Kurikulum 2026/2027
Pendampingan, Evaluasi & Pengembangan Profesional
BAB IV PERENCANAAN PEMBELAJARAN
PERENCANAAN PEMBELAJARAN RUANG LINGKUP MADRASAH
Intrakurikuler
Peranan guru dalam implementasi PM adalah sebagai aktivator, pembangun budaya, dan kolaborator. Sebagai aktivator, guru mendorong muriduntuk mengkonstrukur pengetahuan secara aktif dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Sebagai pem- bangun budaya, guru menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid bela- jar, memberikan ruang kepada muriduntuk menciptakan strategi belajarnya sendiri sehingga muridmemiliki kemandirian, percaya diri, dan rasa kebersamaan. Sebagai kolaborator, guru bersikap aktif memberikan respon terhadap setiap proses belajar peserta didik. Selain mempertimbangkan peran guru, dalam merancang pembelajaran, satuan pen- didikan perlu memperhatikan prinsip pembelajaran mendalam (berkesadaran, bermakna dan mengembirakan) dan asesmen.
MIN 2 Kulon Progo merancang merancang rencana pembelajaran untuk kelas I s.d.
VI dengan alur sebagai berikut:
Gambar1. Bagan Alur Perencanaan Pembelajaran
MIN 2 Kulon Progo mengembangkan perencanaan pembelajaran berdasar-kanrefleksi yang telah dilakukan dan pencarian sumber-sumber lain yang diperoleh tanpa mengabaikan prinsip-prinsip penyusunan serta dapat menjadi inspirasi untuk dapat diterapkan pada satuan pendidikan lainnya. Selain itu, MIN 2 Kulon Progo memanfaatkan teknologi di dalam menyusun perencanaan pembelajaran untuk menghasilkan proses pembelajaran yang inovatif. Perencanaan pembelajaran memuat 4 kerangka kerja pembelajaran mendalam yaitu: 8 dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran, pengalaman belajar dan 4 kerangka pembelajaran mendalam. Rangkaian kegiatan perencanaanpembelajaran dilaksanakan melalui workshop pada awal tahun ajaran 2026/2027.
Literasi awal meliputi 6 literasi dasar: literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewarganegaraan terintegrasi pada perencanaan dan pelaksa- naan pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran lingkup satuan pendidikan diawali dengan mencermati dokumen capaian pembelajaran (CP). CP disajikan per fase, yaitu fase A untuk kelas I dan II, fase B untuk kelas III dan IV, dan fase C untukkelas V dan VI. Pendidik dalam fase yang sama berkolaborasi untuk menurunkan capaian pembela-jaran fase ke dalam tujuan-tujuan pembelajaran. Tujuan-tujuan pembelajaran selan-jutnya dipetakan ke tujuan pembelajaran yang akan dicapai per kelas. Rangkaian tujuan-tujuan pembelajaran per kelas tersebut disusun menjadi alur tujuan pembela-jaran (ATP) fase.
Contoh Pemetaan Tujuan Pembelajaran untuk Penyusunan ATP Mata Pelajaran : IPAS
Fase : B
Tujuan Pembelajaran untuk Domain/Elemen Pemahaman IPAS
| Elemen | Capaian Pembelajaran | Tujuan Pembelajaran | Alur Tujuan Pembelajaran |
|---|---|---|---|
| Pemahaman IPAS | Menjelaskan bentuk dan fungsi panca indra; menganalisis siklus hidup makhluk hidup dan upaya pelestariannya; menghasilkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim; menyimpulkan proses perubahan wujud zat dan perubahan bentuk energi; menjelaskan sumber dan bentuk energi, serta proses perubahan bentuk energi dalam kehidupan sehari hari; membedakan jenis gaya dan pengaruhnya terhadap arah, | Menjelaskan bentuk dan fungsi pancaindra Menganalisis siklus hidup makhluk hidup dan upaya pelestariannya Menghasilkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim Menyimpulkan proses perubahan wujud zat Menjelaskan sumber dan bentuk energi, serta proses perubahan bentuk energi dalam kehidupan sehari-hari Membedakan jenis gaya dan pengaruhnya | Kelas III Menjelaskan bentuk dan fungsi pancaindra Menganalisis siklus hidup makhluk hidup dan upaya pelestariannya Menjelaskan peran, tugas, dan tanggung jawab serta interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan sekolah Menjelaskan sumber dan bentuk energi, serta proses perubahan bentuk energi dalam kehidupan sehari- hari Menganalisis sejarah masyarakat di lingkungan tempat tinggal Kelas IV Menjelaskan nilai mata uang dan fungsinya, serta cara mengelola keuangan secara bijak. Mengenali letak |
| Elemen | Capaian Pembelajaran | Tujuan Pembelajaran | Alur Tujuan Pembelajaran |
| gerak, dan bentuk benda; menjelaskan peran, tugas, dan tanggung jawab serta interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan sekolah; mengenali letak kabupaten/ kabupaten dan provinsi tempat tinggalnya dengan menggunakan peta konvensional/ digital; mengklasifikasikan ragam bentang alam dan keterkaitannya dengan profesi masyarakat, ragam budaya serta upaya untuk melestarikannya; menganalisis sejarah masyarakat di lingkungan tempat tinggal; menjelaskan nilai mata uang dan fungsinya, serta cara mengelola keuangan secara bijak. | terhadap arah, gerak, dan bentuk benda Menjelaskan peran, tugas, dan tanggung jawab serta interaksi sosial yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan sekolah Mengenali letak kabupaten/ kabupaten dan provinsi tempat tinggalnya dengan menggunakan peta konvensional/digital Mengklasifikasikan ragam bentang alam dan keterkaitannya dengan profesi masyarakat, ragam budaya serta upaya untuk melestarikannya Menganalisis sejarah masyarakat di lingkungan tempat tinggal Menjelaskan nilai mata uang dan fungsinya, serta cara mengelola keuangan secara bijak. | kabupaten/ kabupaten dan provinsi tempat tinggalnya dengan menggunakan peta konvensional/digital Menyimpulkan proses perubahan wujud zat Membedakan jenis gaya dan pengaruhnya terhadap arah, gerak, dan bentuk benda Mengklasifikasikan ragam bentang alam dan keterkaitannya dengan profesi masyarakat, ragam budaya serta upaya untuk melestarikannya Menghasilkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim |
Pembelajaran dilaksanakan berpusat pada peserta didikdengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM). Prinsip Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang berkesadaran, bermakna dan menyenangkan, dengan tahapan kognitif pemahman, penerapan dan refleksi evaluasi, melalui model-model pembelajaran:
Problem Based Learning (PBL)
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran menggunakan kemampuan berpikir wmuridsecara individu maupun ke- lompok
serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga ber- makna, relevan, dan kontekstual. Tujuan PBL untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan nyata, pengintegrasian konsep keterampilan berpikir tingkat tinggi, keinginan belajar, mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan.
Project Based Learning (PjBL)
Model pembelajaran berbasis projek merupakan model pembelajaran yangmeli-batkan keaktifan muriddalam memecahkan masalah, dilakukan secara berkelompok maupun mandiri melalui tahapan ilmiah dengan batasanwaktu ter-tentu yang dituangkan dalam sebuah produk untuk selanjutnya dipresentasikan kepada orang lain.
Discovery Learning
Model pembelajaran penemuan adalah memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Penemuan terjadi jika muridterlibat dalam penggunaan proses mental untuk menemukan konsep dan prinsip. Penemuan dilakukan melalui observasi,klasifi- kasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan inferensi.
Inquiry Learning
Inquiry Learning (Pembelajaran Inkuiri) adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar. Dalam pembelajaran ini, murid aktif mencari, menyelidiki, dan menemukan sendiri pengetahuan melalui proses bertanya, mengumpulkan informasi, menganalisis, dan menarik kesimpulan.
Pembelajaran Kolaboratif:
Murid bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas atau proyek. Pembelajaran kolaboratif mendorong murid untuk berbagi ide, belajar dari satu sama lain, dan mengembangkan keterampilan sosial.
Joyful Learning:
Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran
Strategi yang digunakan dalam pembelajaran tatap muka yaitu pembelajaran berbasis aktivitas, studi literatur, dan studi lingkungan.
MIN 2 Kulon Progo memberikan layanan kepada seluruh muridtermasuk
melaksanakan program inklusif. Selain itu, juga memberikan kesem- patan kepada seluruh muridberkebutuhan khusus danpotensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mendapatkan pendidikan bersama dengan muridpada umumnya. Satuan pendidikan bermitra denganprofesional terkait untuk melakukan asesmen terhadap muridsehingga dapat merencanakan pem- belajaran yang tepat sesuai kebutuhan peserta didik. Diharapkan muridberkebutuhan khusus dapat mengembangkan potensi dan kemampuannya secara optimal.
MIN 2 Kulon Progo menyelenggarakan asesmen diagnostik dengan profesional terkait untuk mendiagnosis murid yang terindikasi memiliki kebutuhan khusus. Setelah hasil asesmen diagnostik didapatkan, sekolah mengomunikasikan kepada orang tua yang bersangkutan guna mengambil langkah strategis dalam men-dampingimuridbelajar. Sekolah mengajukan penyediaan guru pembimbing khusus untuk mendampingi muridbelajar di kelas. Hasil asesmen diagnostik digunakan oleh pendidik untuk merencanakan pembelajaran terdiferensiasi (inklusif).
Pendidik juga melakukan penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran bagimuridberkebutuhan khusus. Penyelenggaraan pembelajaran terdiferen-siasi/inklusif dievaluasi setiap semester. Pengaturan penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran bagi murid berkebutuhan khusus sebagai berikut:
Bagi murid terdiagnosa tunagrahita
Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran minimal sebesar 40% dari keseluruhan capaian pembelajaran. Penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran:
| Pencapaian | Kriteria | Intervensi |
|---|---|---|
| 0%-40% | Belum mencapai tujuan pembelajaran | Perlu perbaikan pembelajaran |
| >40% | Sudah mencapai tujuan pembelajaran | Melanjutkan ke tujuan pembelajaran berikutnya |
Bagi murid terdiagnosa slow learner
Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran minimal sebesar 50% dari keseluruhan capaian pembelajaran.
Penyesuaian kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran:
| Pencapaian | Kriteria | Intervensi |
|---|---|---|
| 0%-50% | Belum mencapai tujuan pembelajaran | Perlu perbaikan pembelajaran |
| >50% | Sudah mencapai tujuan pembelajaran | Melanjutkan ke tujuan pembelajaran berikutnya |
Kokurikuler
MIN 2 Kulon Progo memberikan kesempatan pada murid untuk mengembangkan kegiatan projek sesuai dengan minat dan karakteristik daya dukung lingkungan. Pendidik sebagai fasilitator agar murid dapat mengem- bangkan dimensi Profil lulusan melalui rangkaian proses kegiatan pembelajaran lintas mata Pelajaran berbasis projek, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) dan kegiatan lainnya berupa literasi, Peringatan Hari Besar Nasional. Murid melaksanakan kegiatan kokurikuler sesuai dengan tema-tema yang sudah ditetapkan oleh MIN 2 Kulon Progo sebagai berikut:
Perencanaan Kokurikuler dengan alur sebagai berikut:
Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu
Gambar 3: Alur Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Lintas Disiplin Ilmu
Alur Kokurikuler Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Gambar 4: Tahapan Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Gerakan 7KAIH
Alur Kokurikuler Penguatan Literasi
Gambar 5: Tahapan Pengembangan Penguatan Literasi
Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan
Kenaikan Kelas
Penentuan kenaikan kelas dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian Murid pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain selama 1 (satu) tahun ajaran. Untuk menilai pencapaian hasil belajar Murid sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dapat berdasarkan penilaian sumatif. Penilaian pencapaian hasil belajar Murid untuk kenaikan kelas dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar Murid dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.
Mekanisme atau kriteria kenaikan kelas diatur dalam kurikulum merdeka, namun banyak sekolah/madrasah yang diberikan kebebasan dalam menentukannya, namun harus seuai prosedur yang telah ditetapkan. Hal ayng menjadi dasar dalam penentuan kenaikan kelas meliputi:
Laporan kemajuan belajar
Portofolio Murid
Prestasi akademik dan non akademik
Ekstrakurikuler
Penghargaan Murid
Tingkat kehadiran
Selain komponen utama, terdapat syarat administratif dan etis yang juga wajib dipenuhi murid, seperti:
70% mata pelajaran harus mencapai ketuntasan nilai 75.
Mapel Agama dan PPKn tidak boleh tidak tuntas dua semester berturut-turut.
Nilai Kepramukaan minimal “BAIK”.
Tidak alpa lebih dari 11 hari (5% dari hari efektif).
Tidak melanggar tata tertib berat atau ketentuan hukum.
Syarat-syarat ini tertuang dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen PAUD, Dikdasmen 2024 serta Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
Kelulusan
Untuk menilai pencapaian hasil belajar Murid sebagai dasar kelulusan dapat berdasarkan penilaian sumatif, yang dapat dilakukan dalam bentuk tes tulis, tugas untuk performa, portofolio, atau kombinasi. Penilaian pencapaian hasil belajar Murid untuk kelulusan dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar Murid dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.kriterian ketercapaian tujuan pembelajaran.
Penilaian sumatif yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dilaksanakan pada semester ganjil dan/atau semester genap pada akhir jenjang dengan mempertimbangkan capaian kompetensi lulusan.
Seperti halnya kenaikan kelas, penentuan kelulusan ditentukan oleh satuan pendidikan. Penentuan kelulusan dari satuan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian Murid pada semua mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain pada:
kelas V dan kelas VI untuk sekolah dasar atau bentuk lain yang sederajat; dan
setiap tingkatan kelas untuk sekolah menengah pertama atau bentuk lain yang sederajat dan sekolah menengah atas atau bentuk lain yang sederajat.
Murid dinyatakan lulus dari satuan/program pendidikan setelah:
menyelesaikan seluruh program pembelajaran; dan
mengikuti penilaian sumatif yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Kelulusan Murid ditetapkan oleh satuan/program pendidikan yang bersangkutan. Murid yang dinyatakan lulus dari satuan/program pendidikan diberikan ijazah. Ijazah diberikan pada akhir semester genap pada setiap akhir jenjang. Ketentuan mengenai ijazah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Mutasi Murid
Mutasi atau perpindahan murid pada hakekatnya adalah berpindahnya kegiatan belajar mengajar dari satu madrasah ke sekolah/madrasah yang lain, baik itu masih satu kabupaten/kota atau luar kota. Proses kegiatan belajar yang dilakukan oleh murid yang melakukan mutasi itu sifatnya melanjutkan bukan mengulang, jadi hal-hal yang berkaitan dengan murid tersebut baik itu berupa absensi atau penilaian semuanya
harus ada laporan ke sekolah barunya, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dalam proses belajar.
Mutasi atau perpindahan Murid dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
Mutasi Intern
Mutasi intern adalah mutasi yang dilakukan oleh Murid di dalam sekolahan itu sendiri. Umumnya, Murid demikian hanyalah pindah kelas saja, dalam suatu kelas yang tingkatannya sejajar.
Mutasi Ekstern
Mutasi ekstern adalah perpindahan Murid dari satu sekolah ke madrasah lain dalam satu jenis, dan dalam satu tingkatan. Meskipun ada juga Murid yang pindah ke sekolah/madrasah lain dengan jenis sekolah/madrasah yang berlainan. Pada Madrasah Negeri hal demikian menjadi persoalan, meskipun pada madrasah swasta, terutama yang kekurangan Murid, tidak pernah menjadi persoalan.
Mengenai mutasi atau perpindahan murid, ada pedoman peraturan yang harus diikuti di antara lain menyangkut:
Pembatasan Wilayah
Murid tidak diperkenankan pindah dari sekolah ke sekolah lain dalam satu wilayah. Perpindahan antar wilayah bisa dibenarkan apabila didasarkan pada alasan yang cukup mendasar misalnya orang tua pindah tempat kerja dan anak ikut saudaranya dikota lain.
Status Sekolah
Murid dari sekolah swasta walaupun memiliki mutu yang lebih baik dari pada sekolah Negeri, tidak diperkenankan untuk pindah ke sekolah Negeri. Sekolah-sekolah Negeri hanya diperkenankan murid pindahan dari sekolah Negeri saja.
Jenis Sekolah
Sekolah Negeri atau sekolah menengah dapat dibedakan dalam dua jenis sekolah, yaitu sekolah- sekolah umum dan sekolah-sekolah kejuruan. Perpindahan murid dari lain jenis sekolah tidak diperbolehkan.
Pindah sekolah tidak naik kelas
Suatu madrasah tidak boleh menaikkan kelas seorang murid yang telah dinyatakan tidak naik kelas oleh sekolah/madrasah lain, walaupun sama-sama sebagai sekolah negeri. Menaikan kelas seorang murid yang telah dinyatakan tidak naik kelas oleh suatu sekolah mungkin saja terjadi di sekolah-sekolah swasta. Misalnya tidak naik kelas di sekolah negeri kemudian pindah di sekolah swasta sejenis dengan dinaikan kelasnya.
Dalam ketertiban pengadminsitrasian perpindahan murid (mutasi) MIN 2 Kulon Progo meyediakan buku mutasi murid. Buku ini merekap hasil mutasi secara detail, baik mutasi masuk maupun keluar. Jadi adanya buku mutasi akan akan sangat membantu tata kelola kemuridansDibuat buku mutasi yaitu buku yang dipergunakan untuk mencatat murid yang masuk, pindah dan keluar pada tiap-tiap bulan. Buku ini juga merupakan alat bantu untuk mengisi data mutasi pada buku induk dan data statistik tentang keadaan murid di madrash.
PERENCANAAN PEMBELAJARAN RUANG LINGKUP KELAS
Perencanaan pembelajaran ruang lingkup kelas yang akan digunakan oleh MIN 2 Kulon Progo terdiri beberapa aspek, yaitu:
Perencanaan Pembelajaran
Strategi Pembelajaran
Model Pembelajaran
Media Pembelajaran
Penilaian atau Asesmen Pembelajaran
Ketuntasan Hasil Pembelajaran
Penjelasan lebih lanjut dari aspek-aspek perencanaan pembelajaran ruang linkup kelas diatas akan tergambar pada penjelasan berikut :
Perencanaan Pembelajaran di Kelas
Dalam melaksanakan perencanaan pembelajaran di masing-masing kelas tahun ajaran 2026/2027, MIN 2 Kulon Progo memiliki beberapa perencanaan yang nantinya dapat diterapkan oleh madrasah atau guru. Perencanaan yang dilakukan di kelas berdasarkan prinsip pembelajaran paradigma baru antara lain:
Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian Murid saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan Murid yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan.
Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter Murid secara holistik.
Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya Murid, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.
Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.
Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran yang akan diterapkan oleh guru kelas dan guru mata pelajaran di MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 adalah sebagai berikut:
Koordinasi Persiapan Pembelajaran
Persiapan pembelajaran perlu dilakukan oleh guru mata pelajaran, baik yang mata pelajarannya terintegrasi secara materi maupun yang terintegrasi dalam bentuk Proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin. Kegiatan ini dilakukan untuk membuat kesepakatan terhadap jalannya proses pembelajaran, agar berjalan secara efektif dan sesuai dengan Alur Tujuan Pembelajaran.
Prosedur
Untuk prosedur pelaksanaan pembelajaran dalam 1 kali pertemuan standarnya adalah terdiri dari kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Setiap kegiatan memiliki komponen minimal yang harus dilaksanakan oleh guru namun guru diperbolehkan untuk menambah variasi agar pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan menarik selama tetap memperhatikan ketercukupan waktu pertemuan.
Kegiatan minimal yang harus dilaksanakan pada setiap langkah kegiatan pembelajaran diantaranya dapat terlihat dalam tabel berikut:
| No. | Kegiatan | Kegiatan Minimal yang dilakukan | Kegiatan Minimal yang dilakukan |
|---|---|---|---|
| 1. | Pembuka | 1. | Menyiapkan kondisi fisik dan psikis Murid |
| 1. | Pembuka | 2. | Menyampaikan tujuan pembelajaran |
| 1. | Pembuka | 3. | Memberikan apersepsi |
| 2. | Inti | 1. | Melaksanakan pembelajaran sesuai model pembelajaran yang dipilih. |
| 2. 3. 4. | Melakukan integrasi ketrampilan literasi, 4C (communication, Collaboration, Critical Thinking & Creativity) dan HOTS (Hight Order Thinking Skill) dalam pembelajaran. Melakukan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta Melakukan Integrasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) | ||
| 3. | Penutup | 1. | Melakukan refleksi |
| 3. | Penutup | 2. | Menyampaikan rencana tindak lanjut |
Model Pembelajaran
Standar model pembelajaran yang dipergunakan oleh MIN 2 Kulon Progo dipilih berdasar kebutuhan untuk memberikan pembelajaran yang bersifat inkuiri dan kontekstual dalam kegiatan inti pembelajaran yang diberikan pada Murid. Standar model pembelajaran di MIN 2 Kulon Progo yang rencana akan digunakan dalam kegiatan proses pembelajaran di antaranya :
Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang berbasis pada masalah, di mana masalah tersebut digunakan sebagai stimulus yang mendorong murid menggunakan pengetahuannya untuk merumuskan sebuah hipotesis, pencarian informasi relevan yang bersifat student-centered melalui diskusi dalam sebuah kelompok kecil untuk mendapatkan solusi dari masalah yang diberikan.
Tujuan yang ingin dicapai oleh PBL adalah kemampuan murid untuk berpikir kreatif, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah malalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Kekuatan atau manfaat utama penerapan model pembelajaran PBL adalah sebagai berikut.
Murid akan tertantang untuk menyelesaikan masalah yang akan membuat murid menjadi terbiasa menghadapi masalah.
Solidaritas sosial akan terpupuk dengan adanya diskusi dengan teman satu kelompok.
Guru dengan murid akan semakin akrab.
Murid akan terbiasa menerapkan metode eksperimen karena ada kemungkinan suatu masalah yang harus diselesaikan murid melalui eksperimen.
Project Based Learning (PjBL)
Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning atau PjBL) merupakan pendekatan yang menekankan proses belajar melalui eksplorasi, penelitian, dan penciptaan produk nyata. Dalam model ini, murid diberikan masalah kontekstual yang harus dipecahkan secara kolaboratif melalui serangkaian kegiatan yang mencerminkan kehidupan nyata. PjBL bertumpu pada ide bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika murid dilibatkan secara langsung dan aktif. PjBL tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa produk, tetapi juga menekankan pada proses pencarian, analisis informasi, kerja sama tim, dan refleksi atas pembelajaran. Model ini cocok untuk membangun keterampilan abad 21, seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kritis. Melalui proyek, murid dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran dan dunia nyata, sehingga motivasi belajar mereka meningkat.
Dalam konteks pendidikan formal, model pembelajaran ini mulai banyak diadopsi oleh sekolah-sekolah yang ingin bertransformasi dari sistem pembelajaran konvensional ke arah yang lebih inovatif. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing murid dalam menyelesaikan proyek mereka. Murid menjadi subjek aktif dalam proses pembelajaran.
Penerapan PjBL membutuhkan desain pembelajaran yang matang. Guru harus mampu memilih proyek yang relevan, menarik, dan sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Selain itu, waktu pelaksanaan dan instrumen penilaian juga harus dirancang secara detail agar proses belajar tetap terstruktur namun fleksibel. Hal ini menuntut guru untuk memiliki kreativitas dan keterampilan pedagogis yang tinggi.
Model pembelajaran berbasis proyek juga mendukung diferensiasi pembelajaran. Karena murid dapat memilih pendekatan atau tema proyek sesuai minat dan gaya belajarnya, maka potensi masing-masing individu bisa lebih berkembang. Dengan demikian, PjBL tidak hanya meningkatkan hasil akademik, tetapi juga membangun karakter murid melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Artinya, kelompok belajar yang disusun haruslah beragam dan tidak pandang bulu.
Pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif murid secara bersamaan. Selain itu, manfaat dan kelebihan dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
Murid yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.
Murid yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.
Melalui pembelajaran kooperatif, murid menjadi lebih peduli pada temantemannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif (interdependensi positif) untuk proses belajar mereka nanti.
Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan murid terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.
Discovery Learning
Model pembelajaran discovery learning adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan Murid untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.
Discovery learning merupakan model pembelajaran yang membantu Murid untuk mengalami dan menemukan pengetahuannya sendiri sebagai wujud murni dalam proses pendidikan yang memberikan pengalaman yang mengubah perilaku sehingga dapat memaksimalkan potensi diri. Model discovery learning lebih menekankan pada pengalaman langsung murid dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar.
Kelebihan model pembelajaran discovery learning adalah sebagai berikut.
Membantu Murid untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif.
Murid memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan mengendap dalam pikirannya.
Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar Murid untuk belajar lebih giat lagi;
Memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing;
Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada Murid dengan peran guru yang sangat terbatas.
Media Pembelajaran
Sebagai alat bantu proses pembelajaran, MIN 2 Kulon Progo menetapkan standar media pembelajaran yang akan digunakan. Standar media pembelajaran yang ditetapkan mengacu pada prinsip mengintegrasikan teknologi pada pembelajaran dan memberi pengalaman belajar yang kaya pada Murid di masing-masing kelas. Jenis standar media pembelajaran MIN 2 Kulon Progo dibedakan menjadi 2, yaitu media wajib dan media pilihan. Media wajib adalah media pembelajaran yang harus dipergunakan dalam setiap pembelajaran dan media pilihan adalah media pembelajaran yang boleh dipergunakan dalam pembelajaran jika diperlukan. Guru diperbolehkan menambah media pembelajaran lain jika dirasa perlu dengan tetap memperhatikan tujuan dan efektifitas pembelajaran.
Standar media pembelajaran MIN 2 Kulon Progo baik yang wajib atau yang pilihan dapat dilihat di tabel berikut:
| No. | Jenis | Media Pembelajaran | Media Pembelajaran |
|---|---|---|---|
| 1. | Wajib | 1. | Laptop |
| 1. | Wajib | 2. | Konten Belajar Digital |
| 2. | Pilihan | 1. | Alat Peraga |
| 2. | Pilihan | 2. | LCD Proyektor |
| 2. | Pilihan | 3. | Papan Tulis. |
| 4. | Video | ||
| 5. | Zoom | ||
| 6. | Internet | ||
| 7. | Dll. |
Penilaian atau Asesmen Pembelajaran
Pelaksanaan penilaian atau asesmen pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru kelas maupun guru mata pelajaran di MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027 terbagi menjadi 3 (tiga) jenis asesmen, antara lain:
Asesmen Diagnostik
Assessmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui informasi kognitif dan non kognitif. Guru melaksanakan assessment diagnostik kognitif secara lisan dan tulis, baik diawal tahun pelajaran maupun akhir pekan untuk memetakan kemampuan dasar Murid dalam memahami materi.
Asesmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui informasi kognitif dan non kognitif. Guru melaksanakan asesmen diagnostik kognitif secara lisan dan tulis, baik diawal tahun pelajaran maupun akhir pekan untuk memetakan kemampuan dasar Murid dalam memahami materi. Assessment diagnostik nonkognitif digunakan untuk menegathui informasi terkait dengan gaya belajar, bakat, minat, senin, karakter Murid. Guru melakukan di awal tahun ajaran baru maupun akhir pekan baik secara lisan maupun tulis.
Asesmen Formatif
Asesmen formatif dilaksanakan guru dengan menggunakan berbagai instrument, baik tes tulis, tes lisan, praktik, proyek, portofolio, penugasan. Hasil kegiatan tersebut digunakan oleh guru untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sedangkan oleh Murid digunakan sebagai bahan refleksi.
Asemen Sumatif
Assessmen Sumatif dilakukan di akhir tema, bab, unit, lingkup materi. Instrument yang digunakan adalah tes lisan, tes tulis, praktik, dan proyek. Jenis yang digunakan adalah penilaian harian (PH), asesmen akhir semester (ASAS), asesmen akhir tahun (ASAT). Nilai tersebut digunakan untuk pelaporan hasil belajar (raport).
Ketuntasan Hasil Pembelajaran
Untuk mengetahui apakah Murid telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, pembelajaran ataupun modul ajar.
Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/didemonstrasikan Murid sebagai bukti bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran Lingkup Kelas tak lepas dari dua hal penting, yaitu pengaturan kelas dan pengelolaan pembelajaran kelas. Pengaturan kelas lebih mengedapankan pada manajemen sarana prasarana, terkait pemetaan tata letak kelas melihat segi ketersediaan lahan, ketercukupan, maupun keamanan. Sedang pengelolaan pembelajaran kelas lebih menjadi wewenang guru kelas dalam mengatur kelas dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penjelasan lebih terakit pengaturan kelas dan pengelolaan pembelajar di kelas disampaikan berikut ini
Pengaturan Kelas
Mengatur lingkungan fisik bagi pengajaran merupakan titik mula yang logis untuk pengelolaan ruang kelas karena hal ini merupakan subuah tugas yang dihadapi semua guru sebelum kegiatan kelas dimulai. Banyak guru merasa lebih mudah merencanakan aspek pengelolaan kelas non-fisik dibandingkan harus mengatur lingkungan kelas dalam mendukung dan mencapai tujuan pembelajaran.
Pengaturan ruang kelas merupakan bentuk dari kemampuan guru dalam memanajemen kelas dan menciptakan iklim pembelajaran yang baik bagi murid. Ruang kelas bukanlah wilayah yang sangat luas bagi murid hingga puluhan orang berinteraksi selama periode waktu yang lama selama 5-8 jam sehari. Guru dan murid akan selalu terlibat dalam berbagai kegiatan dalam menggunakan berbagai wilayah ruang yang berbeda dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru akan selalu memfasilitasi kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan baik jika guru mengatur ruang kelas untuk memungkinkan pergerakan yang teratur, mempertahankan distraksi seminimal mungkin, dan menggunakan ruang yang tersedia secara efisien.
Untuk pengaturan kelas di MIN 2 Kulon Progo tersaji seperti gambar denah berikut.
Denah Ruang Kelas MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027
Keterangan :
Pengelolaan Pembelajaran di Kelas
Pembelajaran Esensial
Pembelajaran esensial merupakan pola pembelajaran dasar yang sangat penting dan fundamental dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pembelajaran esensial membantu para guru untuk membuat proses pembelajaran agar lebih fokus pada Murid. Pembelajaran esensial fokus pada materi esensial, dan ini menjadi karakteristik dari Kurikulum Merdeka. Materi esensial yang ada dalam konteks ini yaitu literasi dan numerasi. Melihat fokus pada materi tersebut, menunjukkan bahwa pada kurikulum ini fokus utama adalah pada kualitas dan bukannya kuantitas. Hal tersebut juga berhubungan erat dengan capaian pembelajaran Murid.
Pembelajaran esensial yang fokus pada materi esensial akan berpengaruh pada adanya pengurangan materi pelajaran atau pokok bahasa. Dengan adanya pengurangan materi pelajaran ini guru tidak perlu mengajar dengan tergesa-gesa agar bisa mencapai target tujuan yang ada.
Manfaat pembelajaran esensial dengan materi esensial adalah sebagai berikut.
Membantu murid fokus pada pemahaman mendalam.
Mengorganisis pembelajaran yang fokus pada murid.
Membantu murid agar bisa mendapatkan pengajaran yang terbaik.
Memberikan pembelajaran yang efektif dan tidak tergesa-gesa.
Membantu guru dalam menyampaikan materi lebih leluasa.
Pembelajaran Adaptif
Pembelajaran adaptif adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan teknologi untuk secara otomatis menyesuaikan konten, urutan, dan metode penyampaian materi pembelajaran berdasarkan kinerja, preferensi, dan gaya belajar setiap murid. Sistem ini memantau kemajuan murid secara real-time, mendeteksi area yang perlu ditingkatkan, dan memberikan umpan balik yang personal. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan efektivitas belajar dengan memberikan pengalaman belajar yang terpersonalisasi dan efisien bagi setiap individu. Berbeda dengan pembelajaran tradisional yang cenderung seragam, pembelajaran adaptif bersifat dinamis dan fleksibel, menyesuaikan diri dengan perkembangan masing-masing murid. Intinya, sistem ini berusaha menciptakan lingkungan belajar yang optimal bagi setiap murid untuk mencapai potensi maksimalnya.
Pembelajaran adaptif bukan hanya tentang menyesuaikan tingkat kesulitan materi, tetapi juga tentang menyesuaikan metode penyampaian dan jenis aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing murid. Sistem ini juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti motivasi dan kebutuhan emosional murid untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
Sistem pembelajaran adaptif umumnya menggunakan algoritma kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk menganalisis data murid. Data ini bisa meliputi:
Kinerja murid: Skor tes, waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan tugas, tingkat keakuratan jawaban, dan pola kesalahan.
Preferensi murid: Gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), kecepatan belajar, dan topik yang disukai.
Umpan balik murid: Respon murid terhadap materi, pertanyaan, dan aktivitas belajar.
Berdasarkan analisis data tersebut, sistem pembelajaran adaptif akan:
Menyesuaikan konten: Memberikan materi yang sesuai dengan tingkat pemahaman murid, mulai dari materi pengayaan hingga materi remedial.
Mengatur urutan materi: Menyusun urutan materi yang optimal berdasarkan kemajuan belajar murid.
Memilih metode penyampaian: Menggunakan metode penyampaian yang sesuai dengan gaya belajar murid, misalnya video, teks, simulasi, atau permainan.
Memberikan umpan balik personal: Memberikan umpan balik yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan murid, bukan hanya sekedar nilai atau skor.
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada kaitan antara materi yang dipelajari dengan kondisi di kehidupan nyata yang bisa dilihat dan dianalisis oleh Murid. Artinya, saat kegiatan pembelajaran berlangsung murid seolah bisa merasakan dan melihat langsung aplikasi nyata materi yang sedang dipelajari. Pembelajaran yang berarti dan efektif terjadi ketika muriddapat melihat hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan pengalaman dan konteks mereka sehari-hari.
Dalam model pembelajaran kontekstual, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid menjembatani hubungan antara materi pelajaran dan kehidupan mereka. Hal ini melibatkan penyajian materi pembelajaran dalam konteks yang relevan dan menggugah minat murid. Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar murid, mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta membentuk karakter murid yang positif. Pendekatan ini dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dengan berbagai cara yang kreatif dan inovatif.
Beberapa prinsip pembelajaran kontekstual: 1) Relevansi: Materi pembelajaran harus relevan dengan kehidupan sehari-hari murid, 2) Keterkaitan: Materi pembelajaran harus saling berkaitan satu sama lain, 3) Aktif: Murid harus aktif dalam proses pembelajaran, 4) Bermakna: Murid harus dapat memahami makna dari materi pembelajaran yang dipelajari, dan 5)
Autentik: Kegiatan pembelajaran harus bersifat autentik, yaitu berkaitan dengan dunia nyata.
Adapun manfaat metode pembelajaran ini bagi Murid adalah sebagai berikut.
Meningkatkan kemampuan Murid untuk berpikir secara kritis, logis, dan sistematis.
Pemahaman yang diperoleh Murid bisa bertahan lebih lama karena memahami dengan menerapkan.
Murid bisa lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Meningkatkan kreativitas Murid berkaitan dengan permasalahan yang ada di sekitar yang disesuaikan dengan keilmuan yang didapatkan.
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful learning), bermakna (meaningful learning), dan menggembirakan (joyful learning) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Dalam penerapan Pembelajaran Mendalam semua pihak yang terlibat saling menghargai dan menghormati dengan mempertimbangkan potensi, martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Deep learning mendorong pembelajaran mampu memuliakan manusia dengan segala perbedaan kemampuan dan keahliannya.
Metode ini berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kemampuan analisis, dan kreativitas, dengan tujuan menciptakan pemahaman yang lebih holistik. Dalam pendekatan ini, murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif dalam membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman belajar yang memacu mereka untuk berpikir secara mandiri dan bekerja sama. Pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis inkuiri, studi kasus, dan simulasi kehidupan nyata merupakan metode turunan dari pendekatan ini. Pendekatan ini tidak hanya mengembangkan pengetahuan mereka tentang topik tersebut, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan dunia nyata.
Meaningful Learning
Meaningful learning atau pembelajaran bermakna adalah pendekatan yang menekankan pentingnya keterkaitan antara pengetahuan baru dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki murid sebelumnya. Tujuan utama dari pembelajaran bermakna adalah agar murid dapat melihat bagaimana materi yang dipelajari relevan dengan kehidupan mereka, sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan signifikan.
Mindful Learning
Mindful learning atau pembelajaran dengan kesadaran penuh menuntut murid untuk terlibat sepenuhnya dalam proses belajar dengan perhatian yang utuh. Pembelajaran ini tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga memberi perhatian besar pada proses yang dilalui murid.
Dalam mindful learning, murid diminta untuk fokus, melibatkan diri secara mental dan emosional, serta memberi perhatian penuh terhadap materi yang sedang dipelajari tanpa terganggu oleh faktor eksternal. Pembelajaran ini mengajarkan pentingnya kesadaran dan refleksi dalam belajar.
Joyful Learning
Joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang positif dan penuh motivasi. Dalam pendekatan ini, murid belajar dalam suasana yang tidak menakutkan dan justru menggairahkan mereka untuk lebih aktif terlibat. Pembelajaran yang menyenangkan melibatkan aktivitas yang interaktif, eksploratif, dan kolaboratif, yang mampu menumbuhkan semangat belajar dan meningkatkan keterlibatan murid. Dengan suasana yang menyenangkan, murid lebih termotivasi dan merasa lebih nyaman dalam belajar.
Deep learning memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari pendekatan pembelajaran lainnya.
Pembelajaran berbasis eksplorasi, belajar aktif, dan berbasis konsep.
Mendorong kolaborasi rasa ingin tahun dan berpikir kritis.
Buku teks adalah salah satu sumber pengetahuan.
Multidisiplin
Dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid.
Kelas bersifat heterogen.
Asesmen autentik, berbasis kinerja.
Sekolah adalah tentang perkembangan akademik, sosial, dan emosional.
Guru mengajar dan merencanakan pembelajaran dalam tim.
Pembelajaran merupakan aktivitas kolaboratif.
Penerapan deep learning dalam pendidikan membawa banyak manfaat bagi murid. Salah satu kelebihannya adalah memperkuat keterampilan berpikir kritis dan analitis. Dengan metode ini, murid dilatih untuk menilai informasi secara lebih mendalam dan mengidentifikasi solusi berdasarkan data serta fakta yang ada, bukan hanya menerima informasi secara pasif. Ini membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara objektif dan membuat keputusan yang lebih tepat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, deep learning memungkinkan murid untuk menghubungkan pengetahuan teoretis dengan penerapan nyata
Kurikulum Berbasis Cinta
Kurikulum Berbasis Cinta sebagai sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitik beratkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, dan perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan. Melalui Kurikulum ini diharapkan melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.
Kurikulum Berbasis Cinta mengambil posisi sebagai jiwa (soul) dari seluruh penyelenggaraan pendidikan dan pemhelajaran pada implementasi Kurikulum Nasional. Adapun materi pokok Kurikulum Berbasis Cinta meliputi:
Cinta kepada Allah SWT (Hubbullah)
Membentuk kecintaan mendalam kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara. Cinta kepada Allah sebagai muara munculnya cinta pada makhluk-Nya.
Cinta kepada Rasulullah (Hubburrasul)
Meneladani akhlak mulia Rasulullah SWA sebagai teladan cinta kasih.
Cinta kepada Diri Sendiri (Hubbunnafs)
Membentuk karakter dnegan membiasakan menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri.
Cinta kepada Sesama (Hubbunnaas)
Menanamkan empati dan toleransi terhadap sesama manusia (orang tua, guru, saudara, tetangga, teman, dan sesama umat beragama maupun antar umat agama)
Cinta kepada Lingkungan (Hubbulbiah)
Menanamkan kesadaran untuk menjaga alam dan lingkungan sebagai amanah Allah SWT.
Cinta kepada Bangsa dan Negara (Hubbul wathan wal bilad) Menumbuhkan semangat cinta tanah air sebagai bagian dari iman
Kurikulum berbasis Cinta dikembangkan dengan prinsip: 1) pendidikan berbasis nilai, 2) pengembangan karakter, 3) pendekatan holistik, 4) keterlibatan komunitas, 5) pembelajaran berbasis pengalaman, 6) dialog dan komunikasi terbuka, 7) kreativitas dan inovasi, dan 8) evaluasi berbasis proses. Adapaun pendekatan dan strategi penerapan Kurikulum Berbasis Cinta melalui:
Reflective Learning
Penekanan lebih apda analisis, pemaknaan, konsolidasi, evaluasi diri, dna tindak lanjut terkait pelaksanaan pembelajaran.
Multikultural
Pengakuan terhadap keragaman budaya, kesetaraan, toleransi dan kasih sayang, inklusi dan partisipasi aktif.
Partisipatif dan Kolaboratif
Keterlibatan aktif, kolaborasi, refleksi, kritis, dan demokratis dan inklusif dari pelaku pembelajaran, baik guru, murid, dan aktivitas selama proses KBM.
Humanistik dan Pendidikan Karakter
Lebih kepada pembentukan moral, pengembangan kepribadian, membangun kompetensi sosial.
Integratif
Pembelajaran menyajikan konsep dari berbagai bidang studi, student centered, dan memberikan pengalaman langsung kepada murid.
Keteladanan (Qudwah)
Bagaimana ucapan, sikap dan perilaku menjadi cerminan dari pembiasaan positif yang menumbuhkembangkan karakter baik dan positif.
Kurikulum Berbasis Cinta bisa diimplementasikan dengan lebih terarah dan terukur dengan capaian proses belajar yang mampu memenuhi 3 pilar utama yaitu meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning, melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga apabila model pembelajaran yang digunakan tepat. Adapaun model pembelajaran yang dikembangkan dan diimplementasikan dalam Kurikulum Berbasis Cinta antara lain:
Pembelajaran Berbasi Projek (Project Based Learning)
Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)
Pembelajaran Penyelidikan (Inquiry Learning)
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran LOK-R (Literasi, Orientasi, Kolaborasi, dan Refleksi)
BAB IV
PENDAMPINGAN, EVALUASI, DAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL
PENDAMPINGAN
Pelaksanaan pendampingan MIN 2 Kulon Progo dilakukan secara internal oleh madrasah untuk memastikan pembelajaran berjalan sesuai rencana untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Proses ini dikelola oleh kepala madrasah dan atau guru yang dianggap sudah mampu untuk melakukan peran ini. Pendampingan dilakukan secara bertahap dan mandiri agar terjadi peningkatan kualitas secara berkelanjutan di madrasah, sesuai dengan kemampuan madrasah. Dalam melakukan pendampingan dan pengembangan professional ditekankan pada prinsip reflektif dan pengembangan diri bagi guru, serta menggunakan alat penilaian yang jelas dan terukur.
Proses pendampingan dirancang sesuai kebutuhan dan dilakukan oleh kepala madrasah dan atau guru yang berkompetensi berdasarkan hasil pengamatan atau evaluasi. Proses pendampingan dan pengembangan professional ini dilakukan melalui :
Program regular supervisi madrasah, yang dilakukan minimal dua kali dalam satu semester oleh kepala madrasah.
Kegiatan Kelompok Kerja Guru MIN 2 Kulon Progo, yang dilaksanakan sesuai program kerja KKG secara reguler, seperti kegiatan mingguan untuk pendampingan penyusunan atau revisi alur tujuan pembelajaran dan modul ajar. Kegiatan ini merupakan pendampingan oleh kepala madrasah dan guru yang berkompetensi.
Pelaksanaan In-House Training (IHT) atau Focus Group Discussion (FGD), dilakukan minimal enam bulan sekali atau sesuai kebutuhan dengan mengundang narasumber yang berkompeten, instansi terkait dan praktisi pendidikan.
EVALUASI
Evaluasi Kurikulum MIN 2 Kulon Progo secara reguler dilaksanakan secara bertahap yaitu jangka pendek satu tahun sekali dan jangka panjang 4 tahun sekali dengan mempertimbangkan perubahan yang terjadi baik perubahan kebijakan maupun update perkembangan terkini dalam proses pembelajaran. Evaluasi kurikulum dilakukan berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang dilakukan secara reflektif, yaitu:
Evaluasi Harian, dilakukan secara individual oleh guru setelah pembelajaran berdasarkan catatan anekdot selama proses pembelajaran, penilaian dan refleksi ketercapaian tujuan pembelajaran. Hasil evaluasi ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran atau modul ajar pada hari berikutnya.
Evaluasi Per Unit Belajar, dilakukan secara kelompok (team teaching) setelah satu unit pembelajaran atau tema modul ajar pada selesai. Hasil ini digunakan untuk merefleksikan proses belajar, ketercapaian tujuan dan melakukan perbaikan maupun penyesuaian terhadap proses belajar dan perangkat ajar, yaitu alur tujuan pembelajaran dan modul ajar.
Evaluasi Per Semester, dilakukan secara kelompok (team teaching) setelah satu semester selesai. Evaluasi ini dilakukan berdasarkan refleksi pembelajaran dan hasil asesmen Murid yang telah disampaikan pada laporan hasil belajar Murid.
Evaluasi Per Tahun, merupakan refleksi ketercapaian profil lulusan, tujuan madrasah, misi dan visi madrasah.
Pelaksanaan evaluasi kurikulum MIN 2 Kulon Progo dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikulum Madrasah bersama pengawas madrasah, kepala madrasah dan komite madrasah serta pihak lainnya yang telah mengadakan kerja sama dengan madrasah. Evaluasi dilaksanakan berdasarkan data yang telah dikumpulkan pada evaluasi pembelajaran, hasil supervisi kepala madrasah, laporan kegiatan Kelompok Kerja Guru, hasil kerja Murid dan kuesioner Murid dan orang tua. Informasi yang berimbang dan berdasarkan data tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan madrasah kepada Murid, peningkatan prestasi dan hubungan kerja sama dengan pihak lain. Fokus evaluasi pada Implementasi Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Madrasah adalah: ketercapaian Capaian Pembelajaran (CP), hasil penilaian atau Asesmen, kualitas pengajaran, dan keterlaksanaan Program.
PENGEMBANGAN PROFESIONAL
Pelaksanaan pengembangan profesional ditekankan pada prinsip reflektif dan pengembangan diri bagi pendidik, serta menggunakan alat penilaian yang jelas dan terukur. Kepala madrasah merancang dan melakukan proses pengembangan profesional sesuai kebutuhan sebagai tindak lanjut dari hasil pengamatan dan evaluasi dengan melibatkan pengawas madrasah. Program pengembangan profesionalitas MIN 2 Kulon Progo dilakukan melalui beberapa kegiatan sebagaimana yang akan dijelaskan pada tabel berikut.
Pengembangan Profesional MIN 2 Kulon Progo Tahun Ajaran 2026/2027
| No. | Bentuk Pengembangan | Jenis Kegiatan | Jenis Kegiatan | Jenis Kegiatan | Waktu Pelaksanaan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Coaching Proses pendampingan untuk mencapai tujuan dengan menggali pemikiran-pemikiran seseorang terhadap suatu masalah | 1. | Pendampingan pembelajaran | Pendampingan pembelajaran | Satu bulan sekali |
| 1. | Coaching Proses pendampingan untuk mencapai tujuan dengan menggali pemikiran-pemikiran seseorang terhadap suatu masalah | 2. | Pendampingan individu | Pendampingan individu | Satu bulan sekali |
| 2. | Mentoring Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 1. | Supervisi klinis Kepala Madrasah | Supervisi klinis Kepala Madrasah | Satu bulan sekali |
| 2. | Mentoring Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 2. | Supervisi klinis pengawas madrasah | Supervisi klinis pengawas madrasah | Dua bulan sekali |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 1. | Pelatihan pengembangan CP menjadi ATP | Pelatihan pengembangan CP menjadi ATP | Januari 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 2. | Pengembangan Modul Ajar | Pengembangan Modul Ajar | Februari 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 3. | Pengembangan modul proyek | Pengembangan modul proyek | Maret 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 4. | Pelatihan penilaian dalam kurikulum merdeka | Pelatihan penilaian dalam kurikulum merdeka | Maret-April 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 5. | Pengembangan media pembelajaran | Pengembangan media pembelajaran | Agustus 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 6. | Pelatihan pustakawan/ operator madrasah | Pelatihan pustakawan/ operator madrasah | Juli 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | 7. | Pendampingan penanggung jawab ekstrakurikuler | Pendampingan penanggung jawab ekstrakurikuler | Juli 2026 |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | * | Pramuka | Juli 2026 | |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | * | Olah raga | Juli 2026 | |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | * | Kesenian | Juli 2026 | |
| 3. | Pelatihan Proses pendampingan dengan Berbagi pengalaman/ pengetahuan untuk mengatasi suatu kendala | * | Keagamaan | Juli 2026 |