atau bentuk lain yang sederajat; dan

setiap tingkatan kelas untuk sekolah menengah pertama atau bentuk lain yang sederajat dan sekolah menengah atas atau bentuk lain yang sederajat.

Murid dinyatakan lulus dari satuan/program pendidikan setelah:

menyelesaikan seluruh program pembelajaran; dan

mengikuti penilaian sumatif yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Kelulusan Murid ditetapkan oleh satuan/program pendidikan yang bersangkutan. Murid yang dinyatakan lulus dari satuan/program pendidikan diberikan ijazah. Ijazah diberikan pada akhir semester genap pada setiap akhir jenjang. Ketentuan mengenai ijazah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Mutasi Murid

Mutasi atau perpindahan murid pada hakekatnya adalah berpindahnya kegiatan belajar mengajar dari satu madrasah ke sekolah/madrasah yang lain, baik itu masih satu kabupaten/kota atau luar kota. Proses kegiatan belajar yang dilakukan oleh murid yang melakukan mutasi itu sifatnya melanjutkan bukan mengulang, jadi hal-hal yang berkaitan dengan murid tersebut baik itu berupa absensi atau penilaian semuanya

harus ada laporan ke sekolah barunya, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dalam proses belajar.

Mutasi atau perpindahan Murid dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Mutasi Intern

Mutasi intern adalah mutasi yang dilakukan oleh Murid di dalam sekolahan itu sendiri. Umumnya, Murid demikian hanyalah pindah kelas saja, dalam suatu kelas yang tingkatannya sejajar.

Mutasi Ekstern

Mutasi ekstern adalah perpindahan Murid dari satu sekolah ke madrasah lain dalam satu jenis, dan dalam satu tingkatan. Meskipun ada juga Murid yang pindah ke sekolah/madrasah lain dengan jenis sekolah/madrasah yang berlainan. Pada Madrasah Negeri hal demikian menjadi persoalan, meskipun pada madrasah swasta, terutama yang kekurangan Murid, tidak pernah menjadi persoalan.

Mengenai mutasi atau perpindahan murid, ada pedoman peraturan yang harus diikuti di antara lain menyangkut:

Pembatasan Wilayah

Murid tidak diperkenankan pindah dari sekolah ke sekolah lain dalam satu wilayah. Perpindahan antar wilayah bisa dibenarkan apabila didasarkan pada alasan yang cukup mendasar misalnya orang tua pindah tempat kerja dan anak ikut saudaranya dikota lain.

Status Sekolah

Murid dari sekolah swasta walaupun memiliki mutu yang lebih baik dari pada sekolah Negeri, tidak diperkenankan untuk pindah ke sekolah Negeri. Sekolah-sekolah Negeri hanya diperkenankan murid pindahan dari sekolah Negeri saja.

Jenis Sekolah

Sekolah Negeri atau sekolah menengah dapat dibedakan dalam dua jenis sekolah, yaitu sekolah- sekolah umum dan sekolah-sekolah kejuruan. Perpindahan murid dari lain jenis sekolah tidak diperbolehkan.

Pindah sekolah tidak naik kelas

Suatu madrasah tidak boleh menaikkan kelas seorang murid yang telah dinyatakan tidak naik kelas oleh sekolah/madrasah lain, walaupun sama-sama sebagai sekolah negeri. Menaikan kelas seorang murid yang telah dinyatakan tidak naik kelas oleh suatu sekolah mungkin saja terjadi di sekolah-sekolah swasta. Misalnya tidak naik kelas di sekolah negeri kemudian pindah di sekolah swasta sejenis dengan dinaikan kelasnya.

Dalam ketertiban pengadminsitrasian perpindahan murid (mutasi) MIN 2 Kulon Progo meyediakan buku mutasi murid. Buku ini merekap hasil mutasi secara detail, baik mutasi masuk maupun keluar. Jadi adanya buku mutasi akan akan sangat membantu tata kelola kemuridansDibuat buku mutasi yaitu buku yang dipergunakan untuk mencatat murid yang masuk, pindah dan keluar pada tiap-tiap bulan. Buku ini juga merupakan alat bantu untuk mengisi data mutasi pada buku induk dan data statistik tentang keadaan murid di madrash.

PERENCANAAN PEMBELAJARAN RUANG LINGKUP KELAS

Perencanaan pembelajaran ruang lingkup kelas yang akan digunakan oleh MIN 2 Kulon Progo terdiri beberapa aspek, yaitu:

Perencanaan Pembelajaran

Strategi Pembelajaran

Model Pembelajaran

Media Pembelajaran

Penilaian atau Asesmen Pembelajaran

Ketuntasan Hasil Pembelajaran

Penjelasan lebih lanjut dari aspek-aspek perencanaan pembelajaran ruang linkup kelas diatas akan tergambar pada penjelasan berikut :

Perencanaan Pembelajaran di Kelas

Dalam melaksanakan perencanaan pembelajaran di masing-masing kelas tahun ajaran 2026/2027, MIN 2 Kulon Progo memiliki beberapa perencanaan yang nantinya dapat diterapkan oleh madrasah atau guru. Perencanaan yang dilakukan di kelas berdasarkan prinsip pembelajaran paradigma baru antara lain:

Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian Murid saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan Murid yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan.

Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter Murid secara holistik.

Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya Murid, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.

Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran yang akan diterapkan oleh guru kelas dan guru mata pelajaran di MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 adalah sebagai berikut:

Koordinasi Persiapan Pembelajaran

Persiapan pembelajaran perlu dilakukan oleh guru mata pelajaran, baik yang mata pelajarannya terintegrasi secara materi maupun yang terintegrasi dalam bentuk Proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin. Kegiatan ini dilakukan untuk membuat kesepakatan terhadap jalannya proses pembelajaran, agar berjalan secara efektif dan sesuai dengan Alur Tujuan Pembelajaran.

Prosedur

Untuk prosedur pelaksanaan pembelajaran dalam 1 kali pertemuan standarnya adalah terdiri dari kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Setiap kegiatan memiliki komponen minimal yang harus dilaksanakan oleh guru namun guru diperbolehkan untuk menambah variasi agar pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan menarik selama tetap memperhatikan ketercukupan waktu pertemuan.

Kegiatan minimal yang harus dilaksanakan pada setiap langkah kegiatan pembelajaran diantaranya dapat terlihat dalam tabel berikut:

No.KegiatanKegiatan Minimal yang dilakukanKegiatan Minimal yang dilakukan
1.Pembuka1.Menyiapkan kondisi fisik dan psikis Murid
1.Pembuka2.Menyampaikan tujuan pembelajaran
1.Pembuka3.Memberikan apersepsi
2.Inti1.Melaksanakan pembelajaran sesuai model pembelajaran yang dipilih.
2. 3. 4.Melakukan integrasi ketrampilan literasi, 4C (communication, Collaboration, Critical Thinking & Creativity) dan HOTS (Hight Order Thinking Skill) dalam pembelajaran. Melakukan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta Melakukan Integrasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
3.Penutup1.Melakukan refleksi
3.Penutup2.Menyampaikan rencana tindak lanjut

Model Pembelajaran

Standar model pembelajaran yang dipergunakan oleh MIN 2 Kulon Progo dipilih berdasar kebutuhan untuk memberikan pembelajaran yang bersifat inkuiri dan kontekstual dalam kegiatan inti pembelajaran yang diberikan pada Murid. Standar model pembelajaran di MIN 2 Kulon Progo yang rencana akan digunakan dalam kegiatan proses pembelajaran di antaranya :

Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang berbasis pada masalah, di mana masalah tersebut digunakan sebagai stimulus yang mendorong murid menggunakan pengetahuannya untuk merumuskan sebuah hipotesis, pencarian informasi relevan yang bersifat student-centered melalui diskusi dalam sebuah kelompok kecil untuk mendapatkan solusi dari masalah yang diberikan.

Tujuan yang ingin dicapai oleh PBL adalah kemampuan murid untuk berpikir kreatif, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah malalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.

Kekuatan atau manfaat utama penerapan model pembelajaran PBL adalah sebagai berikut.

Murid akan tertantang untuk menyelesaikan masalah yang akan membuat murid menjadi terbiasa menghadapi masalah.

Solidaritas sosial akan terpupuk dengan adanya diskusi dengan teman satu kelompok.

Guru dengan murid akan semakin akrab.

Murid akan terbiasa menerapkan metode eksperimen karena ada kemungkinan suatu masalah yang harus diselesaikan murid melalui eksperimen.

Project Based Learning (PjBL)

Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning atau PjBL) merupakan pendekatan yang menekankan proses belajar melalui eksplorasi, penelitian, dan penciptaan produk nyata. Dalam model ini, murid diberikan masalah kontekstual yang harus dipecahkan secara kolaboratif melalui serangkaian kegiatan yang mencerminkan kehidupan nyata. PjBL bertumpu pada ide bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika murid dilibatkan secara langsung dan aktif. PjBL tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa produk, tetapi juga menekankan pada proses pencarian, analisis informasi, kerja sama tim, dan refleksi atas pembelajaran. Model ini cocok untuk membangun keterampilan abad 21, seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kritis. Melalui proyek, murid dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran dan dunia nyata, sehingga motivasi belajar mereka meningkat.

Dalam konteks pendidikan formal, model pembelajaran ini mulai banyak diadopsi oleh sekolah-sekolah yang ingin bertransformasi dari sistem pembelajaran konvensional ke arah yang lebih inovatif. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing murid dalam menyelesaikan proyek mereka. Murid menjadi subjek aktif dalam proses pembelajaran.

Penerapan PjBL membutuhkan desain pembelajaran yang matang. Guru harus mampu memilih proyek yang relevan, menarik, dan sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Selain itu, waktu pelaksanaan dan instrumen penilaian juga harus dirancang secara detail agar proses belajar tetap terstruktur namun fleksibel. Hal ini menuntut guru untuk memiliki kreativitas dan keterampilan pedagogis yang tinggi.

Model pembelajaran berbasis proyek juga mendukung diferensiasi pembelajaran. Karena murid dapat memilih pendekatan atau tema proyek sesuai minat dan gaya belajarnya, maka potensi masing-masing individu bisa lebih berkembang. Dengan demikian, PjBL tidak hanya meningkatkan hasil akademik, tetapi juga membangun karakter murid melalui pengalaman belajar yang bermakna.

Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Artinya, kelompok belajar yang disusun haruslah beragam dan tidak pandang bulu.

Pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif murid secara bersamaan. Selain itu, manfaat dan kelebihan dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.

Murid yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.

Murid yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.

Melalui pembelajaran kooperatif, murid menjadi lebih peduli pada temantemannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif (interdependensi positif) untuk proses belajar mereka nanti.

Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan murid terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.

Discovery Learning

Model pembelajaran discovery learning adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan Murid untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.

Discovery learning merupakan model pembelajaran yang membantu Murid untuk mengalami dan menemukan pengetahuannya sendiri sebagai wujud murni dalam proses pendidikan yang memberikan pengalaman yang mengubah perilaku sehingga dapat memaksimalkan potensi diri. Model discovery learning lebih menekankan pada pengalaman langsung murid dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar.

Kelebihan model pembelajaran discovery learning adalah sebagai berikut.

Membantu Murid untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif.

Murid memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan mengendap dalam pikirannya.

Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar Murid untuk belajar lebih giat lagi;

Memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing;

Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada Murid dengan peran guru yang sangat terbatas.

Media Pembelajaran

Sebagai alat bantu proses pembelajaran, MIN 2 Kulon Progo menetapkan standar media pembelajaran yang akan digunakan. Standar media pembelajaran yang ditetapkan mengacu pada prinsip mengintegrasikan teknologi pada pembelajaran dan memberi pengalaman belajar yang kaya pada Murid di masing-masing kelas. Jenis standar media pembelajaran MIN 2 Kulon Progo dibedakan menjadi 2, yaitu media wajib dan media pilihan. Media wajib adalah media pembelajaran yang harus dipergunakan dalam setiap pembelajaran dan media pilihan adalah media pembelajaran yang boleh dipergunakan dalam pembelajaran jika diperlukan. Guru diperbolehkan menambah media pembelajaran lain jika dirasa perlu dengan tetap memperhatikan tujuan dan efektifitas pembelajaran.

Standar media pembelajaran MIN 2 Kulon Progo baik yang wajib atau yang pilihan dapat dilihat di tabel berikut:

No.JenisMedia PembelajaranMedia Pembelajaran
1.Wajib1.Laptop
1.Wajib2.Konten Belajar Digital
2.Pilihan1.Alat Peraga
2.Pilihan2.LCD Proyektor
2.Pilihan3.Papan Tulis.
4.Video
5.Zoom
6.Internet
7.Dll.

Penilaian atau Asesmen Pembelajaran

Pelaksanaan penilaian atau asesmen pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru kelas maupun guru mata pelajaran di MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 terbagi menjadi 3 (tiga) jenis asesmen, antara lain:

Asesmen Diagnostik

Assessmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui informasi kognitif dan non kognitif. Guru melaksanakan assessment diagnostik kognitif secara lisan dan tulis, baik diawal tahun pelajaran maupun akhir pekan untuk memetakan kemampuan dasar Murid dalam memahami materi.

Asesmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui informasi kognitif dan non kognitif. Guru melaksanakan asesmen diagnostik kognitif secara lisan dan tulis, baik diawal tahun pelajaran maupun akhir pekan untuk memetakan kemampuan dasar Murid dalam memahami materi. Assessment diagnostik nonkognitif digunakan untuk menegathui informasi terkait dengan gaya belajar, bakat, minat, senin, karakter Murid. Guru melakukan di awal tahun ajaran baru maupun akhir pekan baik secara lisan maupun tulis.

Asesmen Formatif

Asesmen formatif dilaksanakan guru dengan menggunakan berbagai instrument, baik tes tulis, tes lisan, praktik, proyek, portofolio, penugasan. Hasil kegiatan tersebut digunakan oleh guru untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sedangkan oleh Murid digunakan sebagai bahan refleksi.

Asemen Sumatif

Assessmen Sumatif dilakukan di akhir tema, bab, unit, lingkup materi. Instrument yang digunakan adalah tes lisan, tes tulis, praktik, dan proyek. Jenis yang digunakan adalah penilaian harian (PH), asesmen akhir semester (ASAS), asesmen akhir tahun (ASAT). Nilai tersebut digunakan untuk pelaporan hasil belajar (raport).

Ketuntasan Hasil Pembelajaran

Untuk mengetahui apakah Murid telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, pembelajaran ataupun modul ajar.

Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/didemonstrasikan Murid sebagai bukti bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran Lingkup Kelas tak lepas dari dua hal penting, yaitu pengaturan kelas dan pengelolaan pembelajaran kelas. Pengaturan kelas lebih mengedapankan pada manajemen sarana prasarana, terkait pemetaan tata letak kelas melihat segi ketersediaan lahan, ketercukupan, maupun keamanan. Sedang pengelolaan pembelajaran kelas lebih menjadi wewenang guru kelas dalam mengatur kelas dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penjelasan lebih terakit pengaturan kelas dan pengelolaan pembelajar di kelas disampaikan berikut ini

Pengaturan Kelas

Mengatur lingkungan fisik bagi pengajaran merupakan titik mula yang logis untuk pengelolaan ruang kelas karena hal ini merupakan subuah tugas yang dihadapi semua guru sebelum kegiatan kelas dimulai. Banyak guru merasa lebih mudah merencanakan aspek pengelolaan kelas non-fisik dibandingkan harus mengatur lingkungan kelas dalam mendukung dan mencapai tujuan pembelajaran.

Pengaturan ruang kelas merupakan bentuk dari kemampuan guru dalam memanajemen kelas dan menciptakan iklim pembelajaran yang baik bagi murid. Ruang kelas bukanlah wilayah yang sangat luas bagi murid hingga puluhan orang berinteraksi selama periode waktu yang lama selama 5-8 jam sehari. Guru dan murid akan selalu terlibat dalam berbagai kegiatan dalam menggunakan berbagai wilayah ruang yang berbeda dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru akan selalu memfasilitasi kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan baik jika guru mengatur ruang kelas untuk memungkinkan pergerakan yang teratur, mempertahankan distraksi seminimal mungkin, dan menggunakan ruang yang tersedia secara efisien.

Untuk pengaturan kelas di MIN 2 Kulon Progo tersaji seperti gambar denah berikut.

Denah Ruang Kelas MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027

Keterangan :

Pengelolaan Pembelajaran di Kelas

Pembelajaran Esensial

Pembelajaran esensial merupakan pola pembelajaran dasar yang sangat penting dan fundamental dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pembelajaran esensial membantu para guru untuk membuat proses pembelajaran agar lebih fokus pada Murid. Pembelajaran esensial fokus pada materi esensial, dan ini menjadi karakteristik dari Kurikulum Merdeka. Materi esensial yang ada dalam konteks ini yaitu literasi dan numerasi. Melihat fokus pada materi tersebut, menunjukkan bahwa pada kurikulum ini fokus utama adalah pada kualitas dan bukannya kuantitas. Hal tersebut juga berhubungan erat dengan capaian pembelajaran Murid.

Pembelajaran esensial yang fokus pada materi esensial akan berpengaruh pada adanya pengurangan materi pelajaran atau pokok bahasa. Dengan adanya pengurangan materi pelajaran ini guru tidak perlu mengajar dengan tergesa-gesa agar bisa mencapai target tujuan yang ada.

Manfaat pembelajaran esensial dengan materi esensial adalah sebagai berikut.

Membantu murid fokus pada pemahaman mendalam.

Mengorganisis pembelajaran yang fokus pada murid.

Membantu murid agar bisa mendapatkan pengajaran yang terbaik.

Memberikan pembelajaran yang efektif dan tidak tergesa-gesa.

Membantu guru dalam menyampaikan materi lebih leluasa.

Pembelajaran Adaptif

Pembelajaran adaptif adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan teknologi untuk secara otomatis menyesuaikan konten, urutan, dan metode penyampaian materi pembelajaran berdasarkan kinerja, preferensi, dan gaya belajar setiap murid. Sistem ini memantau kemajuan murid secara real-time, mendeteksi area yang perlu ditingkatkan, dan memberikan umpan balik yang personal. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan efektivitas belajar dengan memberikan pengalaman belajar yang terpersonalisasi dan efisien bagi setiap individu. Berbeda dengan pembelajaran tradisional yang cenderung seragam, pembelajaran adaptif bersifat dinamis dan fleksibel, menyesuaikan diri dengan perkembangan masing-masing murid. Intinya, sistem ini berusaha menciptakan lingkungan belajar yang optimal bagi setiap murid untuk mencapai potensi maksimalnya.

Pembelajaran adaptif bukan hanya tentang menyesuaikan tingkat kesulitan materi, tetapi juga tentang menyesuaikan metode penyampaian dan jenis aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing murid. Sistem ini juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti motivasi dan kebutuhan emosional murid untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.

Sistem pembelajaran adaptif umumnya menggunakan algoritma kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk menganalisis data murid. Data ini bisa meliputi:

Kinerja murid: Skor tes, waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan tugas, tingkat keakuratan jawaban, dan pola kesalahan.

Preferensi murid: Gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), kecepatan belajar, dan topik yang disukai.

Umpan balik murid: Respon murid terhadap materi, pertanyaan, dan aktivitas belajar.

Berdasarkan analisis data tersebut, sistem pembelajaran adaptif akan:

Menyesuaikan konten: Memberikan materi yang sesuai dengan tingkat pemahaman murid, mulai dari materi pengayaan hingga materi remedial.

Mengatur urutan materi: Menyusun urutan materi yang optimal berdasarkan kemajuan belajar murid.

Memilih metode penyampaian: Menggunakan metode penyampaian yang sesuai dengan gaya belajar murid, misalnya video, teks, simulasi, atau permainan.

Memberikan umpan balik personal: Memberikan umpan balik yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan murid, bukan hanya sekedar nilai atau skor.

Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada kaitan antara materi yang dipelajari dengan kondisi di kehidupan nyata yang bisa dilihat dan dianalisis oleh Murid. Artinya, saat kegiatan pembelajaran berlangsung murid seolah bisa merasakan dan melihat langsung aplikasi nyata materi yang sedang dipelajari. Pembelajaran yang berarti dan efektif terjadi ketika muriddapat melihat hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan pengalaman dan konteks mereka sehari-hari.

Dalam model pembelajaran kontekstual, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid menjembatani hubungan antara materi pelajaran dan kehidupan mereka. Hal ini melibatkan penyajian materi pembelajaran dalam konteks yang relevan dan menggugah minat murid. Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar murid, mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta membentuk karakter murid yang positif. Pendekatan ini dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dengan berbagai cara yang kreatif dan inovatif.

Beberapa prinsip pembelajaran kontekstual: 1) Relevansi: Materi pembelajaran harus relevan dengan kehidupan sehari-hari murid, 2) Keterkaitan: Materi pembelajaran harus saling berkaitan satu sama lain, 3) Aktif: Murid harus aktif dalam proses pembelajaran, 4) Bermakna: Murid harus dapat memahami makna dari materi pembelajaran yang dipelajari, dan 5)

Autentik: Kegiatan pembelajaran harus bersifat autentik, yaitu berkaitan dengan dunia nyata.

Adapun manfaat metode pembelajaran ini bagi Murid adalah sebagai berikut.

Meningkatkan kemampuan Murid untuk berpikir secara kritis, logis, dan sistematis.

Pemahaman yang diperoleh Murid bisa bertahan lebih lama karena memahami dengan menerapkan.

Murid bisa lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Meningkatkan kreativitas Murid berkaitan dengan permasalahan yang ada di sekitar yang disesuaikan dengan keilmuan yang didapatkan.

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful learning), bermakna (meaningful learning), dan menggembirakan (joyful learning) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Dalam penerapan Pembelajaran Mendalam semua pihak yang terlibat saling menghargai dan menghormati dengan mempertimbangkan potensi, martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Deep learning mendorong pembelajaran mampu memuliakan manusia dengan segala perbedaan kemampuan dan keahliannya.

Metode ini berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kemampuan analisis, dan kreativitas, dengan tujuan menciptakan pemahaman yang lebih holistik. Dalam pendekatan ini, murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif dalam membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman belajar yang memacu mereka untuk berpikir secara mandiri dan bekerja sama. Pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis inkuiri, studi kasus, dan simulasi kehidupan nyata merupakan metode turunan dari pendekatan ini. Pendekatan ini tidak hanya mengembangkan pengetahuan mereka tentang topik tersebut, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan dunia nyata.

Meaningful Learning

Meaningful learning atau pembelajaran bermakna adalah pendekatan yang menekankan pentingnya keterkaitan antara pengetahuan baru dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki murid sebelumnya. Tujuan utama dari pembelajaran bermakna adalah agar murid dapat melihat bagaimana materi yang dipelajari relevan dengan kehidupan mereka, sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan signifikan.

Mindful Learning

Mindful learning atau pembelajaran dengan kesadaran penuh menuntut murid untuk terlibat sepenuhnya dalam proses belajar dengan perhatian yang utuh. Pembelajaran ini tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga memberi perhatian besar pada proses yang dilalui murid.

Dalam mindful learning, murid diminta untuk fokus, melibatkan diri secara mental dan emosional, serta memberi perhatian penuh terhadap materi yang sedang dipelajari tanpa terganggu oleh faktor eksternal. Pembelajaran ini mengajarkan pentingnya kesadaran dan refleksi dalam belajar.

Joyful Learning

Joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang positif dan penuh motivasi. Dalam pendekatan ini, murid belajar dalam suasana yang tidak menakutkan dan justru menggairahkan mereka untuk lebih aktif terlibat. Pembelajaran yang menyenangkan melibatkan aktivitas yang interaktif, eksploratif, dan kolaboratif, yang mampu menumbuhkan semangat belajar dan meningkatkan keterlibatan murid. Dengan suasana yang menyenangkan, murid lebih termotivasi dan merasa lebih nyaman dalam belajar.

Deep learning memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari pendekatan pembelajaran lainnya.

Pembelajaran berbasis eksplorasi, belajar aktif, dan berbasis konsep.

Mendorong kolaborasi rasa ingin tahun dan berpikir kritis.

Buku teks adalah salah satu sumber pengetahuan.

Multidisiplin

Dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid.

Kelas bersifat heterogen.

Asesmen autentik, berbasis kinerja.

Sekolah adalah tentang perkembangan akademik, sosial, dan emosional.

Guru mengajar dan merencanakan pembelajaran dalam tim.

Pembelajaran merupakan aktivitas kolaboratif.

Penerapan deep learning dalam pendidikan membawa banyak manfaat bagi murid. Salah satu kelebihannya adalah memperkuat keterampilan berpikir kritis dan analitis. Dengan metode ini, murid dilatih untuk menilai informasi secara lebih mendalam dan mengidentifikasi solusi berdasarkan data serta fakta yang ada, bukan hanya menerima informasi secara pasif. Ini membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara objektif dan membuat keputusan yang lebih tepat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, deep learning memungkinkan murid untuk menghubungkan pengetahuan teoretis dengan penerapan nyata

Kurikulum Berbasis Cinta

Kurikulum Berbasis Cinta sebagai sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitik beratkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, dan perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan. Melalui Kurikulum ini diharapkan melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.

Kurikulum Berbasis Cinta mengambil posisi sebagai jiwa (soul) dari seluruh penyelenggaraan pendidikan dan pemhelajaran pada implementasi Kurikulum Nasional. Adapun materi pokok Kurikulum Berbasis Cinta meliputi:

Cinta kepada Allah SWT (Hubbullah)

Membentuk kecintaan mendalam kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara. Cinta kepada Allah sebagai muara munculnya cinta pada makhluk-Nya.

Cinta kepada Rasulullah (Hubburrasul)

Meneladani akhlak mulia Rasulullah SWA sebagai teladan cinta kasih.

Cinta kepada Diri Sendiri (Hubbunnafs)

Membentuk karakter dnegan membiasakan menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri.

Cinta kepada Sesama (Hubbunnaas)

Menanamkan empati dan toleransi terhadap sesama manusia (orang tua, guru, saudara, tetangga, teman, dan sesama umat beragama maupun antar umat agama)

Cinta kepada Lingkungan (Hubbulbiah)

Menanamkan kesadaran untuk menjaga alam dan lingkungan sebagai amanah Allah SWT.

Cinta kepada Bangsa dan Negara (Hubbul wathan wal bilad) Menumbuhkan semangat cinta tanah air sebagai bagian dari iman

Kurikulum berbasis Cinta dikembangkan dengan prinsip: 1) pendidikan berbasis nilai, 2) pengembangan karakter, 3) pendekatan holistik, 4) keterlibatan komunitas, 5) pembelajaran berbasis pengalaman, 6) dialog dan komunikasi terbuka, 7) kreativitas dan inovasi, dan 8) evaluasi berbasis proses. Adapaun pendekatan dan strategi penerapan Kurikulum Berbasis Cinta melalui:

Reflective Learning

Penekanan lebih apda analisis, pemaknaan, konsolidasi, evaluasi diri, dna tindak lanjut terkait pelaksanaan pembelajaran.

Multikultural

Pengakuan terhadap keragaman budaya, kesetaraan, toleransi dan kasih sayang, inklusi dan partisipasi aktif.

Partisipatif dan Kolaboratif

Keterlibatan aktif, kolaborasi, refleksi, kritis, dan demokratis dan inklusif dari pelaku pembelajaran, baik guru, murid, dan aktivitas selama proses KBM.

Humanistik dan Pendidikan Karakter

Lebih kepada pembentukan moral, pengembangan kepribadian, membangun kompetensi sosial.

Integratif

Pembelajaran menyajikan konsep dari berbagai bidang studi, student centered, dan memberikan pengalaman langsung kepada murid.

Keteladanan (Qudwah)

Bagaimana ucapan, sikap dan perilaku menjadi cerminan dari pembiasaan positif yang menumbuhkembangkan karakter baik dan positif.

Kurikulum Berbasis Cinta bisa diimplementasikan dengan lebih terarah dan terukur dengan capaian proses belajar yang mampu memenuhi 3 pilar utama yaitu meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning, melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga apabila model pembelajaran yang digunakan tepat. Adapaun model pembelajaran yang dikembangkan dan diimplementasikan dalam Kurikulum Berbasis Cinta antara lain:

Pembelajaran Berbasi Projek (Project Based Learning)

Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Pembelajaran Penyelidikan (Inquiry Learning)

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Pembelajaran LOK-R (Literasi, Orientasi, Kolaborasi, dan Refleksi)

BAB IV

PENDAMPINGAN, EVALUASI, DAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL

PENDAMPINGAN

Pelaksanaan pendampingan MIN 2 Kulon Progo dilakukan secara internal oleh madrasah untuk memastikan pembelajaran berjalan sesuai rencana untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Proses ini dikelola oleh kepala madrasah dan atau guru yang dianggap sudah mampu untuk melakukan peran ini. Pendampingan dilakukan secara bertahap dan mandiri agar terjadi peningkatan kualitas secara berkelanjutan di madrasah, sesuai dengan kemampuan madrasah. Dalam melakukan pendampingan dan pengembangan professional ditekankan pada prinsip reflektif dan pengembangan diri bagi guru, serta menggunakan alat penilaian yang jelas dan terukur.

Proses pendampingan dirancang sesuai kebutuhan dan dilakukan oleh kepala madrasah dan atau guru yang berkompetensi berdasarkan hasil pengamatan atau evaluasi. Proses pendampingan dan pengembangan professional ini dilakukan melalui :

Program regular supervisi madrasah, yang dilakukan minimal dua kali dalam satu semester oleh kepala madrasah.

Kegiatan Kelompok Kerja Guru MIN 2 Kulon Progo, yang dilaksanakan sesuai program kerja KKG secara reguler, seperti kegiatan mingguan untuk pendampingan penyusunan atau revisi alur tujuan pembelajaran dan modul ajar. Kegiatan ini merupakan pendampingan oleh kepala madrasah dan guru yang berkompetensi.

Pelaksanaan In-House Training (IHT) atau Focus Group Discussion (FGD), dilakukan minimal enam bulan sekali atau sesuai kebutuhan dengan mengundang narasumber yang berkompeten, instansi terkait dan praktisi pendidikan.

EVALUASI

Evaluasi Kurikulum MIN 2 Kulon Progo secara reguler dilaksanakan secara bertahap yaitu jangka pendek satu tahun sekali dan jangka panjang 4 tahun sekali dengan mempertimbangkan perubahan yang terjadi baik perubahan kebijakan maupun update perkembangan terkini dalam proses pembelajaran. Evaluasi kurikulum dilakukan berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang dilakukan secara reflektif, yaitu:

Evaluasi Harian, dilakukan secara individual oleh guru setelah pembelajaran berdasarkan catatan anekdot selama proses pembelajaran, penilaian dan refleksi ketercapaian tujuan pembelajaran. Hasil evaluasi ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran atau modul ajar pada hari berikutnya.

Evaluasi Per Unit Belajar, dilakukan secara kelompok (team teaching) setelah satu unit pembelajaran atau tema modul ajar pada selesai. Hasil ini digunakan untuk merefleksikan proses belajar, ketercapaian tujuan dan melakukan perbaikan maupun penyesuaian terhadap proses belajar dan perangkat ajar, yaitu alur tujuan pembelajaran dan modul ajar.

Evaluasi Per Semester, dilakukan secara kelompok (team teaching) setelah satu semester selesai. Evaluasi ini dilakukan berdasarkan refleksi pembelajaran dan hasil asesmen Murid yang telah disampaikan pada laporan hasil belajar Murid.

Evaluasi Per Tahun, merupakan refleksi ketercapaian profil lulusan, tujuan madrasah, misi dan visi madrasah.

Pelaksanaan evaluasi kurikulum MIN 2 Kulon Progo dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikulum Madrasah bersama pengawas madrasah, kepala madrasah dan komite madrasah serta pihak lainnya yang telah mengadakan kerja sama dengan madrasah. Evaluasi dilaksanakan berdasarkan data yang telah dikumpulkan pada evaluasi pembelajaran, hasil supervisi kepala madrasah, laporan kegiatan Kelompok Kerja Guru, hasil kerja Murid dan kuesioner Murid dan orang tua. Informasi yang berimbang dan berdasarkan data tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan madrasah kepada Murid, peningkatan prestasi dan hubungan kerja sama dengan pihak lain. Fokus evaluasi pada Implementasi Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Madrasah adalah: ketercapaian Capaian Pembelajaran (CP), hasil penilaian atau Asesmen, kualitas pengajaran, dan keterlaksanaan Program.

PENGEMBANGAN PROFESIONAL

Pelaksanaan pengembangan profesional ditekankan pada prinsip reflektif dan pengembangan diri bagi pendidik, serta menggunakan alat penilaian yang jelas dan terukur. Kepala madrasah merancang dan melakukan proses pengembangan profesional sesuai kebutuhan sebagai tindak lanjut dari hasil pengamatan dan evaluasi dengan melibatkan pengawas madrasah. Program pengembangan profesionalitas MIN 2 Kulon Progo dilakukan melalui beberapa kegiatan sebagaimana yang akan dijelaskan pada tabel berikut.

Pengembangan Profesional MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027

No.Bentuk PengembanganJenis KegiatanJenis KegiatanJenis KegiatanWaktu Pelaksanaan
1.Coaching Proses pendampingan untuk mencapai tujuan dengan menggali pemikiran-pemikiran seseorang terhadap suatu masalah1.Pendampingan pembelajaranPendampingan pembelajaranSatu bulan sekali
1.Coaching Proses pendampingan untuk mencapai tujuan dengan menggali pemikiran-pemikiran seseorang terhadap suatu masalah2.Pendampingan individuPendampingan individuSatu bulan sekali
2.Mentoring Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala1.Supervisi klinis Kepala MadrasahSupervisi klinis Kepala MadrasahSatu bulan sekali
2.Mentoring Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala2.Supervisi klinis pengawas madrasahSupervisi klinis pengawas madrasahDua bulan sekali
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala1.Pelatihan pengembangan CP menjadi ATPPelatihan pengembangan CP menjadi ATPJanuari 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala2.Pengembangan Modul AjarPengembangan Modul AjarFebruari 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala3.Pengembangan modul proyekPengembangan modul proyekMaret 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala4.Pelatihan penilaian dalam kurikulum merdekaPelatihan penilaian dalam kurikulum merdekaMaret-April 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala5.Pengembangan media pembelajaranPengembangan media pembelajaranAgustus 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala6.Pelatihan pustakawan/ operator madrasahPelatihan pustakawan/ operator madrasahJuli 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala7.Pendampingan penanggung jawab ekstrakurikulerPendampingan penanggung jawab ekstrakurikulerJuli 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala*PramukaJuli 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala*Olah ragaJuli 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala*KesenianJuli 2026
3.Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala*KeagamaanJuli 2026

BAB V PENUTUP

Harapan

Kurikulum MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 disusun sebagai kerangka acuan atau pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran di madrasah. Kurikulum Madrasah juga sebagai panduan ketercapaian pembelajaran bagi Murid dan upaya guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran baik itu dengan menggunakan Kurikulum Merdeka. Kurikulum yang telah tersusun ini akan berjalan lancar bila ada dukungan penuh dari semua pihak, yaitu kepala madrasah, guru, komite madrasah dan stakeholder yang ada di madrasah.

Tim Penyusun Kurikulum Madrasah (TPKM) MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 berharap, mudah-mudahan dukungan dan partisipasi aktif semua pihak dapat memajukan lembaga yang kita cintai sesuai dengan apa yang telah terumuskan dalam visi, misi dan tujuan madrasah sehingga terwujudnya madrasah yang mandiri dan berprestasi.

Saran

Kami selaku Tim Penyusun Kurikulum MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran

2026/2027 menyadari jika dalam penyusunan Kurikulum masih banyak kekurangan serta jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami berharap saran dan kritikan dari berbagai pihak agar nantinya dalam penyusunan Kurikulum Madrasah (KM) menjadi lebih baik dan mendekati sempurna.

LAMPIRAN

Lampiran 1. SK Tim Pengembang Kurikulum

KEPUTUSAN KEPALA MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI KULON PROGO NOMOR TAHUN 2026

TENTANG

TIM PENGEMBANG KURIKULUM MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI 2 KULON PROGO

TAHUN AJARAN 2026/2027

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI KULON PROGO

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka mengimplementasikan Peraturan Menteri Agama Nomor 347 Tahun 2022 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah dan Keputusan Menteri Agama Nomor 450 Tahun 2024 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Madrasah maka diperlukan dokumen kurikulum;

Bahwa untuk pelaksanaan program dan kegiatan MIN 2 Kulon Progo Tahun 2026/2027 dalam bidang pengembangan kurikulum yang sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Tim Pengembang Kurikulum;

Bahwa nama yang tercantum dalam lampiran keputusan ini dipandang cakap dan mampu ditugaskan sebagai Tim Pengembang Kurikulum MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional;

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen;

Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Standar Nasional Pendidikan;

Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penyelengaraan Penguatan Pendidikan Karakter;

Peraturan Menteri Agama Nomor 347 Tahun 2022 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka;

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 7 Tahun 2022 Tentang Standar Isi pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah;

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 21 Tahun 2022 Tentang Standar Penilaian Pendidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah;

Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 Tentang Pedoman Kurikulum PAI dan Bahasa Arab di Madrasah;

Keputusan Menteri Agama Nomor 1503 Tahun 2025 Tentang Pedoman Kurikulum pada RA, MI, MTs, MA dan MAK ;

Keputusan Dirjen Pendis Nomor 3302 Tahun 2024 Tentang CP Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah;

Keputusan Kepala BSKAP Nomor 009/H/KR/2022 Tahun 2022 Tentang Dimensi, Elemen, dan Sub Elemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.

Keputusan Kepala BSKAP Nomor 032/H/KR/2024 Tahun 2024 TentangKompetensi dan Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila;

Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 Tahun 2025 Tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka;

Peraturan Gubernur DIY Nomor 64 Tahun 2013 tentang Mata Pelajaran Bahasa Jawa sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI KULON PROGO TENTANG TIM PENGEMBANG KURIKULUM MIN 2 KULON PROGO TAHUN AJARAN 2026/2027.

Kesatu : Menetapkan Keputusan Kepala MIN 2 Kulon Progo tentang Susunan dan Tugas Tim Pengembang Kurikulum Tahun Ajaran 2026/2027 sebagaimana pada lampiran I Surat Keputusan ini.

Kedua : Menugaskan Tim Pengembang Kurikulum MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 untuk menyusun dokumen kurikulum madrasah Tahun Ajaran 2026/2027, sesuai peraturan perundang-udangan yang berlaku

Ketiga : Tim Pengembang Kurikulum Tahun Ajaran 2026/2027 melaporkan hasil kajian dokumen kurikulum madrasah kepada Kepala Madrasah.

Keempat : Semua biaya yang timbul akibat pelaksanaan keputusan ini, dibebankan pada alokasi anggaran madrasah yang sesuai.

Kelima : Keputusan ini berlaku terhitung mulai tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Kulon Progo Pada Tanggal : 10 Juli 2025 Kepala

Hartati

Tembusan:

Yth. Bapak Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo.

Yth. Bapak Ketua Komite MIN 2 Kulon Progo

Arsip.

Lampiran 2:

Keputusan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kulon Progo Nomor 17 Tahun 2025 Tentang

Tim Pengembang Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027

SUSUNAN TIM PENGEMBANG KURIKULUM MIN 2 KULON PROGO

TAHUN AJARAN 2026/2027

Pengarah : 1. Mulat Viriyanto

Sujono

Penanggung Jawab : 1.Hartati

Ketua : 1.Sudarman

Fitri Asmawati

Sekretaris : 1.Yuli Supriyanto

Siti Maimunah

Bendahara : 1.Etik Kurniawati

Seksi Perlengkapan : 1.Saswita

Seksi Kajian dan Kebijakan : 2. Teguh Wiyono

MRA dan SPAB : 1.Sri Handani

Siti Fatini

Kurikulum : 1.Sudarman

Yuli Supriyanto

Tahfidz : 1.Aset Naro Tamma

Rina Sarifah

Adiwiyata : 1.Umi Khoirul Bariyah

Sujana

Ditetapkan di : Kulon Progo Pada Tanggal : 10 Juli 2025 Kepala

Lampiran 3 :

Contoh Modul Ajar :

MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA IPAS MI KELAS 4

INFORMASI UMUM
A. IDENTITAS MODUL
Penyusun:
Instansi:MIN 2 Kulon Progo
Jenjang Sekolah:MI
Mata Pelajaran:Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Fase / Kelas:B / 4
BAB 2:Gaya di Sekitar Kita
Topik:Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib
Alokasi Waktu:2 JP
B. KOMPETENSI AWALB. KOMPETENSI AWALB. KOMPETENSI AWAL
Mengidentifikasi ragam gaya yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Memanfaatkan gaya tersebut untuk membantu manusia mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hariMengidentifikasi ragam gaya yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Memanfaatkan gaya tersebut untuk membantu manusia mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hariMengidentifikasi ragam gaya yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Memanfaatkan gaya tersebut untuk membantu manusia mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hari
C. PROFIL PELAJAR PANCASILAC. PROFIL PELAJAR PANCASILAC. PROFIL PELAJAR PANCASILA
Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Bergotong-royong, Mandiri, Bernalar kritis, dan Kreatif.Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Bergotong-royong, Mandiri, Bernalar kritis, dan Kreatif.Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Bergotong-royong, Mandiri, Bernalar kritis, dan Kreatif.
D. SARANA DAN PRASARANAD. SARANA DAN PRASARANAD. SARANA DAN PRASARANA
Sumber Belajar : (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas IV, Penulis: Amalia Fitri, dkk dan Internet), Lembar kerja peserta didik Pengenalan Tema Buku Guru bagian Ide Pengajaran Persiapan lokasi: Lingkungan sekitar sekolah Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib Perlengkapan yang dibutuhkan peserta didik: Lembar Kerja Perlengkapan peserta didik: alat tulis; magnet; benda yang terbuat dari besi; benda yang tidak terbuat dari besi. Persiapan Lokasi: area kelas yang dikondisikan untuk percobaan berkelompok. Topik Proyek Belajar Material sesuai produk yang dibuat oleh peserta didik Persiapan lokasi: area kelas untuk demonstrasi.Sumber Belajar : (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas IV, Penulis: Amalia Fitri, dkk dan Internet), Lembar kerja peserta didik Pengenalan Tema Buku Guru bagian Ide Pengajaran Persiapan lokasi: Lingkungan sekitar sekolah Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib Perlengkapan yang dibutuhkan peserta didik: Lembar Kerja Perlengkapan peserta didik: alat tulis; magnet; benda yang terbuat dari besi; benda yang tidak terbuat dari besi. Persiapan Lokasi: area kelas yang dikondisikan untuk percobaan berkelompok. Topik Proyek Belajar Material sesuai produk yang dibuat oleh peserta didik Persiapan lokasi: area kelas untuk demonstrasi.Sumber Belajar : (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas IV, Penulis: Amalia Fitri, dkk dan Internet), Lembar kerja peserta didik Pengenalan Tema Buku Guru bagian Ide Pengajaran Persiapan lokasi: Lingkungan sekitar sekolah Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib Perlengkapan yang dibutuhkan peserta didik: Lembar Kerja Perlengkapan peserta didik: alat tulis; magnet; benda yang terbuat dari besi; benda yang tidak terbuat dari besi. Persiapan Lokasi: area kelas yang dikondisikan untuk percobaan berkelompok. Topik Proyek Belajar Material sesuai produk yang dibuat oleh peserta didik Persiapan lokasi: area kelas untuk demonstrasi.
E. TARGET PESERTA DIDIKE. TARGET PESERTA DIDIKE. TARGET PESERTA DIDIK
Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan memiliki keterampilan memimpin
F. MODEL PEMBELAJARAN
Pembelajaran Tatap Muka
KOMPNEN INTI
A. TUJUAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Bab 2 : Mengidentifikasi ragam gaya yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Memanfaatkan gaya tersebut untuk membantu manusia mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan Pembelajaran Pengenalan tema : Peserta didik melakukan aktivitas yang berkaitan dengan tema pembelajaran sebagai perkenalan. Peserta didik mengetahui apa yang ingin dan akan dipelajari di bab ini. Peserta didik membuat rencana belajar. Tujuan Pembelajaran : Peserta didik mengenal gaya magnet dan sifatnya. Peserta didik dapat mengidentifikasi tipe gaya yang dihasilkan dari benda magnetis. Peserta didik dapat mengetahui manfaat dan penerapan gaya magnet dalam aktivitas sehari-hari. Tujuan Pembelajaran Proyek Belajar : Peserta didik membuat sebuah produk dengan memanfaatkan sifat gaya magnet.
B. PEMAHAMAN BERMAKNA
Pengenalan tema Meningkatkan kemampuan murid dalam mengidentifikasi ragam gaya yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari. dan memanfaatkan gaya tersebut untuk membantu manusia mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hari Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib Meningkatkan kemampuan murid dalam mengenal gaya magnet dan sifatnya. mengidentifikasi tipe gaya yang dihasilkan dari benda magnetis. dan mengetahui manfaat dan penerapan gaya magnet dalam aktivitas sehari-hari. Proyek Belajar Meningkatkan kemampuan murid dalam membuat sebuah produk dengan memanfaatkan sifat gaya.
C. PERTANYAAN PEMANTIK
Pengenalan Topik Bab 2 Apa itu gaya? Apa pengaruh gaya terhadap benda? Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib Apa pengaruh gaya magnet terhadap benda?
2. Apa manfaat gaya magnet pada kehidupan sehari-hari?
D. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan Orientasi ( 5 meni ) Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama. Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama dengan guru. Kegiatan Apersepsi dan motivasi ( 5 menit ) Mulailah kelas dengan mengajak peserta didik untuk melakukan aktivitas yang menarik minat peserta didik terhadap topik tentang gaya Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Kegiatan Inti Pengajaran Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib ( 55 menit ) Lakukan kegiatan literasi dengan narasi tentang magnet pada Buku Murid. Ajukan pertanyaan kepada peserta didik “Menurut kalian jarum terbuat dari apa ya? Apakah kalian tahu atau pernah melihat benda yang dapat menarik benda besi?” Atau pertanyaan-pertanyaan lain untuk menggali pengetahuan awal mereka tentang magnet. Arahkan peserta didik untuk kegiatan Percobaan 1 sesuai instruksi pada Buku Murid (ref. jenis kegiatan Percobaan dapat dilihat di Panduan Umum Buku Guru). Bagikan Lembar Kerja dan berikan waktu 10 menit kepada peserta didik untuk mengeksplorasi sifat magnet pada Percobaan 1. Arahkan peserta didik untuk diskusi kelompok dengan pertanyaan pada Buku Murid: Apa yang terjadi saat kedua ujung yang sama didekatkan? Tolak menolak. Apa yang terjadi saat kedua ujung yang berbeda didekatkan? Tarik menarik. Siapkan peserta didik untuk Percobaan 2. Berikan waktu 10 menit kepada peserta didik untuk melakukan Percobaan sesuai instruksi. Arahkan peserta didik untuk diskusi kelompok dengan pertanyaan pada Buku Murid: Apa yang terjadi jika magnet didekatkan pada benda yang terbuat dari besi? Benda besi akan ditarik oleh magnet atau akan menempel pada magnet. Apa yang terjadi jika magnet didekatkan pada benda yang bukan terbuat dari besi? Tidak terjadi apa-apa. Apa perbedaan saat mendekatkan benda pada ujung magnet dan pada bagian lainnya? Bagian ujung lebih banyak menarik benda atau benda lebih banyak menempel di bagian ujung.) Pandu kegiatan diskusi dalam kelompok besar. Berikan pertanyaan-pertanyaan pancingan atau petunjuk agar peserta didik bisa mengidentifikasi sifat dari magnet.

Pandu peserta didik untuk melakukan kegiatan diskusi (ref. jenis kegiatan diskusi dapat dilihat di Panduan Umum Buku Guru).

Tujuan diskusi: menyampaikan solusi-solusi yang sudah mereka pikirkan.

Arahkan peserta didik untuk menulis kesimpulan mengenai sifat magnet di lembar kerja.

Kegiatan Penutup ( 5 menit )

Guru memberikan refleksi

Murid dapat menyimpulkan isi materi pada pembelajaran hari ini.

Murid mengkomunikasikan kendala yang dihadapi dalam mengikuti pembelajaran hari ini.

Guru meminta peserta didik untuk melakukan Tugas lembar kerja peserta didik (LKPD).

Guru Bersama murid menutup kegiatan dengan doa dan salam.

REFLEKSI

Topik : Magnet, Sebuah Benda yang Ajaib

(Untuk memandu peserta didik, lihat bagian refleksi di Panduan Umum Buku Guru)

Apa hal menarik yang kalian pelajari pada topik ini?

Jawaban: Bervariasi.

Bagaimana magnet bisa menghasilkan gaya tarik menarik?

Saat didekatkan dengan kutub yang berbeda dan saat didekatkan dengan benda besi.

Bagaimana magnet bisa menghasilkan gaya tolak menolak?

Saat didekatkan dengan kutub yang sama.

Apa saja benda-benda yang dapat ditarik oleh magnet?

Benda yang terbuat dari besi.

ASESMEN / PENILAIAN

Penilaian

Jawablah pertanyaan berikut dengan jawaban yang tepat!

Sebutkan 2 sifatm- sifat magnet !

Sebutkan 3 benda yang dapat ditarik magnet !

Sebutkan 3 benda yang tidak dapat ditarik magnet !

Contoh Rubrik Penilaian Presentasi Produk

Kriteria PenilaianSangat BaikBaikCukupPerlu Perbaikan
Isi presentasi: Judul Proyek Tujuan Proyek Cara Pembuatan Demo Produk KesimpulanMemenuhi semua kriteria.Memenuhi 3-4 kriteria isi yang baik.Memenuhi 1-2 kriteria isi yang baik.Seluruh kriteria tidak terpenuhi
Sikap presentasi: Berdiri tegak. Suara terdengar jelas. Melihat ke arah audiens . Mengucapkan salam pembuka. Mengucapkan salam penutup.Memenuhi semua kriteria.Memenuhi 3-4 kriteria isi yang baik.Memenuhi 1-2 kriteria isi yang baik.Seluruh kriteria tidak terpenuhi
Pemahaman konsepSaat menjelaskan tidak melihat bahan. presentasi. Penjelasan bisa dipahamiMelihat bahan presentasi sesekali. Penjelasan bisa dipahamiSering melihat bahan presentasi. penjelasan kurang bisa dipahamiMembaca terus selama presentasi. Penjelasan tidak dapat dipahami.

KEGIATAN PENGAYAAN DAN REMEDIAL

Pengayaan

Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai diatas rata-rata mengikuti pembelajaran dengan pengayaan

Remedial

Diberikan kepada peserta didik yang membutuhkan bimbingan untuk memahami materi atau pembelajaran mengulang kepada murid yang belum mencapai CP.

MengetahuiNgestiharjo 14 Juli 2025
Kepala MadrasahGuru Kelas IV
Hartati, S.Pd.I, M.Pd.
NIP - 197212301993032001NIP.

LAMPIRAN 4 :

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) Lampiran Nama : …

Kelas : …

Petunjuk!

Contoh Perencanaan Pembelajaran adalah sebagai berikut: (RPP masing-masing Sekolah 1 TP, beberapa pertemuan)

IDENTITAS MODULIDENTITAS MODULIDENTITAS MODUL
Penyusun:
Instansi:MIN 2 Kulon Progo
Jenjang Sekolah:SD
Fase/Kelas Mata:C/V
Pelajaran:IPAS
Alokasi Waktu:4 JP
IDENTIFIKASIIDENTIFIKASIIDENTIFIKASI
Dimensi Profil LulusanDimensi Profil LulusanDimensi Profil Lulusan
Penalaran Kritis, Kreativitas, dan kolaboratifPenalaran Kritis, Kreativitas, dan kolaboratifPenalaran Kritis, Kreativitas, dan kolaboratif
DESAIN PEMBELAJARANDESAIN PEMBELAJARANDESAIN PEMBELAJARAN
A. Tujuan PembelajaranA. Tujuan PembelajaranA. Tujuan Pembelajaran
Murid memahami upaya penghematan energi serta pemanfaatan sumber energi alternatif dari sumber daya yang ada di sekitarnya sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Indikator: Mengidentifikasi penggunaan listrik di sekolah Menganalisis bagaimana upaya menghemat energi listrik Membuat model kincir angin dari botol bekasMurid memahami upaya penghematan energi serta pemanfaatan sumber energi alternatif dari sumber daya yang ada di sekitarnya sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Indikator: Mengidentifikasi penggunaan listrik di sekolah Menganalisis bagaimana upaya menghemat energi listrik Membuat model kincir angin dari botol bekasMurid memahami upaya penghematan energi serta pemanfaatan sumber energi alternatif dari sumber daya yang ada di sekitarnya sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Indikator: Mengidentifikasi penggunaan listrik di sekolah Menganalisis bagaimana upaya menghemat energi listrik Membuat model kincir angin dari botol bekas
B. Praktik Pedagogis.B. Praktik Pedagogis.B. Praktik Pedagogis.
Model: PBL (Problem Based Learning) Metode: diskusi, wawancara, kerja kelompokModel: PBL (Problem Based Learning) Metode: diskusi, wawancara, kerja kelompokModel: PBL (Problem Based Learning) Metode: diskusi, wawancara, kerja kelompok
C. Kemitraan PembelajaranC. Kemitraan PembelajaranC. Kemitraan Pembelajaran
Antar murid: bekerja dalam kelompok kecil untuk melakukan pengamatan penggunaan listrik Kepala Sekolah, Penjaga Sekolah: wawancara penggunaan listrik berbagai ruang di sekolahAntar murid: bekerja dalam kelompok kecil untuk melakukan pengamatan penggunaan listrik Kepala Sekolah, Penjaga Sekolah: wawancara penggunaan listrik berbagai ruang di sekolahAntar murid: bekerja dalam kelompok kecil untuk melakukan pengamatan penggunaan listrik Kepala Sekolah, Penjaga Sekolah: wawancara penggunaan listrik berbagai ruang di sekolah
D. Lingkungan PembelajaranD. Lingkungan PembelajaranD. Lingkungan Pembelajaran
pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan di luar ruang kelas ada diferensiasi proses dalam pembelajaran (dengan bantuan pendampingan guru)pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan di luar ruang kelas ada diferensiasi proses dalam pembelajaran (dengan bantuan pendampingan guru)
E. Pemanfaatan DigitalE. Pemanfaatan Digital
Perencanaan: Memanfaatkan IT (Chat GBT, Canva) Pelaksanaan: video https://youtu.be/Ex8DEgtfYJgPerencanaan: Memanfaatkan IT (Chat GBT, Canva) Pelaksanaan: video https://youtu.be/Ex8DEgtfYJg
PENGALAMAN BELAJAR (Langkah-Langkah Pembelajaran)PENGALAMAN BELAJAR (Langkah-Langkah Pembelajaran)
A. AwalA. Awal
Murid bersama guru membuka pelajaran dengan salam, doa bersama, pengecekan kehadiran dan sapaan ramah untuk menciptakan suasana positif Murid bersama guru menyanyikan lagu Indonesia Raya Murid bermain permainan pemusatan konsentrasi Murid mengamati video singkat penggunaan alat elektronik yang membuat pembayaran listrik boros di link https://youtu.be/Ex8DEgtfYJg Murid menjawab pertanyaan pemantik “Apa yang kalian lihat dari video tersebut?ˮ untuk menstimulasi empati murid. Murid menjawab pertanyaan guru terkait video “Apa penyebab pemakaian listrik menjadi boros?ˮ “Apakah dampak akibat pemakaian listrik yang boros?ˮ Murid menyimak penjelasan guru terkait tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menghubungkan dengan peran murid “Apa yang bisa kita lakukan untuk menghemat pemakaian listrik?”Murid bersama guru membuka pelajaran dengan salam, doa bersama, pengecekan kehadiran dan sapaan ramah untuk menciptakan suasana positif Murid bersama guru menyanyikan lagu Indonesia Raya Murid bermain permainan pemusatan konsentrasi Murid mengamati video singkat penggunaan alat elektronik yang membuat pembayaran listrik boros di link https://youtu.be/Ex8DEgtfYJg Murid menjawab pertanyaan pemantik “Apa yang kalian lihat dari video tersebut?ˮ untuk menstimulasi empati murid. Murid menjawab pertanyaan guru terkait video “Apa penyebab pemakaian listrik menjadi boros?ˮ “Apakah dampak akibat pemakaian listrik yang boros?ˮ Murid menyimak penjelasan guru terkait tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menghubungkan dengan peran murid “Apa yang bisa kita lakukan untuk menghemat pemakaian listrik?”
B. IntiB. Inti
Memahami (berkesadaran, bermakna)
Sintaks 1: Orientasi pada Masalah Murid mengamati gambar atau video tentang: lampu menyala di siang hari bolong, TV yang dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton, kipas angin yang berputar di ruangan kosong, Charger HP yang tidak dicabut meski tidak digunakan. Dialog Pemantik: “Perhatikan gambar-gambar ini. Apa yang kalian lihat? Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana perasaan kalian melihat situasi seperti ini?” Sintaks 2: Mengorganisasi Murid untuk Belajar Murid dibagi menjadi beberapa kelompok (setiap kelompok 4-5 anak). Murid bersama-sama dalam kelompok mengamati penggunaan listrik di sekolah. Masing-masing kelompok mengunjungi ruangan yang berbeda untuk mendata alat-alat listrik dan penggunaannya di ruangan tersebut. Murid memperhatikan apakah ada lampu yang menyala di siang hari atau peralatan elektronik yang tetap menyala padahal tidak digunakan. Murid mengerjakan lembar kerja tentang daftar peralatan listrik, kebiasaan penggunaan listrikSintaks 1: Orientasi pada Masalah Murid mengamati gambar atau video tentang: lampu menyala di siang hari bolong, TV yang dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton, kipas angin yang berputar di ruangan kosong, Charger HP yang tidak dicabut meski tidak digunakan. Dialog Pemantik: “Perhatikan gambar-gambar ini. Apa yang kalian lihat? Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana perasaan kalian melihat situasi seperti ini?” Sintaks 2: Mengorganisasi Murid untuk Belajar Murid dibagi menjadi beberapa kelompok (setiap kelompok 4-5 anak). Murid bersama-sama dalam kelompok mengamati penggunaan listrik di sekolah. Masing-masing kelompok mengunjungi ruangan yang berbeda untuk mendata alat-alat listrik dan penggunaannya di ruangan tersebut. Murid memperhatikan apakah ada lampu yang menyala di siang hari atau peralatan elektronik yang tetap menyala padahal tidak digunakan. Murid mengerjakan lembar kerja tentang daftar peralatan listrik, kebiasaan penggunaan listrik
yang boros dan dampak negatifnya dalam kehidupan sehari-hari. 7. Murid berdiskusi bagaimana upaya untuk menghemat listrik.
Sintaks 3: membimbing Penyelidikan Bersama kelompok, murid menyelesaikan studi kasus tentang pemborosan listrik. Murid berdiskusi dan mencari informasi dari buku/internet tentang sumber energi alternatif (misalnya, matahari, angin, air) yang ada lingkungan sekitar dan cara memanfaatkannya Mengaplikasi (bermakna, menggembirakan) Bersama kelompok, murid diarahkan untuk memecahkan masalah tentang pemborosan energi dengan membuat model kincir angin sederhana secara kreatif dari barang bekas sebagai solusi penghematan energi Guru membimbing, mengarahkan, dan memonitor perkembangan belajar setiap kelompok Sintaks 4: Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Setiap kelompok mempresentasikan hasil produk model kincir sederhana yang telah dibuat. Kelompok lain memperhatikan presentasi dan memberikan masukan untuk pengembangan/penyempurnaan model kincir angin sederhana yang telah dibuat. Merefleksi (Berkesadaran, Menggembirakan) Sintaks 5: Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah Setiap kelompok menganalisis model mereka sendiri dengan panduan pertanyaan: “Apa kelebihan kincir angin yang kalian buat?” “Apa kekurangan atau masalah yang kalian temukan?” “Bagian mana yang paling sulit dibuat?” “Apakah kincir angin kalian bisa berputar dengan baik?” Bagaimana proyek ini membuat kalian lebih peduli terhadap lingkungan? Setelah proyek ini, kebiasaan baru apa yang akan kalian terapkan terus-menerus untuk menghemat energi? Menurut kalian, bagaimana peran sekolah dan keluarga dalam mendukung upaya penghematan energi? Untuk pengayaan lebih lanjut anak merefleksikan diri dengan penuh kreativitas dan kolaborasi dalam kelompoknya berdasarkan apa yang dipelajari dengan membuat poster hemat listrik kaitannya dengan iklim menggunakan canva atau manual.* (untuk pertemuan selanjutnya)
C. Penutup (berkesadaran, bermakna)C. Penutup (berkesadaran, bermakna)C. Penutup (berkesadaran, bermakna)C. Penutup (berkesadaran, bermakna)C. Penutup (berkesadaran, bermakna)C. Penutup (berkesadaran, bermakna)
Murid bersama guru menyimpulkan pembelajaran Murid melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan reflektif apa hal paling penting yang saya pelajari hari ini? apa yang membuat saya tertantang dalam pembelajaran berlangsung? bagaimana perasaan saya selama proses pembelajaran? apa yang bisa saya lakukan lebih baik di pertemuan berikutnya? konsep mana yang paling saya pahami? konsep mana yang masih membingungkan? Murid bersama guru berdoa bersama setelah selesai pembelajaranMurid bersama guru menyimpulkan pembelajaran Murid melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan reflektif apa hal paling penting yang saya pelajari hari ini? apa yang membuat saya tertantang dalam pembelajaran berlangsung? bagaimana perasaan saya selama proses pembelajaran? apa yang bisa saya lakukan lebih baik di pertemuan berikutnya? konsep mana yang paling saya pahami? konsep mana yang masih membingungkan? Murid bersama guru berdoa bersama setelah selesai pembelajaranMurid bersama guru menyimpulkan pembelajaran Murid melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan reflektif apa hal paling penting yang saya pelajari hari ini? apa yang membuat saya tertantang dalam pembelajaran berlangsung? bagaimana perasaan saya selama proses pembelajaran? apa yang bisa saya lakukan lebih baik di pertemuan berikutnya? konsep mana yang paling saya pahami? konsep mana yang masih membingungkan? Murid bersama guru berdoa bersama setelah selesai pembelajaranMurid bersama guru menyimpulkan pembelajaran Murid melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan reflektif apa hal paling penting yang saya pelajari hari ini? apa yang membuat saya tertantang dalam pembelajaran berlangsung? bagaimana perasaan saya selama proses pembelajaran? apa yang bisa saya lakukan lebih baik di pertemuan berikutnya? konsep mana yang paling saya pahami? konsep mana yang masih membingungkan? Murid bersama guru berdoa bersama setelah selesai pembelajaranMurid bersama guru menyimpulkan pembelajaran Murid melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan reflektif apa hal paling penting yang saya pelajari hari ini? apa yang membuat saya tertantang dalam pembelajaran berlangsung? bagaimana perasaan saya selama proses pembelajaran? apa yang bisa saya lakukan lebih baik di pertemuan berikutnya? konsep mana yang paling saya pahami? konsep mana yang masih membingungkan? Murid bersama guru berdoa bersama setelah selesai pembelajaranMurid bersama guru menyimpulkan pembelajaran Murid melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan reflektif apa hal paling penting yang saya pelajari hari ini? apa yang membuat saya tertantang dalam pembelajaran berlangsung? bagaimana perasaan saya selama proses pembelajaran? apa yang bisa saya lakukan lebih baik di pertemuan berikutnya? konsep mana yang paling saya pahami? konsep mana yang masih membingungkan? Murid bersama guru berdoa bersama setelah selesai pembelajaran
ASESMENASESMENASESMENASESMENASESMENASESMEN
A. Asesmen Awal PembelajaranA. Asesmen Awal PembelajaranA. Asesmen Awal PembelajaranA. Asesmen Awal PembelajaranA. Asesmen Awal PembelajaranA. Asesmen Awal Pembelajaran
Penilaian Diri Petunjuk Berilah tanda centang (✓) pada kolom pernyataan berikut sesuai pemahamanmu.Penilaian Diri Petunjuk Berilah tanda centang (✓) pada kolom pernyataan berikut sesuai pemahamanmu.Penilaian Diri Petunjuk Berilah tanda centang (✓) pada kolom pernyataan berikut sesuai pemahamanmu.Penilaian Diri Petunjuk Berilah tanda centang (✓) pada kolom pernyataan berikut sesuai pemahamanmu.Penilaian Diri Petunjuk Berilah tanda centang (✓) pada kolom pernyataan berikut sesuai pemahamanmu.Penilaian Diri Petunjuk Berilah tanda centang (✓) pada kolom pernyataan berikut sesuai pemahamanmu.
No.PernyataanYaTidak
1.Aku tahu apa itu energi.
2.Aku dapat menyebutkan berbagai jenis energi.
3.Aku tahu di mana kita mendapatkan energi utama yang kita gunakan sehari-hari.
5.Aku tahu cara menghemat energi.
6.Aku bisa menyebutkan cara-cara menghemat energi di rumah.
7.Aku bisa menyebutkan cara-cara menghemat energi di sekolah.
8.Aku tahu dampak penggunaan energi yang berlebihan terhadap lingkungan.
9.Aku peduli penghematan energi.
10.Aku berusaha untuk menghemat energi dalam kehidupan sehari-hari.
11.Aku tahu apa itu energi alternatif.
12.Aku dapat menyebutkan beberapa contoh sumber energi alternatif.
13.Aku tahu kelebihan dan kekurangan energi alternatif dibandingkan energi konvensional.
14.Aku mengerti bagaimana energi alternatif dapat dihasilkan.
15.Aku tahu pentingnya energi alternatif.
Daftar ceklis ini digunakan sebagai asesmen awal. Murid yang menjawab ‘Ya’ kurang dari 7 kemudian dipasangkan dengan murid yang menjawab ‘Ya’ lebih dari 7. Murid yang menjawab ‘Ya’ kurang dari 7 dapat bertanya kepada temannya, dan temannya menjawab dan menjelaskan pertanyaan. Apabila murid tidak bisa menjelaskan, guru dapat membantu mengarahkan mengenai pembahasan pertanyaan.
B. Asesmen Proses Pembelajaran
Kegiatan : Mengamati penggunaan energi listrik di sekolah Inbstrumen tes: Lembar observasi guru Lembar Observasi Partisipasi Diskusi Upaya Menghemat Listrik Nama Murid: Kelas: Tanggal: Keterangan: Sangat Baik: 13-16
Penilaian Sumatif : Penilaian Produk Kincir angin RUBRIK PENILAIAN PRODUK: MEMBUAT MODEL KINCIR ANGIN DARI BARANG BEKAS Nama Kelompok: Anggota:
Penilaian Sumatif: Tes tertulis Lembar Soal Uraian Sebuah keluarga memiliki dua pilihan untuk menghemat listrik di rumah mereka: Mengganti semua lampu pijar dengan lampu LED. Mematikan semua peralatan elektronik saat tidak digunakan. Jika keluarga tersebut hanya mampu melakukan salah satu dari pilihan tersebut, manakah yang lebih efektif dalam jangka panjang dan mengapa? Pertimbangkan faktor biaya, efisiensi energi, dan dampak lingkungan. Di sebuah sekolah, terdapat banyak ruang kelas yang lampunya dibiarkan menyala sepanjang hari, meskipun ruangan tersebut tidak digunakan. Jelaskan bagaimana cara mengedukasi murid dan guru tentang pentingnya hemat energi dan bagaimana cara mereka dapat berkontribusi dalam mengurangi penggunaan listrik di sekolah. Buatlah contoh kampanye yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang hemat energi di sekolah. Sebuah desa terpencil ingin mengembangkan sistem energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Desa tersebut memiliki potensi sumber daya alam berupa tenaga surya dan air. Diskusikan keuntungan dan tantangan dalam mengembangkan sistem energi terbarukan di desa tersebut, serta bagaimana hal itu dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa. Seorang murid diminta untuk membuat model alat penghemat energi sederhana yang dapat digunakan di rumah. Buatlah rancangan alat tersebut, jelaskan cara kerjanya, dan manfaat apa yang bisa diperoleh dari penggunaan alat tersebut.

Lampiran 5 : Program Kokurikuler

  1. Kokurikuler

Tabel 16. Program Kokurikuler

Contoh 1

NoKelasDimensiTemaJenis KokurikulerBentuk KegiatanMata Pelajaran TerkaitAlokasi Waktu
1I – IIKolaborasiKenali LingkungankuPembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmuMengamati lingkungan sekitar Mendata ekosistem yang ada di sekitar Belajar menanam tanaman Merawat tanaman Membuat poster upaya menjaga lingkunganBahasa Indonesia Seni Budaya Matematika72
2I – IIKeimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa KesehatanSehat Jiwa dan RagakuGerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia HebatTPA Sholat dhuha Senam Anak Indonesia Hebat Jalan Sehat Isi Piringku72
3I – IIPenalaran KritisLiterasiCara LainnyaMembaca bersama (Read Aloud) Membaca dalam hati Mejelaskan makna kata, kalimat dari bacaan yang dibaca. BerceritaBahasa Indonesia Mapel lain bisa diisikan sesuai acaan yang dibaca72
NoKelasDimensiTemaJenis KokurikulerBentuk KegiatanMata Pelajaran TerkaitAlokasi Waktu
Kunjungan ke perpusda Menulis sesuai ejaan yang benar Catatan: Bacaan bisa diawali dengan cerita yang menyenangkan, bacaan terkait materi lain (matematika, pengetahuan umum, seni budaya, dan Pendidikan Pancasila)atau tulis (matematika, seni budaya, pendidikan pancasila)
Total Alokasi Waktu Kelas I dan IITotal Alokasi Waktu Kelas I dan IITotal Alokasi Waktu Kelas I dan IITotal Alokasi Waktu Kelas I dan IITotal Alokasi Waktu Kelas I dan IITotal Alokasi Waktu Kelas I dan IITotal Alokasi Waktu Kelas I dan II216
4III – VKeimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa KesehatanSehat Jiwa dan RagakuGerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia HebatTPA Sholat dhuha Senam Anak Indonesia Hebat Jalan Sehat Isi Piringku Sholat dhuhur72
5III – VKolaborasiKenali LingkungankuPembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmuMengamati lingkungan sekitar Mendata ekosistem yang ada di sekitar Wawancara dengan narasumber Mengidentifikasi lahan sekolah yang bisa dimanfaatkan untuk proses menanam Belajar menanam tanaman mulai dari membuat media tanam Merawat tanaman dan membuat laporannya Membuat poster upaya menjaga lingkunganBahasa Indonesia Seni Budaya Matematika108
NoKelasDimensiTemaJenis KokurikulerBentuk KegiatanMata Pelajaran TerkaitAlokasi Waktu
6III – VPenalaran KritisLiterasiCara LainnyaMembaca dan menganalisis makna bacaan Membuat dan menulis kalimat yang benar Membuat paragraf sesuai genre Membuat cerita Bercerita Membuat mading Kunjungan ke perpusda Catatan: Bacaan bisa terkait materi lain (matematika, pengetahuan umum, seni budaya, dan Pendidikan Pancasila)Bahasa Indonesia Mapel lain bisa diisikan sesuai acaan yang dibaca atau tulis (matematika, seni budaya, IPAS, pendidikan pancasila)72
Total Alokasi Waktu Kelas III – VTotal Alokasi Waktu Kelas III – VTotal Alokasi Waktu Kelas III – VTotal Alokasi Waktu Kelas III – VTotal Alokasi Waktu Kelas III – VTotal Alokasi Waktu Kelas III – VTotal Alokasi Waktu Kelas III – V252
7VIKeimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa KesehatanSehat Jiwa dan RagakuGerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia HebatTPA Sholat dhuha Senam Anak Indonesia Hebat Jalan Sehat Isi Piringku Sholat dhuhurPendidikan Agama PJOK64
8VIKolaborasiKenali LingkungankuPembelajaran kolaboratifMengamati lingkungan sekitar Mendata ekosistem yang ada di sekitarBahasa Indonesia96
NoKelasDimensiTemaJenis KokurikulerBentuk KegiatanMata Pelajaran TerkaitAlokasi Waktu
lintas disiplin ilmuWawancara dengan narasumber Mengidentifikasi lahan sekolah yang bisa dimanfaatkan untuk proses menanam Belajar menanam tanaman mulai dari membuat media tanam Merawat tanaman dan membuat laporannya Membuat poster upaya menjaga lingkunganSeni Budaya Matematika
9VIPenalaran KritisLiterasiCara LainnyaMembaca dan menganalisis makna bacaan Membuat dan menulis kalimat yang benar Membuat paragraf sesuai genre Membuat cerita Bercerita Membuat mading Kunjungan ke perpusda Catatan: Bacaan bisa terkait materi lain (matematika, pengetahuan umum, seni budaya, dan Pendidikan Pancasila)Bahasa Indonesia Mapel lain bisa diisikan sesuai acaan yang dibaca atau tulis (matematika, seni budaya, IPAS, pendidikan pancasila)64
Total Alokasi Waktu Kelas VITotal Alokasi Waktu Kelas VITotal Alokasi Waktu Kelas VITotal Alokasi Waktu Kelas VITotal Alokasi Waktu Kelas VITotal Alokasi Waktu Kelas VITotal Alokasi Waktu Kelas VI224
← Kembali